Dan EURO 2004 pun Telah Berakhir di Inggris
Ketika bendera-bendera itu tidak lagi dikibarkan
Jawa Pos,26 Juni 2006
Nurani Susilo. London
Gary, tetangga koran ini di London memasang bendera st George Cross di jendela depan dan belakang rumahnya, serta juga di mobilnya yang tampak robek karena terpaan angin kencang yang beberapa hari ini menerpa London.
Kemarin pagi, bendera di jendela Gary tidak tampak lagi. Bendera di mobilnya pun diturunkan, dan alasannya bukan karena bendera itu robek. Tetapi karena bagi Gary, juga warga Inggris lain Euro 2004 telah berakhir kemarin malam waktu Inggris. Kembali, pesta sepakbola di Inggris harus berakhir cepat secara dramatis.
Piala Dunia 1990 dan 1988, dan Piala Eropa 1996 pesta di Inggris berhenti karena tendangan penalti. Sejarah tampaknya berulang, untuk keempat kalinya tim Inggris kembali pulang karena kalah melalui tendangan penalti. "Kekalahan dengan cara ini adalah kekecewaaan besar, tetapi sepertinya ini selalu dialami Inggris," kata Michael Owen juga mewakili kekecewaaan Inggris.
Di Inggris, meskipun kecewa dengan keputusan wasit yang menganulir gol Sol Cambell dimenit-menit terakhir pertandingan, Urs Meier, wasit itu tidak lah dijadikan kambing hitam kepulangan tim mereka. Juga bukan gagalnya penalti David Beckham apalagi Darius Vassel. Inggris kalah karena tidak menampilkan permainan terbaiknya, end of story.
"Jika kalah melalui penalti adalah kejam bagi Inggris, maka akan lebih jauh lebih kejam jika Portugal kalah dalam pertandingan itu". Begitu kesimpulan The Times, salah satu koran bergengsi di Inggris. Demikian juga pendapat the Guardian atau pun BBC yang mengakui bahwa Portugal berhak untuk menang. Hanya tabloid seperti the Sun dan juga the Mirror yang menjadikan wasit asal Swiss dan David Beckham sebagai headline mereka.
"Ada kalanya Inggris sepertinya bermain melawan 12 orang, satunya berasal dari Swiss (wasit) ,?" begitu pertanyaan BBC usai pertandingan. "Saya tidak akan berkomentar tentang itu. Meskipun kita tidak beruntung dengan apa yang terjadi di pertandingan itu, tapi begitu lah sepakbola," jawabnya.
Kehilangan Wayne Rooney, pemain Inggris paling cemerlang di Euro 2004 itu pun tidak pula dijadikan alasan bagi Sven Goran Eriksson. "Saya tidak akan menyatakan bahwa kita akan memenangkan pertandingan seandainya Rooney tidak cedera," kata pelatih asal swedia yang di dukung media-media Inggris untuk tetap menjadi manajer sampai Piala Dunia 2006 mendatang.
"Kali ini Sven Goran Eriksson akan membalas Luiz Filipe Scholari, karena berbeda dengan Piala Dunia 2002 Inggris punya Wayne Rooney". Begitu salah satu keyakinan di Inggris sebelum pertandingan melawan Portugal, mengenang kekalahan Inggris di perempat final Piala Dunia dari Brazil, tim yang juga dibawah asuhan Scolari.
Ternyata, Sven kembali tampil tanpa Rooney yang cedera dimenit ke-27 (hasil scan memperlihatkan cedera tulang metatarsal, seperti yang dialami Beckham menjelang Piala Dunia 2002). Namun, bukan itu pula penyebab utama skor 2-0 bagi kedua manajer. Tim Scolari kembali mengalahkan tim Eriksson karena anak-anak asuh manajer asal Brazil itu bermain dengan lebih baik, secara teknik dan juga semangat tinggi.
Kini, jika Anda berkunjung ke London serta wilayah Inggris yang lain tidak ada lagi gegap gempita Piala Eropa. Suasana berkabung akan begitu terasa dalam beberapa hari ini, dan tidak akan cepat bisa dilupakan. Seperti juga Inggris belum bisa melupakan kekalahan-kekalahan timnya di turnamen besar sebelumnya.
Gary, tetangga saya, tidak akan lagi tergesa-gesa pulang dari kantornya untuk bisa sampai di rumah ketika tim kesayangannya bertanding di pk. 17.00 atau 19.45 waktu Inggris. Bagi bapak satu anak itu, EURO 2004 telah berakhir ketika Ricardo menjebol gawang David James. Dan di Inggris Gary tidak lah sendirian, ada jutaan Gary yang lain yang kini tidak lagi peduli dengan apa yang sedang terjadi di Portugal.
Ritual Inggris ini akan diulang lagi nanti pada tahun 2006 saat Piala Dunia di Jerman. Bendera-bendera milik Gary akan kembali di kibarkan, tentu saja dengan harapan bisa terus berkibar sampai babak final.***
Monday, July 12, 2004
"Zizou Watch Out, Kita Bertemu Lagi di Final" Mengandalkan Internet, Senang Croatia Tidak Menang
Jawa Pos,19 Juni 2004
Nurani Susilo, London
Pk.16.15 waktu Inggris ketika sebuah email muncul di minute by minute laporan pertandingan di website the Guardian, "Saya ingin tahu, adakah pembaca yang punya ide bagaimana untuk bisa keluar dari kantor saat seperti ini,"tanya Peter Newman yang tidak bisa menonton tim Inggris karena jam kantornya belum usai. "Karena terjun dari lantai dua bangunan gedung ini tampaknya terlalu berlebihan meskipun bagi fans Inggris yang paling fanatik," katanya melalui email kepada the Guardian.
Peter Newman tidak lah sendirian, banyak warga Inggris yang terpaksa tidak bisa menonton pertandingan tim kesayangannya karena pertandingan melawan Swiss itu dimulai pk. 17.00 waktu Inggris. Artinya, masih jam kerja untuk sebagian kantor di Inggris, meskipun ada beberapa kantor yang punya kebijakan mengijinkan karyawannya untuk pulang lebih awal agar bisa menonton pertandingan dimana Inggris tidak boleh kalah.
Walhasil, Peter dan fans Inggris lain yang bernasib tidak beruntung itu mengandalkan internet di komputer mereka untuk mengikuti laporan menit per menit pertandingan yang dilakukan oleh media-media Inggris seperti BBC, the Guardian serta the Times. "Tuhan memberkati kalian yang berada di redaksi olahraga," begitu bunyi email dari Vesna Pavlovic. "Karena satu-satunya cara saya menonton pertandingan ini adalah dengan memencet tombol refresh di komputer untuk melihat hasil pekerjaan kalian," katanya.
Namun suasana pertandingan yang tidak mengenakan tersebut justru menghasilkan skor yang menggembirakan semua orang di Inggris. Meskipun dikatakan bermain jelek, Inggris memenangkan pertandingan melawan Swiss dengan skor 3-0. David Beckham dkk naik ke posisi kedua grup dan tidak jadi pulang awal menyusul tim Rusia.
Sebelum pertandingan pendukung di Inggris begitu nervous takut timnya kalah, ingatan kekalahan dengan Prancis di menit-menit terakhir- meskipun tim st Geroge Cross bermain bagus -benar-benar menghantui mereka. Apalagi dengan kenyataan jika Inggris kalah, maka tim asuhan Sven Goran Eriksson itu harus angkat kopor dari Portugal.
Ketakutan itu semakin diperparah karena ada tradisi buruk bahwa setiap kali pertandingan timnas Inggris di turnamen besar di siarkan ITV, tidak pernah menang sejak Euro 1996. Bukti terakhir adalah pertandingan melawan Prancis hari Sabtu lalu, akhirnya tetap kalah meskipun di menit menjelang peluit dibunyikan. Maka ketika partai Inggris-Swiss ini juga dipegang ITV (selama Euro 2004 ITV berbagi siaran dengan BBC) maka ketakutan timnya akan kalah semakin menjadi di Inggris.
Penonton di Inggris paling tegang ketika di menit ke-44 babak pertama, Swiss diganjar free kick. Ingatan tendangan bebas Zinadine Zidane yang menyamakan kedudukan di pertandingan sebelumnya masih berbekas nyata. Untung nasib buruk itu tidak berulang lagi melawan Swiss.
Usai pertandingan, ketegangan di Inggris belum juga reda karena menunggu hasil pertandingan Prancis melawan Kroatia, karena penampilan Kroatia yang bagus. Jika Prancis kalah maka Inggris harus mengalahkan Kroatia Senin depan untuk bisa lolos ke babak selanjutnya. Dengan asumsi Swiss kemudian dikalahkan Prancis, yang melihat penampilan mereka di dua pertandingan sebelumnya, kemungkinannya terlihat besar.
"Demi Tuhan, mengapa Swiss yang lolos kualifikasi dan bukan Republik Irlandia," begitu penyesalan di Inggris melihat penampilan buruk Swiss yang membuat Prancis tampaknya akan dengan mudah mengalahkan mereka. Kalau saja yang lolos Republik Irlandia yang diperkuat oleh Roy Keane maka mengalahkan Prancis menjadi lebih memungkinkan, begitu perhitungan Inggris dalam skenario Kroatia mengalahkan Prancis. Baru ketika gol kedua Prancis melalui David Trezeguet membobol gawang Kroatia, publik Inggris lega.
Dengan hasil itu maka Inggris hanya butuh seri di pertandingan terakhir grup untuk lolos ke putaran berikutnya. Tidak hanya Beckham dkk yang kepercayaan dirinya meningkat usai kemenangan 3-0 melawan Swiss, publik Inggris pun demikian. "Saya harap tim Inggris telah selesai mandi dan ikut menonton pertandingan Croatia-Prancis," tulis Adrian Coleman. "Meskipun Inggris bermain buruk, tetapi tetapi kemenangan 3-0 membuktikan sesuatu," tambahnya.
Akhirnya, ia dan juga pendukung Inggris yang lain yakin adanya prospek untuk membalas kekalahan menyakitkan timnya dengan Prancis. "Zizou (panggilan Zinadine Zidane) Watch out! Kita akan bertemu lagi di final,"tantang Andrian Coleman yang tentu didukung fans Inggris dimana pun berada.***
Jawa Pos,19 Juni 2004
Nurani Susilo, London
Pk.16.15 waktu Inggris ketika sebuah email muncul di minute by minute laporan pertandingan di website the Guardian, "Saya ingin tahu, adakah pembaca yang punya ide bagaimana untuk bisa keluar dari kantor saat seperti ini,"tanya Peter Newman yang tidak bisa menonton tim Inggris karena jam kantornya belum usai. "Karena terjun dari lantai dua bangunan gedung ini tampaknya terlalu berlebihan meskipun bagi fans Inggris yang paling fanatik," katanya melalui email kepada the Guardian.
Peter Newman tidak lah sendirian, banyak warga Inggris yang terpaksa tidak bisa menonton pertandingan tim kesayangannya karena pertandingan melawan Swiss itu dimulai pk. 17.00 waktu Inggris. Artinya, masih jam kerja untuk sebagian kantor di Inggris, meskipun ada beberapa kantor yang punya kebijakan mengijinkan karyawannya untuk pulang lebih awal agar bisa menonton pertandingan dimana Inggris tidak boleh kalah.
Walhasil, Peter dan fans Inggris lain yang bernasib tidak beruntung itu mengandalkan internet di komputer mereka untuk mengikuti laporan menit per menit pertandingan yang dilakukan oleh media-media Inggris seperti BBC, the Guardian serta the Times. "Tuhan memberkati kalian yang berada di redaksi olahraga," begitu bunyi email dari Vesna Pavlovic. "Karena satu-satunya cara saya menonton pertandingan ini adalah dengan memencet tombol refresh di komputer untuk melihat hasil pekerjaan kalian," katanya.
Namun suasana pertandingan yang tidak mengenakan tersebut justru menghasilkan skor yang menggembirakan semua orang di Inggris. Meskipun dikatakan bermain jelek, Inggris memenangkan pertandingan melawan Swiss dengan skor 3-0. David Beckham dkk naik ke posisi kedua grup dan tidak jadi pulang awal menyusul tim Rusia.
Sebelum pertandingan pendukung di Inggris begitu nervous takut timnya kalah, ingatan kekalahan dengan Prancis di menit-menit terakhir- meskipun tim st Geroge Cross bermain bagus -benar-benar menghantui mereka. Apalagi dengan kenyataan jika Inggris kalah, maka tim asuhan Sven Goran Eriksson itu harus angkat kopor dari Portugal.
Ketakutan itu semakin diperparah karena ada tradisi buruk bahwa setiap kali pertandingan timnas Inggris di turnamen besar di siarkan ITV, tidak pernah menang sejak Euro 1996. Bukti terakhir adalah pertandingan melawan Prancis hari Sabtu lalu, akhirnya tetap kalah meskipun di menit menjelang peluit dibunyikan. Maka ketika partai Inggris-Swiss ini juga dipegang ITV (selama Euro 2004 ITV berbagi siaran dengan BBC) maka ketakutan timnya akan kalah semakin menjadi di Inggris.
Penonton di Inggris paling tegang ketika di menit ke-44 babak pertama, Swiss diganjar free kick. Ingatan tendangan bebas Zinadine Zidane yang menyamakan kedudukan di pertandingan sebelumnya masih berbekas nyata. Untung nasib buruk itu tidak berulang lagi melawan Swiss.
Usai pertandingan, ketegangan di Inggris belum juga reda karena menunggu hasil pertandingan Prancis melawan Kroatia, karena penampilan Kroatia yang bagus. Jika Prancis kalah maka Inggris harus mengalahkan Kroatia Senin depan untuk bisa lolos ke babak selanjutnya. Dengan asumsi Swiss kemudian dikalahkan Prancis, yang melihat penampilan mereka di dua pertandingan sebelumnya, kemungkinannya terlihat besar.
"Demi Tuhan, mengapa Swiss yang lolos kualifikasi dan bukan Republik Irlandia," begitu penyesalan di Inggris melihat penampilan buruk Swiss yang membuat Prancis tampaknya akan dengan mudah mengalahkan mereka. Kalau saja yang lolos Republik Irlandia yang diperkuat oleh Roy Keane maka mengalahkan Prancis menjadi lebih memungkinkan, begitu perhitungan Inggris dalam skenario Kroatia mengalahkan Prancis. Baru ketika gol kedua Prancis melalui David Trezeguet membobol gawang Kroatia, publik Inggris lega.
Dengan hasil itu maka Inggris hanya butuh seri di pertandingan terakhir grup untuk lolos ke putaran berikutnya. Tidak hanya Beckham dkk yang kepercayaan dirinya meningkat usai kemenangan 3-0 melawan Swiss, publik Inggris pun demikian. "Saya harap tim Inggris telah selesai mandi dan ikut menonton pertandingan Croatia-Prancis," tulis Adrian Coleman. "Meskipun Inggris bermain buruk, tetapi tetapi kemenangan 3-0 membuktikan sesuatu," tambahnya.
Akhirnya, ia dan juga pendukung Inggris yang lain yakin adanya prospek untuk membalas kekalahan menyakitkan timnya dengan Prancis. "Zizou (panggilan Zinadine Zidane) Watch out! Kita akan bertemu lagi di final,"tantang Andrian Coleman yang tentu didukung fans Inggris dimana pun berada.***
Dan Inggris pun Hanya Bisa Terdiam
Jawa Pos,15 Juni 2004
Nurani Susilo, London
"Ini tidak akan mudah, Tapi kalau Inggris bisa selamat maka kemenangan ada di tangan ," begitu kata Sir Bobby Robson, komentator pertandingan Inggris-Prancis di ITV ketika Zidane bersiap-siap melakukan free kick. Berapa detik kemudian, tendangan Zidane membuahkan gol dan layar ITV yang semula gegap-gempita menjadi sunyi, tanpa suara.
"Are you speechless now ?" begitu Clive , pertanyaan komentator pendamping Sir Bobby memecah kesunyian. Tidak ada jawaban terdengar, hanya terdengar helaan nafas panjang dari mantan manajer Inggris yang kini menjadi Manajer Newcastle United.
"Selama mereka tidak kemasukan gol lagi, hasil seri adalah yang terbaik yang bisa kita harapkan sekarang," kembali terdengar suara Sir Bobby. Ternyata yang terjadi di lapangan justru sebaliknya, David James menjatuhkan Thierry Henry dan mendapat ganjaran finalti untuk Prancis. Sekali lagi Zidane menjadi algojo, dan kembali ia menjebol gawang Inggris. Prancis 2 Inggris 1.
Suasana semakin terlihat sunyi, ITV mengalihkan siarannya ke komentator di studio yang suasananya juga tidak berbeda dengan di lapangan. Ke empat komentator pun terdiam, tidak bisa berkata apa. Hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara itu, di salah satu Bar di London seorang gadis keluar ruangan untuk menghirup udara segar setelah 90 menit berdesak-desakan dengan pengunjung lain yang semua tengah menyaksikan pertandingan pertama tim kesayangannya.
Setelah sejenak menghirup segarnya udara dan memulihkan tenggorakannya yang sakit karena terus berteriak ,"Maaf saya harus segera kembali ke dalam, "katanya kepada seorang reporter koran Inggris. Yang ia tidak tahu, ketika ia sesaat berada di luar itu, Prancis telah dua kali membobol gawang Inggris.
Gadis yang sama keluar lagi dari bar berisi ratusan orang yang kini sunyi. Ia tidak lagi tegesa-gesa kembali ke dalam bar, tetapi berjalan gontai meninggalkannya.
Suasana di ITV dan juga cerita tentang gadis berkoas tim Inggris itu adalah gambaran mengenai apa yang terjadi kemarin malam di Inggris. Ketika semua pihak yakin Inggris berhasil mengalahkan tim tetangganya Prancis, namun dalam sekejap keadaaan berubah 180 derajat. Kaget dan tidak percaya hingga tidak bisa berkata apa-apa adalah reaksi umum yang terjadi di Inggris usai peluit pertandingan dibunyikan.
Begitu juga suasana yang terjadi di kantor-kantor redaksi media cetak di Inggris, menjelang waktu cetak untuk edisi terawal yang naik ke percetakan pk 22.00. Headline halaman 1 sudah siap dengan berita kemenangan Inggris. Halaman belakang juga dipenuhi gambar dan berita kemenangan pertama tim st George Cross.
Namun pk 21.45, ketika bertandingan berakhir di Inggris semua berita yang telah disiapkan itu harus di bongkar ulang. Dengan menyisakan waktu 15 menit, sebelum dikirim ke percetakan. Akhirnya, surat kabar Inggris edisi paling pagi -yang biasanya dibeli oleh para pekerja dalam perjalanan ke kantor - hanya menampilkan sedikit tulisan tentang kekalahan Inggris di halaman 1 dan halaman terakhir. Sementara halaman dalam masih bernuansa seolah Inggris menang dalam pertandingan tersebut.
Kalaupun selalu dikatakan, anything can happen in football (apapun bisa terjadi dalam sepakbola) namun kekalahan dari Prancis di menit-menit terakhir itu disebut di Inggris sebagai the cruellest defeat you can imagine (kekalahan paling kejam yang bisa dibayangkan). Ketika David Beckham meninggalkan lapangan pertandingan sambil menangis, ia tidak sendirian. ***
Jawa Pos,15 Juni 2004
Nurani Susilo, London
"Ini tidak akan mudah, Tapi kalau Inggris bisa selamat maka kemenangan ada di tangan ," begitu kata Sir Bobby Robson, komentator pertandingan Inggris-Prancis di ITV ketika Zidane bersiap-siap melakukan free kick. Berapa detik kemudian, tendangan Zidane membuahkan gol dan layar ITV yang semula gegap-gempita menjadi sunyi, tanpa suara.
"Are you speechless now ?" begitu Clive , pertanyaan komentator pendamping Sir Bobby memecah kesunyian. Tidak ada jawaban terdengar, hanya terdengar helaan nafas panjang dari mantan manajer Inggris yang kini menjadi Manajer Newcastle United.
"Selama mereka tidak kemasukan gol lagi, hasil seri adalah yang terbaik yang bisa kita harapkan sekarang," kembali terdengar suara Sir Bobby. Ternyata yang terjadi di lapangan justru sebaliknya, David James menjatuhkan Thierry Henry dan mendapat ganjaran finalti untuk Prancis. Sekali lagi Zidane menjadi algojo, dan kembali ia menjebol gawang Inggris. Prancis 2 Inggris 1.
Suasana semakin terlihat sunyi, ITV mengalihkan siarannya ke komentator di studio yang suasananya juga tidak berbeda dengan di lapangan. Ke empat komentator pun terdiam, tidak bisa berkata apa. Hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara itu, di salah satu Bar di London seorang gadis keluar ruangan untuk menghirup udara segar setelah 90 menit berdesak-desakan dengan pengunjung lain yang semua tengah menyaksikan pertandingan pertama tim kesayangannya.
Setelah sejenak menghirup segarnya udara dan memulihkan tenggorakannya yang sakit karena terus berteriak ,"Maaf saya harus segera kembali ke dalam, "katanya kepada seorang reporter koran Inggris. Yang ia tidak tahu, ketika ia sesaat berada di luar itu, Prancis telah dua kali membobol gawang Inggris.
Gadis yang sama keluar lagi dari bar berisi ratusan orang yang kini sunyi. Ia tidak lagi tegesa-gesa kembali ke dalam bar, tetapi berjalan gontai meninggalkannya.
Suasana di ITV dan juga cerita tentang gadis berkoas tim Inggris itu adalah gambaran mengenai apa yang terjadi kemarin malam di Inggris. Ketika semua pihak yakin Inggris berhasil mengalahkan tim tetangganya Prancis, namun dalam sekejap keadaaan berubah 180 derajat. Kaget dan tidak percaya hingga tidak bisa berkata apa-apa adalah reaksi umum yang terjadi di Inggris usai peluit pertandingan dibunyikan.
Begitu juga suasana yang terjadi di kantor-kantor redaksi media cetak di Inggris, menjelang waktu cetak untuk edisi terawal yang naik ke percetakan pk 22.00. Headline halaman 1 sudah siap dengan berita kemenangan Inggris. Halaman belakang juga dipenuhi gambar dan berita kemenangan pertama tim st George Cross.
Namun pk 21.45, ketika bertandingan berakhir di Inggris semua berita yang telah disiapkan itu harus di bongkar ulang. Dengan menyisakan waktu 15 menit, sebelum dikirim ke percetakan. Akhirnya, surat kabar Inggris edisi paling pagi -yang biasanya dibeli oleh para pekerja dalam perjalanan ke kantor - hanya menampilkan sedikit tulisan tentang kekalahan Inggris di halaman 1 dan halaman terakhir. Sementara halaman dalam masih bernuansa seolah Inggris menang dalam pertandingan tersebut.
Kalaupun selalu dikatakan, anything can happen in football (apapun bisa terjadi dalam sepakbola) namun kekalahan dari Prancis di menit-menit terakhir itu disebut di Inggris sebagai the cruellest defeat you can imagine (kekalahan paling kejam yang bisa dibayangkan). Ketika David Beckham meninggalkan lapangan pertandingan sambil menangis, ia tidak sendirian. ***
Wanita, Anggur dan Musik Blues, Formula Inggris di Euro 2004
Jawa Pos, 14 Juni 2004
Nurani Susilo, London
Manajer timnas Inggris Sven Goran Eriksson mempunyai resep khusus bagi skuadnya selama berlangsungnya Euro 2004 kali ini. Tidak seperti turnamen lain sebelumnya, kali ini pelatih asal Swedia ini mengenalkan kebijakan radikal, yaitu membolehkan sex bahkan minuman beralkohol kepada David Beckham dkk.
Kebijakan baru Eriksson dan petinggi FA ini adalah rejim yang paling rileks dalam sejarah timnas Inggris. Yang adalah bagian dari kebijakan baru yang menekankan kepada pemberian kepercayaan kepada pemain daripada menerapkan daftar panjang yang berisi larangan dan hukuman.
Karena itu sejak hari Jumat lalu, istri dan pasangan anggota timnas Inggris, beserta anak-anaknya bergabung ke Portugal untuk mendampingi David Beckham dkk. Termasuk diantaranya Victoria Beckham bersama Brooklyn dan Romeo, Alex pasangan Steven Gerrard dan bayinya Lily-Ella dan juga Coleen, pacar pemain termuda Inggris Wayne Rooney.
Sementara ketika Piala Dunia 2002 lalu, istri dan pasangan para pemain baru datang menjelang pertandingan Inggris melawan Brazil, sebagai bonus karena lolos ke babak perempat final. Selain tidak melarang sex, 23 anggota squad Inggris juga dibolehkan mengkonsumsi anggur dengan jumlah yang wajar.
Kenikmatan tim st George Cross ini sangat bertentangan dengan kondisi 15 tim lain yang menerapkan disiplin tinggi. Italia, misalnya, hanya mengijinkan pemainya menghabiskan waktu dengan keluarganya maksimal satu jam dan telah dijadwalkan dan tidak membolehkan sama sekali sex malam sebelum pertandingan. Beckham dkk dibolehkan menghabiskan malam bersama selama Inggris masih bertahan turnamen. Sumber dari FA, seperti dikutip The Times menegaskan bahwa tidak ada larangan melakukan hubungan sex bagi timnya, "Kita memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan kapan waktu untuk melakukannya sehingga tetap bisa mempertahankan kondisi terbaiknya bagi tim," katanya.
Tim Jerman, di lain pihak dilarang untuk mengkonsumsi apapun jenis minuman yang mengandung alkohol. Anggota tim Inggris dibolehkan untuk minum beberapa gelas anggur untuk melengkapi makan mereka setelah pertandingan. Jerman juga menyiapkan sanksi berat, termasuk ancaman di pulangkan dari Portugal, kepada pemain yang ketahuan pergi ke bar atau minum alkohol. "Jika pemain keluar semalaman, hukuman terberatnya adalah akan dipulangkan, "kata juru bicara tim panser. Kembali, pemain Inggris mendapatkan istimewa dengan tidak ada pembatasan untuk waktu tertentu, namun begitu Eriksson mengharapkan pemain tidak meninggalkan hotel setelah makan malam pk 19.00.
Tidak hanya itu, pemain Jerman juga dilarang melakukan hubungan sex sebelum pertandingan, dan sebagai gantinya menganjurkan untuk skuadnya minum air sebanyak-banyaknya. "Sex beberapa jam sebelum pertandingan akan menimbulkan masalah, di udara panas Portugasl yang paling dibutuhkan adalah minum, minum dan minum," kata Tim Meyer, doktor tim mereka. Sex sebelum pertandingan, menurut Meyer akan menimbulkan kelelahan fisik dan mental bagi pemain yang bersangkutan.
Di luar Women dan Wine tersebut, timnas Inggris masih akan medapatkan kesemempatan untuk menonton film,membaca buku dan juga mendengarkan musik. Koleksi buku, DVD dan juga CD yang disiapkan telah dipilih secara hati-hati oleh Eriksson dan juga FA untuk memberikan gabungan antara motivasi, inspirasi sekaligus juga relaksasi. CD penyanyi blues Norah Jones dan Outkast adalah dua diantaranya. Buku yang disediakan antara lain adalah biografi dari Lance Amstrong, pembalap sepeda asal Amerika Serikat yang berjudul It’s Not About the Bike.
Salah satu tugas berat FA setiap turnamen adalah bagaimana membuat anggota timnya yang terdiri dari para bintang milyuner puas selama turnamen. Itu juga alasan mengapa FA memilih komplek Hotel Solplay seharga GBP 6 juta. Satu fasilitasnya adalah mini-cinema compleks untuk para pemain Inggris menonton film, pertandingan langsung tim lain juga rekaman pertandingan.
Akan berhasilkah formula khusus Sven Goran Eriksson itu? Hasil pertamanya sudah Anda saksikan dinihari tadi dalam pertandingan pertama melawan Prancis. ***
Jawa Pos, 14 Juni 2004
Nurani Susilo, London
Manajer timnas Inggris Sven Goran Eriksson mempunyai resep khusus bagi skuadnya selama berlangsungnya Euro 2004 kali ini. Tidak seperti turnamen lain sebelumnya, kali ini pelatih asal Swedia ini mengenalkan kebijakan radikal, yaitu membolehkan sex bahkan minuman beralkohol kepada David Beckham dkk.
Kebijakan baru Eriksson dan petinggi FA ini adalah rejim yang paling rileks dalam sejarah timnas Inggris. Yang adalah bagian dari kebijakan baru yang menekankan kepada pemberian kepercayaan kepada pemain daripada menerapkan daftar panjang yang berisi larangan dan hukuman.
Karena itu sejak hari Jumat lalu, istri dan pasangan anggota timnas Inggris, beserta anak-anaknya bergabung ke Portugal untuk mendampingi David Beckham dkk. Termasuk diantaranya Victoria Beckham bersama Brooklyn dan Romeo, Alex pasangan Steven Gerrard dan bayinya Lily-Ella dan juga Coleen, pacar pemain termuda Inggris Wayne Rooney.
Sementara ketika Piala Dunia 2002 lalu, istri dan pasangan para pemain baru datang menjelang pertandingan Inggris melawan Brazil, sebagai bonus karena lolos ke babak perempat final. Selain tidak melarang sex, 23 anggota squad Inggris juga dibolehkan mengkonsumsi anggur dengan jumlah yang wajar.
Kenikmatan tim st George Cross ini sangat bertentangan dengan kondisi 15 tim lain yang menerapkan disiplin tinggi. Italia, misalnya, hanya mengijinkan pemainya menghabiskan waktu dengan keluarganya maksimal satu jam dan telah dijadwalkan dan tidak membolehkan sama sekali sex malam sebelum pertandingan. Beckham dkk dibolehkan menghabiskan malam bersama selama Inggris masih bertahan turnamen. Sumber dari FA, seperti dikutip The Times menegaskan bahwa tidak ada larangan melakukan hubungan sex bagi timnya, "Kita memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan kapan waktu untuk melakukannya sehingga tetap bisa mempertahankan kondisi terbaiknya bagi tim," katanya.
Tim Jerman, di lain pihak dilarang untuk mengkonsumsi apapun jenis minuman yang mengandung alkohol. Anggota tim Inggris dibolehkan untuk minum beberapa gelas anggur untuk melengkapi makan mereka setelah pertandingan. Jerman juga menyiapkan sanksi berat, termasuk ancaman di pulangkan dari Portugal, kepada pemain yang ketahuan pergi ke bar atau minum alkohol. "Jika pemain keluar semalaman, hukuman terberatnya adalah akan dipulangkan, "kata juru bicara tim panser. Kembali, pemain Inggris mendapatkan istimewa dengan tidak ada pembatasan untuk waktu tertentu, namun begitu Eriksson mengharapkan pemain tidak meninggalkan hotel setelah makan malam pk 19.00.
Tidak hanya itu, pemain Jerman juga dilarang melakukan hubungan sex sebelum pertandingan, dan sebagai gantinya menganjurkan untuk skuadnya minum air sebanyak-banyaknya. "Sex beberapa jam sebelum pertandingan akan menimbulkan masalah, di udara panas Portugasl yang paling dibutuhkan adalah minum, minum dan minum," kata Tim Meyer, doktor tim mereka. Sex sebelum pertandingan, menurut Meyer akan menimbulkan kelelahan fisik dan mental bagi pemain yang bersangkutan.
Di luar Women dan Wine tersebut, timnas Inggris masih akan medapatkan kesemempatan untuk menonton film,membaca buku dan juga mendengarkan musik. Koleksi buku, DVD dan juga CD yang disiapkan telah dipilih secara hati-hati oleh Eriksson dan juga FA untuk memberikan gabungan antara motivasi, inspirasi sekaligus juga relaksasi. CD penyanyi blues Norah Jones dan Outkast adalah dua diantaranya. Buku yang disediakan antara lain adalah biografi dari Lance Amstrong, pembalap sepeda asal Amerika Serikat yang berjudul It’s Not About the Bike.
Salah satu tugas berat FA setiap turnamen adalah bagaimana membuat anggota timnya yang terdiri dari para bintang milyuner puas selama turnamen. Itu juga alasan mengapa FA memilih komplek Hotel Solplay seharga GBP 6 juta. Satu fasilitasnya adalah mini-cinema compleks untuk para pemain Inggris menonton film, pertandingan langsung tim lain juga rekaman pertandingan.
Akan berhasilkah formula khusus Sven Goran Eriksson itu? Hasil pertamanya sudah Anda saksikan dinihari tadi dalam pertandingan pertama melawan Prancis. ***
Demi Pertandingan Inggris vs Prancis, Penonton Inggris Sewa Jet Pribadi
Jawa Pos,13 Juni 2004
Mendekati kick off pertandingan pertama Inggris melawan Prancis, tiket pertandingan masih banyak tersedia dengan harga terus turun, namun justru tiket pesawat dan hotel yang sulit di dapatkan. Karena itu sebagian penonton Inggris memilih menyewa pesawat jet untuk pulang-pergi Inggris-Portugal.
Nurani Susilo, London
Jangan salah sangka bahwa semua penonton sepakbola asal Inggris adalah hooligans. Dari perkiraan lebih dari 50 ribu pendukung tim st George Cross yang akan hadir di Portugal, hanya sebagian kecil yang berpotensi membuat kerusuhan, atau yang dikenal luas sebagai hooligans. Sebagian besar adalah penonton baik-baik yang datang dari kalangan menengah ke atas.
Bagi sebagian besar penonton non hooligans ini, uang bukanlah masalah tapi waktu justru yang menjadi hambatan. Karena itu jangan terkejut kalau banyak dari pendukung David Beckham dkk terbang ke Portugal menggunakan pesawat jet pribadi. Alasan utamanya karena sulitnya mencari hotel dan tiket pesawat beberapa hari menjelang pertandingan Inggris melawan Prancis.
Tiket pesawat biasa yang tersisa harganya melonjak mencapai GBP 900 dengan tawaran lama tinggal minimal 3-4 hari. Akhirnya banyak yang beralih menggunakan jasa layanan terbang yang biasa dipakai David Beckham, yaitu menyewa jet pribadi. Dengan pilihan ini, mereka tidak akan menginap di Portugal tetapi datang di Minggu pagi dan kembali ke Inggris usai pertandingan malam harinya. Dengan lama perjalanan kurang dari dua jam, tidak ada halangan bagi mereka untuk kembali bekerja pada hari Senin. Lalu kembali terbang ke portugal pada hari pertandingan Inggris yang lain.
Berapa harga kemewahan ala Beckham itu? Sewa pesawat jet jenis Hawker 125 yang berkapasitas 8 penumpang-- lengkap dengan bar dikabin—mencapai GBP 10 ribu hingga GBP 12 ribu. "Kalau terbang bersama 6-8 orang teman, maka ini menjadi pilihan yang menggiurkan bagi mereka, bahkan tidak hanya bagi yang berpenghasilan tinggi,"kata Chris Rooney, direktur Bookajet Aviations Services, perusahaan persewaan jet yang biasa di pakai Beckham kepada The Times.
Diperkirakan lebih dari 30 ribu penonton Inggris akan menyaksikan pertandingan pertama timnya melawan Prancis. Dan tambahan hingga 30 ribu akan menyusul untuk pertandingan berikutnya melawan Kroatia dan Swiss. Sementara menurut The Lisbon Tourist Board, semua hotel di kota-kota penyelenggara pertandingan telah terpesan sejak Desember lalu.
Ketika tiket penerbangan dan hotel sulit di dapat, tiket pertandingan Inggris vs Prancis justru masih tersedia, khususnya melalui pasar gelap. Harganya pun terus turun menjelang kick off karena banyaknya supply. "Awalnya mencapai GBP 600 kini terus turun, justru hotel dan tiket pesawat lebih mahal dan sulit didapat dibanding tiket pertandingan itu sendiri," kata Barry Bristow, Direktur Airtrack, perusahaan tour olahraga Inggris.
Menurut dua orang fans Inggris, Jonathan Connoly dan Mark Dudgean kepada BBC online menyatakan bahwa tiket bahkan sempat mencapai harga GBP 700. Namun mereka berdua telah mendapatkan jauh-jauh hari di internet dengan separuh harga lebih murah. "Kita membayar GBP 350 untuk Prancis dan GBP 300 untuk Swiss, tetapi kita akan membayar berapun harganya," aku mereka.
Football Associasion (FA atau PSSI-nya Inggris), melaporkan menjual sebanyak 17 ribu tiket kepada penonton yang tergabung dalam FA supporters club. Dimana semua anggotanya telah diperiksa oleh polisi. Namun demikian FA juga menyatakan bahwa lebih dari 80 ribu tiket terjual melalui website Uefa kepada pembeli dengan alamat Inggris tanpa adanya pemerkisaan polisi. Artinya besar kemungkinan para hooliogans bisa lolos ke Portugal karena mendapatkan tiket melalui internet tersebut.
Sampai bulan lalu, home office (kementerian dalam negeri Inggris) telah melakukan larangan terbang ke Portugal kepada hampir 2700 orang yang di duga adalah hooligans. Jumlah itu meningkat tajam dari Euro 2000 dimana hanya 100 orang yang dinyatakan terlarang menonton turnamen itu di Belgia dan Belanda.
Sementara itu, Kepala tim polisi Inggris di Portugal, David Swiff membantah adanya berita yang menyatakan bahwa beberapa dari hooligans yang dilarang terbang itu berhasil lolos ke Portugal. "Kalau Anda memegang paspor mereka, tidak akan mudah bagi mereka untuk bepergian,"katanya seperti dikutip BBC. Menurut pengakuannya, pihak kepolisian kini menahan 2000 hingga 2300 paspor penonton yang diyakini adalah hooligans. "Sepertinya beberapa dari mereka membuat klaim dan berbicara dengan media, tetapi ketika kita cek ke rumahnya, mereka semua ada di rumah," paparnya.
Semoga saja benar, penonton Inggris yang ada di Portugal kali ini bebas dari hooligans. Karena kalau hooligans Inggris kembali membuat kerusuhan, maka bagaimana bagusnya penampilan tim Inggris di Euro 2004 mereka akan dipulangkan.***
Jawa Pos,13 Juni 2004
Mendekati kick off pertandingan pertama Inggris melawan Prancis, tiket pertandingan masih banyak tersedia dengan harga terus turun, namun justru tiket pesawat dan hotel yang sulit di dapatkan. Karena itu sebagian penonton Inggris memilih menyewa pesawat jet untuk pulang-pergi Inggris-Portugal.
Nurani Susilo, London
Jangan salah sangka bahwa semua penonton sepakbola asal Inggris adalah hooligans. Dari perkiraan lebih dari 50 ribu pendukung tim st George Cross yang akan hadir di Portugal, hanya sebagian kecil yang berpotensi membuat kerusuhan, atau yang dikenal luas sebagai hooligans. Sebagian besar adalah penonton baik-baik yang datang dari kalangan menengah ke atas.
Bagi sebagian besar penonton non hooligans ini, uang bukanlah masalah tapi waktu justru yang menjadi hambatan. Karena itu jangan terkejut kalau banyak dari pendukung David Beckham dkk terbang ke Portugal menggunakan pesawat jet pribadi. Alasan utamanya karena sulitnya mencari hotel dan tiket pesawat beberapa hari menjelang pertandingan Inggris melawan Prancis.
Tiket pesawat biasa yang tersisa harganya melonjak mencapai GBP 900 dengan tawaran lama tinggal minimal 3-4 hari. Akhirnya banyak yang beralih menggunakan jasa layanan terbang yang biasa dipakai David Beckham, yaitu menyewa jet pribadi. Dengan pilihan ini, mereka tidak akan menginap di Portugal tetapi datang di Minggu pagi dan kembali ke Inggris usai pertandingan malam harinya. Dengan lama perjalanan kurang dari dua jam, tidak ada halangan bagi mereka untuk kembali bekerja pada hari Senin. Lalu kembali terbang ke portugal pada hari pertandingan Inggris yang lain.
Berapa harga kemewahan ala Beckham itu? Sewa pesawat jet jenis Hawker 125 yang berkapasitas 8 penumpang-- lengkap dengan bar dikabin—mencapai GBP 10 ribu hingga GBP 12 ribu. "Kalau terbang bersama 6-8 orang teman, maka ini menjadi pilihan yang menggiurkan bagi mereka, bahkan tidak hanya bagi yang berpenghasilan tinggi,"kata Chris Rooney, direktur Bookajet Aviations Services, perusahaan persewaan jet yang biasa di pakai Beckham kepada The Times.
Diperkirakan lebih dari 30 ribu penonton Inggris akan menyaksikan pertandingan pertama timnya melawan Prancis. Dan tambahan hingga 30 ribu akan menyusul untuk pertandingan berikutnya melawan Kroatia dan Swiss. Sementara menurut The Lisbon Tourist Board, semua hotel di kota-kota penyelenggara pertandingan telah terpesan sejak Desember lalu.
Ketika tiket penerbangan dan hotel sulit di dapat, tiket pertandingan Inggris vs Prancis justru masih tersedia, khususnya melalui pasar gelap. Harganya pun terus turun menjelang kick off karena banyaknya supply. "Awalnya mencapai GBP 600 kini terus turun, justru hotel dan tiket pesawat lebih mahal dan sulit didapat dibanding tiket pertandingan itu sendiri," kata Barry Bristow, Direktur Airtrack, perusahaan tour olahraga Inggris.
Menurut dua orang fans Inggris, Jonathan Connoly dan Mark Dudgean kepada BBC online menyatakan bahwa tiket bahkan sempat mencapai harga GBP 700. Namun mereka berdua telah mendapatkan jauh-jauh hari di internet dengan separuh harga lebih murah. "Kita membayar GBP 350 untuk Prancis dan GBP 300 untuk Swiss, tetapi kita akan membayar berapun harganya," aku mereka.
Football Associasion (FA atau PSSI-nya Inggris), melaporkan menjual sebanyak 17 ribu tiket kepada penonton yang tergabung dalam FA supporters club. Dimana semua anggotanya telah diperiksa oleh polisi. Namun demikian FA juga menyatakan bahwa lebih dari 80 ribu tiket terjual melalui website Uefa kepada pembeli dengan alamat Inggris tanpa adanya pemerkisaan polisi. Artinya besar kemungkinan para hooliogans bisa lolos ke Portugal karena mendapatkan tiket melalui internet tersebut.
Sampai bulan lalu, home office (kementerian dalam negeri Inggris) telah melakukan larangan terbang ke Portugal kepada hampir 2700 orang yang di duga adalah hooligans. Jumlah itu meningkat tajam dari Euro 2000 dimana hanya 100 orang yang dinyatakan terlarang menonton turnamen itu di Belgia dan Belanda.
Sementara itu, Kepala tim polisi Inggris di Portugal, David Swiff membantah adanya berita yang menyatakan bahwa beberapa dari hooligans yang dilarang terbang itu berhasil lolos ke Portugal. "Kalau Anda memegang paspor mereka, tidak akan mudah bagi mereka untuk bepergian,"katanya seperti dikutip BBC. Menurut pengakuannya, pihak kepolisian kini menahan 2000 hingga 2300 paspor penonton yang diyakini adalah hooligans. "Sepertinya beberapa dari mereka membuat klaim dan berbicara dengan media, tetapi ketika kita cek ke rumahnya, mereka semua ada di rumah," paparnya.
Semoga saja benar, penonton Inggris yang ada di Portugal kali ini bebas dari hooligans. Karena kalau hooligans Inggris kembali membuat kerusuhan, maka bagaimana bagusnya penampilan tim Inggris di Euro 2004 mereka akan dipulangkan.***
Demam Euro 2004 di Inggris
Jawa Pos,12 Juni 2004
Dari Pasang Bendera sampai Tambah Stok Bir
Ada yang berbeda dengan tampilan rumah dan mobil di Inggris dalam beberapa hari belakangan. Sekarang, di jendela rumah, dan kaca mobil hampir semua mengirbarkan bendera Inggris . Tak hanya itu, supermarket dan pub kini juga menambah stok bir mereka untuk menyambut perhelatan akbar bernama Euro 2004.
Nurani Susilo, London
"Bendera ini bentuk dukungan saya terhadap Inggris yang berlaga di Portugal," ungkap Geoff Marlow, seorang pemilik pub di Birmingham, seperti dikutip BBC News. Sudah beberapa hari ini Geoff memasang bendera Inggris, the st George Cross di jendela pub-nya. Ia juga memasang dua bendera yang lebih kecil di kaca mobilnya.
Ada banyak Geoff Marlow di Inggris. Di London saja, dari pantauan wartawan koran ini, hampir semua mobil memasang bendera putih dengan silang warna merah itu. Permintaan bendera Inggris ini memang melonjak tajam. Sampai hari Jumat lalu, ada sekitar tiga juta bendera Inggris terjual. Itu baru yang dijual oleh satu perusahaan yang tengah menunggu pasokan tambahan bendera Inggris dari Cina.
Asda, salah satu jaringan supermarket di Inggris, menurut salah satu tabloid terbitan London, telah menjual 38 ribu bendera Inggris mini. Sementara itu, Sainsbury’s, pesaing Asda yang juga sponsor resmi tim nasional Inggris, menjual 75 ribu bendera ukuran besar. Data ini belum termasuk berbagai bendera yang dikasih ke pembaca secara cuma-cuma oleh beberapa koran dan tabloid.
Bila dibandingkan dengan Piala Dunia 2002 lalu atau Euro 1996 yang digelar di Inggris, kali ini greget dan bentuk dukungan terhadap tim nasional memang berbeda. "Sekarang ini, jumlah warga yang memasang bendera jauh lebih banyak. Mungkin saja orang sekarang merasa bangga bisa menunjukkan dukungan moral kepada tim Inggris," kata Scott Ridley, salah satu pengusaha bendera seperti dikutip harian Mirror di London.
Namun, maraknya pemasangan bendera ini juga membuat beberapa dewan kota kuatir. Menurut mereka, pemasangan bendera di mobil bisa mengganggu lalu lintas dan membahayakan pengendara. Bahkan mereka mengancam akan mendenda bus umum atau taksi yang memasang bendera. Langkah dewan kota ini ditanggapi secara berbeda. Ada yang setuju namun ada pula yang dengan keras menentang aksi tersebut.
Yang juga panen dari demam Euro 2004 adalah toko elektronik dan pembuat bir. Warga mayoritas Inggris yang tak bisa menonton langsung ajang akbar ini, tentu akan mengikuti tim kesayangan mereka melalui layar televisi. Beberapa jaringann toko elektronik telah memasang iklan besar-besaran menawarkan pesawat televisi dari mulai ukuran saku sampai ukuran raksasa (plasma TV) dengan harga miring.
Begitu juga dengan pembuat bir, minuman beralkohol yang identik sebagai kawan nonton bola di Inggris. Sudah sejak beberapa pekan terakhir, para pembuat bir menawarkan kaleng dan botol bir edisi khusus Euro 2004, dengan menampilan para bintang timnas Inggris seperti Michael Owen di kaleng tersebut.
Di Inggris terdapat sekitar 60 ribu pub, dan lebih dari separuhnya akan mengelar acara semecam nonton bareng. Mereka juga telah bersiap untuk menambah stok bir mereka yang menurut laporan BBC News tambahan jutaan liter bir telah disiapkan para pemilik pub.Jumlah itu belum termasuk Supermarket juga menambah stok penjualan mereka. Langkah ini tidak mengherankan karena hampir semua pembeli di supermarket tampak mendorong troli berisi bir kalengan atau pun dalam kemasan botol.
Alhasil, dari deman turnamen Piala Eropa ini, berputar uang lebih dari 1 miliar poundsterling. (*)
Jawa Pos,12 Juni 2004
Dari Pasang Bendera sampai Tambah Stok Bir
Ada yang berbeda dengan tampilan rumah dan mobil di Inggris dalam beberapa hari belakangan. Sekarang, di jendela rumah, dan kaca mobil hampir semua mengirbarkan bendera Inggris . Tak hanya itu, supermarket dan pub kini juga menambah stok bir mereka untuk menyambut perhelatan akbar bernama Euro 2004.
Nurani Susilo, London
"Bendera ini bentuk dukungan saya terhadap Inggris yang berlaga di Portugal," ungkap Geoff Marlow, seorang pemilik pub di Birmingham, seperti dikutip BBC News. Sudah beberapa hari ini Geoff memasang bendera Inggris, the st George Cross di jendela pub-nya. Ia juga memasang dua bendera yang lebih kecil di kaca mobilnya.
Ada banyak Geoff Marlow di Inggris. Di London saja, dari pantauan wartawan koran ini, hampir semua mobil memasang bendera putih dengan silang warna merah itu. Permintaan bendera Inggris ini memang melonjak tajam. Sampai hari Jumat lalu, ada sekitar tiga juta bendera Inggris terjual. Itu baru yang dijual oleh satu perusahaan yang tengah menunggu pasokan tambahan bendera Inggris dari Cina.
Asda, salah satu jaringan supermarket di Inggris, menurut salah satu tabloid terbitan London, telah menjual 38 ribu bendera Inggris mini. Sementara itu, Sainsbury’s, pesaing Asda yang juga sponsor resmi tim nasional Inggris, menjual 75 ribu bendera ukuran besar. Data ini belum termasuk berbagai bendera yang dikasih ke pembaca secara cuma-cuma oleh beberapa koran dan tabloid.
Bila dibandingkan dengan Piala Dunia 2002 lalu atau Euro 1996 yang digelar di Inggris, kali ini greget dan bentuk dukungan terhadap tim nasional memang berbeda. "Sekarang ini, jumlah warga yang memasang bendera jauh lebih banyak. Mungkin saja orang sekarang merasa bangga bisa menunjukkan dukungan moral kepada tim Inggris," kata Scott Ridley, salah satu pengusaha bendera seperti dikutip harian Mirror di London.
Namun, maraknya pemasangan bendera ini juga membuat beberapa dewan kota kuatir. Menurut mereka, pemasangan bendera di mobil bisa mengganggu lalu lintas dan membahayakan pengendara. Bahkan mereka mengancam akan mendenda bus umum atau taksi yang memasang bendera. Langkah dewan kota ini ditanggapi secara berbeda. Ada yang setuju namun ada pula yang dengan keras menentang aksi tersebut.
Yang juga panen dari demam Euro 2004 adalah toko elektronik dan pembuat bir. Warga mayoritas Inggris yang tak bisa menonton langsung ajang akbar ini, tentu akan mengikuti tim kesayangan mereka melalui layar televisi. Beberapa jaringann toko elektronik telah memasang iklan besar-besaran menawarkan pesawat televisi dari mulai ukuran saku sampai ukuran raksasa (plasma TV) dengan harga miring.
Begitu juga dengan pembuat bir, minuman beralkohol yang identik sebagai kawan nonton bola di Inggris. Sudah sejak beberapa pekan terakhir, para pembuat bir menawarkan kaleng dan botol bir edisi khusus Euro 2004, dengan menampilan para bintang timnas Inggris seperti Michael Owen di kaleng tersebut.
Di Inggris terdapat sekitar 60 ribu pub, dan lebih dari separuhnya akan mengelar acara semecam nonton bareng. Mereka juga telah bersiap untuk menambah stok bir mereka yang menurut laporan BBC News tambahan jutaan liter bir telah disiapkan para pemilik pub.Jumlah itu belum termasuk Supermarket juga menambah stok penjualan mereka. Langkah ini tidak mengherankan karena hampir semua pembeli di supermarket tampak mendorong troli berisi bir kalengan atau pun dalam kemasan botol.
Alhasil, dari deman turnamen Piala Eropa ini, berputar uang lebih dari 1 miliar poundsterling. (*)
Steven Gerrard, Tulang Punggung Inggris di Euro 2004
Jawa Pos,11 Juni 2004
Lupakan sejenak David Beckham, kapten tim yang tampil dengan tato baru di lehernya, atau pun striker Michael Owen. Bagi Sven Goran Eriksson dan juga publik Inggris, pemain kunci dalam tim st Gerorge Cross di Euro 2004 adalah Steven Gerrard.
Nurani Susilo, London
"Ia kini disebut sebagai pemain sepakbola paling berpengaruh di Inggris. Jika ada kelemahan dalam penampilannya, saya belum pernah melihatnya, "begitu kata Paul Scholes tentang Steven Gerrard, kapten muda Liverpool. Sir Alex Ferguson memberi julukan kepada "the new Roy Keane" dan sangat mengharapkan Stevie, begitu panggilan akrabnya, bergabung dengan Manchester United.
Kali ini tampaknya, harapan Inggris tidak lagi ada pada David Beckham atau Michael Owen, tetapi pada pemain kelahiran Liverpool yang di Inggris kini dipuja karena single-handedly, sendirian, menyelamatkan klubnya hingga bisa lolos kualifikasi Liga Champion musim depan. Jadi kalau pun kini harapan negeri asal sepakbola ini berada di pundaknya, Stevie tidak akan merasakan beratnya. Tidak hanya Inggris yang menganggapnya pentingnya kedudukannya di Euro 2004, Arsene Wenger dan Gerard Houllier, dua manajer asal Prancis pun dalam wawancara dengan the Sunday Times, juga sependapat tentang Steven Gerrard.
Bagaimana ia menerimanya? "Ah yes, the usual suspects," jawabnya santai kepada wartawan di Sardinia beberapa waktu lalu ketika disinggung mengenai posisinya bagi timnas Inggris. Namun ia berubah menjadi sangat serius ketika berbicara peluang Inggris di Portugal serta ambisi pribadinya untuk menebus ketidakikutsertaannya dalam Piala Dunia 2002 karena cedera.
Salah satu yang dinantikannya di Portugal, juga ditunggu tidak sabar di Inggris, adalah bermain melawan idolanya, Zinedine Zidane. Ia lalu bercerita, musim panas 1998, enam bulan sebelum pertandingan pertamanya di Liverpool, Steven Gerrard muda duduk di sofa rumah orang tuanya begitu terpesona dengan aksi Zidane di televisi. "Sejak itu saya mengaguminya dan mengikuti terus kariernya,"akunya.
"Jika ada yang berkata ketika Piala Dunia 1988 itu, kalau saya akan bertanding melawannya di Euro 2004, saya tidak akan percaya, itu sesuatu yang tidak mungkin,"katanya. "Menjadi aneh rasanya, saya yang selalu menonton dan bertepuk tangan dengan aksinya tiba-tiba harus berhadapanan dengannya dan berupaya untuk menghentikannya melakukan sesuatu yang saya sangat kagumi,"tambah bapak muda dari Lily-Ella, puterinya yang masih bayi bersama pasangannya Alex.
Kini, ia tengah berkonsentrasi dengan tantangan pertamanya itu, pertandingan pertama Inggris melawan Prancis hari Minggu mendatang. "Dalam pandangan saya, saya melihat pada pertarungan di lapangan tengah. Saya tahu Vieira,Zidane, Pires, Makelele dan Decourt adalah pemain top, tetapi saya kira Veiera juga akan melihat pemain tengah Inggris dalam posisi yang sama. Pertandingan itu akan ditentukan oleh tim mana yang mampu memaksimalkan kemampuan mereka hari itu," papar pemain yang baru berusia 24 tahun ini.
"Saya yakin mereka sangat percaya diri sebagai juara bertahan, namun jika kita memperoleh hasil yang baik –menang atau seri—akan menjadi momentum yang bisa mengantarkan kita ke final. Kita berpikir untuk memenangkan turnamen ini, kita merasa punya kemampuan untuk menghadapi semua tim. Kita semua percaya diri, dan kini saatnya untuk mewujudkannya," tegasnya.
"Secara pribadi, saya akan sangat kecewa jika kita gagal mencapainya. Saya bermain di Euro 2000 masih bocah, hanya berharap untuk menikmatinya dan bisa terpilih dalam tim. Kali ini saya mengharapkan bermain dari awal dan membuat kontribusi besar,"tekadnya. Tidak salah kalau harapan negeri yang gila sepakbola itu ditumpukan padanya.***
Jawa Pos,11 Juni 2004
Lupakan sejenak David Beckham, kapten tim yang tampil dengan tato baru di lehernya, atau pun striker Michael Owen. Bagi Sven Goran Eriksson dan juga publik Inggris, pemain kunci dalam tim st Gerorge Cross di Euro 2004 adalah Steven Gerrard.
Nurani Susilo, London
"Ia kini disebut sebagai pemain sepakbola paling berpengaruh di Inggris. Jika ada kelemahan dalam penampilannya, saya belum pernah melihatnya, "begitu kata Paul Scholes tentang Steven Gerrard, kapten muda Liverpool. Sir Alex Ferguson memberi julukan kepada "the new Roy Keane" dan sangat mengharapkan Stevie, begitu panggilan akrabnya, bergabung dengan Manchester United.
Kali ini tampaknya, harapan Inggris tidak lagi ada pada David Beckham atau Michael Owen, tetapi pada pemain kelahiran Liverpool yang di Inggris kini dipuja karena single-handedly, sendirian, menyelamatkan klubnya hingga bisa lolos kualifikasi Liga Champion musim depan. Jadi kalau pun kini harapan negeri asal sepakbola ini berada di pundaknya, Stevie tidak akan merasakan beratnya. Tidak hanya Inggris yang menganggapnya pentingnya kedudukannya di Euro 2004, Arsene Wenger dan Gerard Houllier, dua manajer asal Prancis pun dalam wawancara dengan the Sunday Times, juga sependapat tentang Steven Gerrard.
Bagaimana ia menerimanya? "Ah yes, the usual suspects," jawabnya santai kepada wartawan di Sardinia beberapa waktu lalu ketika disinggung mengenai posisinya bagi timnas Inggris. Namun ia berubah menjadi sangat serius ketika berbicara peluang Inggris di Portugal serta ambisi pribadinya untuk menebus ketidakikutsertaannya dalam Piala Dunia 2002 karena cedera.
Salah satu yang dinantikannya di Portugal, juga ditunggu tidak sabar di Inggris, adalah bermain melawan idolanya, Zinedine Zidane. Ia lalu bercerita, musim panas 1998, enam bulan sebelum pertandingan pertamanya di Liverpool, Steven Gerrard muda duduk di sofa rumah orang tuanya begitu terpesona dengan aksi Zidane di televisi. "Sejak itu saya mengaguminya dan mengikuti terus kariernya,"akunya.
"Jika ada yang berkata ketika Piala Dunia 1988 itu, kalau saya akan bertanding melawannya di Euro 2004, saya tidak akan percaya, itu sesuatu yang tidak mungkin,"katanya. "Menjadi aneh rasanya, saya yang selalu menonton dan bertepuk tangan dengan aksinya tiba-tiba harus berhadapanan dengannya dan berupaya untuk menghentikannya melakukan sesuatu yang saya sangat kagumi,"tambah bapak muda dari Lily-Ella, puterinya yang masih bayi bersama pasangannya Alex.
Kini, ia tengah berkonsentrasi dengan tantangan pertamanya itu, pertandingan pertama Inggris melawan Prancis hari Minggu mendatang. "Dalam pandangan saya, saya melihat pada pertarungan di lapangan tengah. Saya tahu Vieira,Zidane, Pires, Makelele dan Decourt adalah pemain top, tetapi saya kira Veiera juga akan melihat pemain tengah Inggris dalam posisi yang sama. Pertandingan itu akan ditentukan oleh tim mana yang mampu memaksimalkan kemampuan mereka hari itu," papar pemain yang baru berusia 24 tahun ini.
"Saya yakin mereka sangat percaya diri sebagai juara bertahan, namun jika kita memperoleh hasil yang baik –menang atau seri—akan menjadi momentum yang bisa mengantarkan kita ke final. Kita berpikir untuk memenangkan turnamen ini, kita merasa punya kemampuan untuk menghadapi semua tim. Kita semua percaya diri, dan kini saatnya untuk mewujudkannya," tegasnya.
"Secara pribadi, saya akan sangat kecewa jika kita gagal mencapainya. Saya bermain di Euro 2000 masih bocah, hanya berharap untuk menikmatinya dan bisa terpilih dalam tim. Kali ini saya mengharapkan bermain dari awal dan membuat kontribusi besar,"tekadnya. Tidak salah kalau harapan negeri yang gila sepakbola itu ditumpukan padanya.***
Subscribe to:
Posts (Atom)