Jumat, 28 Mei 2004
Gabung United, Dicaci seperti Cantona-Ferdinand
Dalam hitungan minggu, Alan Smith berubah dari pahlawan Elland Road menjadi musuh nomor 1.
NURANI SUSILO, London
SELAMA menjadi striker Leeds United, Alan Smith, mempunyai kebiasaan badge-kissing, mencium lambang Leeds di kausnya. "Tradisi" tersebut membuat dia dicintai pendukung klub yang dibelanya sejak kecil itu.
Sebaliknya, pendukung Manchester United, musuh bebuyutan Leeds, sangat membenci kebiasaaan Alan Smith itu. Terutama ketika striker berambut pirang itu melakukannya ketika menciptakan gol untuk menyamakan kedudukan 1-1 dengan United dalam pertemuan terakhir kedua tim pada musim ini. Pendek kata, Smith adalah pahlawan nomor satu bagi pendukung Leeds, tapi dibenci pendukung United akibat aksi badge-kissing-nya.
Tiga pekan lalu, ketika Leeds United dipastikan terlempar dari Liga Premier Inggris, Smith menangis sesenggukan bersama pendukung setia Leeds di Reebock Stadium. Bahkan, pendukung Leeds langsung menyerbu ke lapangan untuk memeluk dan mencium Smith seusai pertandingan terakhir di Elland Road melawan Charlton.
Begitulah sosok Alan Smith, striker muda yang tumbuh bersama Leeds United, klub yang hanya berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Manchester. Namun, tiga pekan berselang, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat.
Kecintaan Smith terhadap Leeds tak bisa membendung keinginannya untuk pindah ke Manchster United, musuh bebuyutan Leeds. Dengan bayaran GBP 7 juta, Smith akhirnya setuju bergabung dengan Setan Merah setalah dua tawaran sebelumnya senilai GBP 3,5 juta dan GBP 5 juta ditolak manajemen klub yang musim depan bermain di Divisi I Liga Inggris.
Yang menarik, Smith menyumbangkan GBP 700 ribu (sekitar Rp 11,76 miliar) di antaranya untuk membantu Leeds yang tengah dilanda kesulitan keuangan. Meski begitu, niat baik Smith itu tak mampu mengikis predikat pengkhianat dari pendukung Leeds. Sebutan yang sama sebelumnya juga pernah disematkan kepada Eric Cantona dan Rio Ferdinand, dua pemain yang juga pindah dari Elland Road ke Old Trafford.
Sampai sekarang, masih banyak dijumpai pendukung Leeds memakai kaus bertulisan Rio, Cantona: Traitor (Pengkhinat). Kalau kepindahan Rio dan Cantona masih juga tidak dimaafkan publik Elland Road sampai sekarang, kepindahan Alan Smith diperkirakan akan menimbulkan kebencian lebih besar.
"Ini adalah keputusan yang sulit," kata striker yang gagal masuk ke Timnas Inggris ke Euro 2004 itu. "Kepindahan antar duaklub selalu menyebabkan masalah besar. Tapi United adalah klub yang saya ingin bergabung di dalamnya," katanya.
Pelatih United, Sir Alex Ferguson, mengaku terpesona dengan keinginan striker yang akan melengkapi Ruud van Nistlerooy dan Louis Saha untuk bergabung ke Old Trafford. "Saya tidak pernah begitu terpesona dengan pemain muda, keinginannya untuk bermain dengan Manchester United begitu fantastis," kata manajer berusia 62 tahun itu.
Satu-satunya tranfser di Inggris yang bisa menyaingi kontroversial kepindahan Alan Smith ke Manchester United adalah hijrahnya Sol Campbell, dari Tottenham Hospur ke klub tetangga yang juga adalah musuh bebuyutan mereka, Arsenal. Atau, kalau seanndainya Steven Gerard (kapten Liverpool)--yang dikagumi Ferguson dan dianggap berkemampuan seprti Roy Keane-- juga pindah ke Old Trafford. Seperti halnya Leeds, Liverpool yang juga berdekatan dengan Manchester adalah musuh abadi United. Memang, tak ada yang tidak mungkin dalam sepak bola. *
Saturday, May 29, 2004
Rabu, 28 Apr 2004
David Beckham; Kenangan Masa Kecil dan Sepatu Rancangan Sendiri
Suka Warna Merah dan Perak, Jahit Nama Anaknya
Ada yang bilang masa kecil adalah masa paling bahagia. Bintang sekelas David Beckham juga merasakannya ketika mendapatkan sepatu bola pertamanya.
NURANI SUSILO, London
SUATU hari pada tahun 1980-an. Seorang bocah terlihat begitu berbinar ketika menyusuri jalanan wilayah Walthastow, London Timur. Bersama sang ayah, dia tampak bersemangat mengayunkan langkah menuju sebuah toko peralatan olahraga. Kegembiraan sang bocah semakin membuncah saat dia menerima sepatu bola hasil pemberian ayahnya. Wajar jika dia terlihat begitu gembira. Itulah sepatu bola pertama yang dimilikinya.
Dua puluh tahun berselang, si bocah tersebut kembali ke toko yang sama, juga dengan wajah berseri-seri. Toko itu bernama Adam Ants’s Goody Two Shoes. Tapi, kali ini bukan untuk membeli sepatu seperti 20 tahun silam.
Sekarang dia datang dengan status pemain mahabintang yang hendak melakukan launching sepatu bola yang di tempat yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Siapakah dia? Bocah itu adalah David Beckham. Kemarin dia meluncurkan sepatu baru yang menampilkan namanya keluaran Adidas, Predator Pulse.
Sepatu yang dijual dengan harga GBP 120 (sekitar Rp 1,8 juta) itu bakal dikenakan Beckham pertama kali dalam pertandingan Real Madrid melawan Deportivo La Coruna, 1 Mei mendatang. Seperti juga pemilihan tempat peluncuran sepatu itu, bukan suatu kebetulan juga kalau tanggal 1 Mei bertepatan malam ulang tahun kapten timnas Inggris itu yang ke-29. Inilah salah satu kepiawaian manajemen Beckham dalam menjaga publisitas mantan pemain Manchester United itu.
Dengan model terbaru -kembali dipotong plontos, Beckham kemarin menghabiskan waktu 1,5 jam di dalam toko sepatu yang tak jauh dari tempat ia dilahirkan di Leyton, London Timur. Beckham meluncurkan sepatu berwarna merah dan perak dengan tampilan gambar dirinya di sol sepatu. Selain itu, ada jahitan nama kedua anaknya, Brooklyn dan Romeo.
Dia meninggalkan 23 pasang sepatu (sesuai dengan nomor punggungnya di Real Madrid) di toko tersebut yang mulai dijual pukul 5 GMT kemarin (sekitar pukul 11.00 WIB). Beckham memberikan kesempatan kepada toko yang dimiliki David Seth, mantan pemain sepak bola amatir di Inggris, sebagai satu-satunya toko yang menjual sepatu berlogo Beckham itu sampai peluncuran resminya di seluruh dunia pada 1 Mei mendatang.
Ini merupakan kali pertama Adidas meluncurkan sepatu yang personally designed oleh Beckham. Sebab, kontraknya dengan raksasa produsen peralatan olahraga itu membuka kesempatan untuk memberikan masukan terhadap produk yang disponsorinya.
Ketika ditanya soal warna merah dan perak pilihannya, suami Victoria tersebut mengatakan bahwa warna itu bisa terlihat cemerlang di lapangan. Dengan sepatu baru ini, Beckham menjadi satu-satunya pemain yang dikontrak Adidas yang mempunyai sepatu dengan namanya.
Bintang Adidas yang lain seperti Steven Gerrard, Patrick Vieira dan Zinedine Zidane akan memakai sepatu khusus yang lain berwarna biru dan perak. "Seorang anak kecil ketika diberitahu Adidas akan membuat sepatu dengan namanya tentunya akan sangat menggembirakan," kata Beckham. "Saya masih mendapatkan kegembiran itu sekarang. Saya pikir akan bagus kalau meluncurkannya di tempat orang tua saya membelikan sepatu bola saya yang pertama," tambahnya.
Beckham juga meminjamkan 24 pasang koleksi sepatu bolanya yang paling berharga yang dipakainya di berbagai pertandingan bersama Timnas Inggris ataupun klubnya. Di antaranya sepatu yang dipakainya membobol gawang Wimbledon dari tengah garis lapangan yang pertama kali mengangkat namanya di Manchester United. Juga, sepatu yang dipakinya ketika diganjar kartu merah di Piala Dunia 1998 melawan Argentina di Prancis serta sepatu yang dipakainya ketika mencetak gol melalui penalti dalam pertandingan melawan Argentina di Piala Dunia 2002 lalu.
"Ketika kecil, ia membeli semua sepatu bolanya di sini," kata Rochard Eton, manajer toko itu. "Terakhir kalinya adalah ketika ia bermain untuk timnas di bawah usia 18 tahun di Toulon Tournament di Prancis. Waktu itu dia meminta ibunya untuk membelinya di sini," tambahnya.*
David Beckham; Kenangan Masa Kecil dan Sepatu Rancangan Sendiri
Suka Warna Merah dan Perak, Jahit Nama Anaknya
Ada yang bilang masa kecil adalah masa paling bahagia. Bintang sekelas David Beckham juga merasakannya ketika mendapatkan sepatu bola pertamanya.
NURANI SUSILO, London
SUATU hari pada tahun 1980-an. Seorang bocah terlihat begitu berbinar ketika menyusuri jalanan wilayah Walthastow, London Timur. Bersama sang ayah, dia tampak bersemangat mengayunkan langkah menuju sebuah toko peralatan olahraga. Kegembiraan sang bocah semakin membuncah saat dia menerima sepatu bola hasil pemberian ayahnya. Wajar jika dia terlihat begitu gembira. Itulah sepatu bola pertama yang dimilikinya.
Dua puluh tahun berselang, si bocah tersebut kembali ke toko yang sama, juga dengan wajah berseri-seri. Toko itu bernama Adam Ants’s Goody Two Shoes. Tapi, kali ini bukan untuk membeli sepatu seperti 20 tahun silam.
Sekarang dia datang dengan status pemain mahabintang yang hendak melakukan launching sepatu bola yang di tempat yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Siapakah dia? Bocah itu adalah David Beckham. Kemarin dia meluncurkan sepatu baru yang menampilkan namanya keluaran Adidas, Predator Pulse.
Sepatu yang dijual dengan harga GBP 120 (sekitar Rp 1,8 juta) itu bakal dikenakan Beckham pertama kali dalam pertandingan Real Madrid melawan Deportivo La Coruna, 1 Mei mendatang. Seperti juga pemilihan tempat peluncuran sepatu itu, bukan suatu kebetulan juga kalau tanggal 1 Mei bertepatan malam ulang tahun kapten timnas Inggris itu yang ke-29. Inilah salah satu kepiawaian manajemen Beckham dalam menjaga publisitas mantan pemain Manchester United itu.
Dengan model terbaru -kembali dipotong plontos, Beckham kemarin menghabiskan waktu 1,5 jam di dalam toko sepatu yang tak jauh dari tempat ia dilahirkan di Leyton, London Timur. Beckham meluncurkan sepatu berwarna merah dan perak dengan tampilan gambar dirinya di sol sepatu. Selain itu, ada jahitan nama kedua anaknya, Brooklyn dan Romeo.
Dia meninggalkan 23 pasang sepatu (sesuai dengan nomor punggungnya di Real Madrid) di toko tersebut yang mulai dijual pukul 5 GMT kemarin (sekitar pukul 11.00 WIB). Beckham memberikan kesempatan kepada toko yang dimiliki David Seth, mantan pemain sepak bola amatir di Inggris, sebagai satu-satunya toko yang menjual sepatu berlogo Beckham itu sampai peluncuran resminya di seluruh dunia pada 1 Mei mendatang.
Ini merupakan kali pertama Adidas meluncurkan sepatu yang personally designed oleh Beckham. Sebab, kontraknya dengan raksasa produsen peralatan olahraga itu membuka kesempatan untuk memberikan masukan terhadap produk yang disponsorinya.
Ketika ditanya soal warna merah dan perak pilihannya, suami Victoria tersebut mengatakan bahwa warna itu bisa terlihat cemerlang di lapangan. Dengan sepatu baru ini, Beckham menjadi satu-satunya pemain yang dikontrak Adidas yang mempunyai sepatu dengan namanya.
Bintang Adidas yang lain seperti Steven Gerrard, Patrick Vieira dan Zinedine Zidane akan memakai sepatu khusus yang lain berwarna biru dan perak. "Seorang anak kecil ketika diberitahu Adidas akan membuat sepatu dengan namanya tentunya akan sangat menggembirakan," kata Beckham. "Saya masih mendapatkan kegembiran itu sekarang. Saya pikir akan bagus kalau meluncurkannya di tempat orang tua saya membelikan sepatu bola saya yang pertama," tambahnya.
Beckham juga meminjamkan 24 pasang koleksi sepatu bolanya yang paling berharga yang dipakainya di berbagai pertandingan bersama Timnas Inggris ataupun klubnya. Di antaranya sepatu yang dipakainya membobol gawang Wimbledon dari tengah garis lapangan yang pertama kali mengangkat namanya di Manchester United. Juga, sepatu yang dipakinya ketika diganjar kartu merah di Piala Dunia 1998 melawan Argentina di Prancis serta sepatu yang dipakainya ketika mencetak gol melalui penalti dalam pertandingan melawan Argentina di Piala Dunia 2002 lalu.
"Ketika kecil, ia membeli semua sepatu bolanya di sini," kata Rochard Eton, manajer toko itu. "Terakhir kalinya adalah ketika ia bermain untuk timnas di bawah usia 18 tahun di Toulon Tournament di Prancis. Waktu itu dia meminta ibunya untuk membelinya di sini," tambahnya.*
Sabtu, 24 Apr 2004
Kasus Ron Atkinson dan Rasisme di Sepak Bola Inggris
Komentar Singkat Pasca Laga Hancurkan Karir 45 Tahun
Ron Atkinson, mantan arsitek Manchester United dan komentator sepak bola paling terkenal di Inggris, kesandung masalah. Komentarnya terhadap Kapten Chelsea Marcel Desailly memantik kasus rasisme.
NURANI SUSILO, London
Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga. Peribahasa itu, tampaknya, pas untuk menggambarkan apa yang menimpa Atkinson saat ini. Pukul 21.40 GMT Selasa lalu (03.40 WIB Rabu dini hari), duduk di kursi komentator televisi di tribun Stade Louis II di Monaco, Atkinson berpikir bahwa tugasnya sebagai analis laga semifinal Liga Champion antara AS Monaco v Chelsea telah selesai. Maka ia pun berdiskusi dengan rekan komentator, Clyve Tyldesley, untuk membuat observasi akhir pertandingan.
Ketika melihat rekaman pertandingan yang menampilkan kapten Chelsea Marcel Desailly yang menyikut pemain Monaco Fernando Morientes, Atkinson nyeletuk: "Dia itu apa yang dikenal di beberapa sekolah sebagai ****ing lazy, thick nigger (maaf: pemalas brengsek, orang hitam yang tidak punya malu)."
Tanpa Atkinson sadari, komentar yang sangat kasar itu - yang tidak didengar oleh penonton televisi di Inggris karena telah berpindah pada analisis di studio - tertangkap oleh microfon yang masih menyala dan tersiar di televisi-televisi Timur Tengah, yang me-relay siaran langsung tersebut.
Protes pun bermunculan. Dan, 24 jam kemudian, Atkinson mengundurkan diri dari ITV dan juga kontraknya sebagai kolumnis di harian The Guardian. Perusahan minuman 7 Up juga menghentikan iklan yang menampilkan Atkinson. Ya, komentar singkat itu telah mengahancurkan karier cemerlangnya selama 45 tahun di sepak bola, baik sebagai pemain, pelatih, dan komentator di layar kaca.
Sejak kemarin, sejawat Atkinson ramai-ramai membela bahwa apa yang disebut arsitek United yang digantikan Sir Alex ferguson pada 1996 itu sebagai "moment of stupidity" (kebodohan sesaat). Namun sayangnya, bagi orang-orang non kulit putih yang berada di lingkungan sepak bola, komentar rasisme bukanlah hal yang baru.
Komentar rasis Atkinson, yang menurutnya adalah ekpresi rasa kecewa atas kekalahan Chelsea dari AS Monaco itu, telah membangkitkan kembali memori tahun 70 dan 80-an ketika pemain kulit hitam dianggap oleh pelatih dan juga pemilik klub sebagai pemalas, tidak punya komitmen, dan tidak bisa beradaptasi dengan kerasnya sepak bola Inggris.
Kendati sikap dunia sepak bola terhadap rasisme telah berubah, dan Atkinson sendiri ketika menangani West Bromwich Albion di tahun 70-an membeli tiga pemain kulit hitam dalam skuadnya, tapi komentarnya terhadap Desailly itu tidak bisa dipandang perkara sepele di Inggris.
Di arena Premiership, rasisme juga tidak hilang sama sekali. Januari lalu, misalnya, striker Fulham Luis Boa Morte menyatakan dirinya telah mendapatkan penghinaan rasisme dari pemain lawan. Pengaduan serupa juga dilaporkan oleh mantan striker Arsenal Ian Wright dan mantan pemain Aston Villa Stan Collymore.
Meskipun kampanye melawan rasisme diantara pemain dan juga penonton gencar dicanangkan, tetapi stereotip jelek terhadap pemain asing masih tersimpan. Seorang wartawan media Inggris bercerita seorang manajer klub Liga Inggris mengatakan padanya bahwa alasan mengapa hanya sedikit pemain profesional sepak bola dari Asia adalah karena mereka terlalu sibuk bekerja di toko dan makan nasi kare.
Seorang mantan pemain menyatakan bahwa penghinaan rasisme dari pelatih adalah hal biasa. Tapi, banyak dari pemain kulit hitam itu diam saja karena tidak mau menimbulkan masalah.
Salah satu pembelaan Atkinson adalah bahwa ia tidak sadar akan implikasi yang disebabkan oleh komentarnya itu. Tetapi, bagi pemain non kulit putih, rasisme mempunya implikasi langsung terhadap karir mereka. Kalau dulu pengaruhnya kuat terhadap karir pemain, kini lebih dihadapi oleh mereka yang ingin berkarir sebagai pelatih.
Banyak mantan pemain yang percaya bahwa mereka gagal menjadi pelatih hanya karena kulit mereka. Mantan pemain Liverpool John Barnes, yang sempat menjadi manajer Celtic, tidak bisa mendapatkan pekerjaan di klub lain. Begitu pula mantan pemain Arsenal Paul Davis yang ditolak menjadi pelatih tim cadangan salah satu klub di London karena alasan rasisme. Bukan sebuah kebetulan kalau kini hanya ada 3 dari 92 manajer di klub Inggris dan hanya beberapa di antara pelatih yang non kulit putih. (*)
Riwayat Singkat Ron Atkinson
Lahir: Liverpool, 18 Maret 1939
Karir pemain: Kattering Town (1971-1974)
Karir pelatih: Cambridge Utd (1974-78), West Brom (1978-81), Man Utd (1981-86), West Brom (1987-88), Atletico Madrid (1988-89), Sheffield Wednesday (1989-91), Aston Villa (1991-94), Direktur Sepak Bola Coventry (1996), Sheff Weds (1997), dan Nothingham Forest (1999).
Karir di media: Komentator ITV dalam tujuh musim Liga Champion, lima Piala Dunia, UEFA dan FA Cup final, dan kolumnis The Guardian sejak tahun 2000.
Kasus Ron Atkinson dan Rasisme di Sepak Bola Inggris
Komentar Singkat Pasca Laga Hancurkan Karir 45 Tahun
Ron Atkinson, mantan arsitek Manchester United dan komentator sepak bola paling terkenal di Inggris, kesandung masalah. Komentarnya terhadap Kapten Chelsea Marcel Desailly memantik kasus rasisme.
NURANI SUSILO, London
Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga. Peribahasa itu, tampaknya, pas untuk menggambarkan apa yang menimpa Atkinson saat ini. Pukul 21.40 GMT Selasa lalu (03.40 WIB Rabu dini hari), duduk di kursi komentator televisi di tribun Stade Louis II di Monaco, Atkinson berpikir bahwa tugasnya sebagai analis laga semifinal Liga Champion antara AS Monaco v Chelsea telah selesai. Maka ia pun berdiskusi dengan rekan komentator, Clyve Tyldesley, untuk membuat observasi akhir pertandingan.
Ketika melihat rekaman pertandingan yang menampilkan kapten Chelsea Marcel Desailly yang menyikut pemain Monaco Fernando Morientes, Atkinson nyeletuk: "Dia itu apa yang dikenal di beberapa sekolah sebagai ****ing lazy, thick nigger (maaf: pemalas brengsek, orang hitam yang tidak punya malu)."
Tanpa Atkinson sadari, komentar yang sangat kasar itu - yang tidak didengar oleh penonton televisi di Inggris karena telah berpindah pada analisis di studio - tertangkap oleh microfon yang masih menyala dan tersiar di televisi-televisi Timur Tengah, yang me-relay siaran langsung tersebut.
Protes pun bermunculan. Dan, 24 jam kemudian, Atkinson mengundurkan diri dari ITV dan juga kontraknya sebagai kolumnis di harian The Guardian. Perusahan minuman 7 Up juga menghentikan iklan yang menampilkan Atkinson. Ya, komentar singkat itu telah mengahancurkan karier cemerlangnya selama 45 tahun di sepak bola, baik sebagai pemain, pelatih, dan komentator di layar kaca.
Sejak kemarin, sejawat Atkinson ramai-ramai membela bahwa apa yang disebut arsitek United yang digantikan Sir Alex ferguson pada 1996 itu sebagai "moment of stupidity" (kebodohan sesaat). Namun sayangnya, bagi orang-orang non kulit putih yang berada di lingkungan sepak bola, komentar rasisme bukanlah hal yang baru.
Komentar rasis Atkinson, yang menurutnya adalah ekpresi rasa kecewa atas kekalahan Chelsea dari AS Monaco itu, telah membangkitkan kembali memori tahun 70 dan 80-an ketika pemain kulit hitam dianggap oleh pelatih dan juga pemilik klub sebagai pemalas, tidak punya komitmen, dan tidak bisa beradaptasi dengan kerasnya sepak bola Inggris.
Kendati sikap dunia sepak bola terhadap rasisme telah berubah, dan Atkinson sendiri ketika menangani West Bromwich Albion di tahun 70-an membeli tiga pemain kulit hitam dalam skuadnya, tapi komentarnya terhadap Desailly itu tidak bisa dipandang perkara sepele di Inggris.
Di arena Premiership, rasisme juga tidak hilang sama sekali. Januari lalu, misalnya, striker Fulham Luis Boa Morte menyatakan dirinya telah mendapatkan penghinaan rasisme dari pemain lawan. Pengaduan serupa juga dilaporkan oleh mantan striker Arsenal Ian Wright dan mantan pemain Aston Villa Stan Collymore.
Meskipun kampanye melawan rasisme diantara pemain dan juga penonton gencar dicanangkan, tetapi stereotip jelek terhadap pemain asing masih tersimpan. Seorang wartawan media Inggris bercerita seorang manajer klub Liga Inggris mengatakan padanya bahwa alasan mengapa hanya sedikit pemain profesional sepak bola dari Asia adalah karena mereka terlalu sibuk bekerja di toko dan makan nasi kare.
Seorang mantan pemain menyatakan bahwa penghinaan rasisme dari pelatih adalah hal biasa. Tapi, banyak dari pemain kulit hitam itu diam saja karena tidak mau menimbulkan masalah.
Salah satu pembelaan Atkinson adalah bahwa ia tidak sadar akan implikasi yang disebabkan oleh komentarnya itu. Tetapi, bagi pemain non kulit putih, rasisme mempunya implikasi langsung terhadap karir mereka. Kalau dulu pengaruhnya kuat terhadap karir pemain, kini lebih dihadapi oleh mereka yang ingin berkarir sebagai pelatih.
Banyak mantan pemain yang percaya bahwa mereka gagal menjadi pelatih hanya karena kulit mereka. Mantan pemain Liverpool John Barnes, yang sempat menjadi manajer Celtic, tidak bisa mendapatkan pekerjaan di klub lain. Begitu pula mantan pemain Arsenal Paul Davis yang ditolak menjadi pelatih tim cadangan salah satu klub di London karena alasan rasisme. Bukan sebuah kebetulan kalau kini hanya ada 3 dari 92 manajer di klub Inggris dan hanya beberapa di antara pelatih yang non kulit putih. (*)
Riwayat Singkat Ron Atkinson
Lahir: Liverpool, 18 Maret 1939
Karir pemain: Kattering Town (1971-1974)
Karir pelatih: Cambridge Utd (1974-78), West Brom (1978-81), Man Utd (1981-86), West Brom (1987-88), Atletico Madrid (1988-89), Sheffield Wednesday (1989-91), Aston Villa (1991-94), Direktur Sepak Bola Coventry (1996), Sheff Weds (1997), dan Nothingham Forest (1999).
Karir di media: Komentator ITV dalam tujuh musim Liga Champion, lima Piala Dunia, UEFA dan FA Cup final, dan kolumnis The Guardian sejak tahun 2000.
Jumat, 23 Apr 2004
Jose Mourinho, Arsitek Chelsea Pasca Ranieri?
Seperti Wenger, Bisa Bikin Panas Ferguson
Claudio Ranieri diprediksi bakal lengser dari kursi pelatih Chelsea akhir musim nanti. Siapa penggantinya? Jose Mourinho disebut sebagai kandidat terkuat.
NURANI SUSILO, London
Selain kecerdikan meracik strategi di atas lapangan, ada satu bakat lain yang harus dimiliki arsitek Chelsea. Setidaknya menurut media di Inggris. Apa itu? Kemampuan membuat panas Sir Alex Ferguson, arsitek tim terbesar di Inggris, Manchester United. Nah, saat ini hanya ada satu sosok yang dianggap mempunyai dua bakat itu. Yakni, Arsene Wenger, arsitek Arsenal.
Mengusung Wenger ke Stamford Bridge, tampaknya, tidak mungkin dilakukan The Blues. Maka, diliriknya sosok dari luar Inggris. Dan, munculah nama Jose Mourinho. Kabar perekrutan arsitek FC Porto itu semakin kuat ketika media di Inggris menampilkan foto Roman Abramovich, pemilik Chelsea, bersama dengan Direktur Eksekutif Chelsea Peter Kenyon berada di Spanyol. Keduanya dikabarkan mengadakan pertemuan penting dengan Mourinho sebelum laga AS Monaco v Chelsea di Monte Carlo, Rabu dini hari lalu.
Kenyon bahkan telah berada di Spanyol sehari sebelumnya, khusus untuk bertemu Mourinho. Tetapi, Kenyon tak berhasil bertemu langsung dengan Mourinho dan hanya berjumpa dengan orang dekatnya. Fakta ini menguatkan indikasi bahwa Mourinho - yang juga diincar Real Madrid untuk menggatikan Carlos Queiroz - adalah kandidat terkuat pengganti Ranieri.
Posisi Ranieri sendiri sulit untuk dipertahankan seiring hubungannya dengan Abramovich yang semakin memanas. Dalam wawancaranya dengan koran Spanyol, Marca, Ranieri terang-terangan menyerang Abramovich. "Anda tahu? Abramovich tidak tahu sama sekali mengenai sepak bola," kata Ranieri. Pria asal Italia ini menyebut pembelian 11 pemain baru Chelsea musim ini adalah keputusan yang gila!
Kendati sehari kemudian Ranieri membantah pernyataannya itu, tapi dia tetap tidak mampu menutupi fakta bahwa hubungannya dengan Abramovich mulai tidak harmonis. Sebaliknya, pamor Mourinho semakin bersinar saja. Dia mungkin hanya butuh meloloskan Porto ke final Liga Champions sebagai syarat terakhir meyakinkan Abramovich.
Jangan lupa, Mourinho juga memiliki kelebihan lain. Duel psikologis, atau yang di Inggris dikenal dengan sebutan mind game yang sering dilancarkan Ferguson terhadap lawannya sebelum pertandingan, dikuasainya dengan baik. Menjelang laga kedua Babak 16 Besar Liga Champions lalu, Ferguson melancarkan psywar yang menyebut pemain Porto sering berpura-pura cedera untuk mengelabuhi wasit (play-acting).
Tapi, Mourinho balik menyerang dengan mempertanyakan mengapa United sebagai tim besar takut menghadapi tim kecil. Kata-katanya di konfersnesi pers yang disampaikan dengan canda tawa diyakini telah membuat panas publik Old Trafford. Dan, Ferguson khususnya. Kemampuan (baca: memprovokasi Ferguson) itulah yang selama ini hanya bisa diperlihatkan oleh Arsene Wenger dan Arsenal.
Mourinho, seperti juga Wenger, sangat jeli menjaring pemain muda berbakat. Contoh hasil buruannya adalah Derlei, yang pada final Piala UEFA musim lalu dinobatkan sebagai pemain terbaik, dibelinya dengan harga yang tidak seberapa. Musim ini, Mourinho kembali menemukan pemain berbakat lain. Yakni, Carloz Alberto, striker asal Brazil yang masih berusia 19 tahun. Dan, kejelian seperti itulah yang tidak dimiliki seorang Ranieri. (*)
Jose Mourinho, Arsitek Chelsea Pasca Ranieri?
Seperti Wenger, Bisa Bikin Panas Ferguson
Claudio Ranieri diprediksi bakal lengser dari kursi pelatih Chelsea akhir musim nanti. Siapa penggantinya? Jose Mourinho disebut sebagai kandidat terkuat.
NURANI SUSILO, London
Selain kecerdikan meracik strategi di atas lapangan, ada satu bakat lain yang harus dimiliki arsitek Chelsea. Setidaknya menurut media di Inggris. Apa itu? Kemampuan membuat panas Sir Alex Ferguson, arsitek tim terbesar di Inggris, Manchester United. Nah, saat ini hanya ada satu sosok yang dianggap mempunyai dua bakat itu. Yakni, Arsene Wenger, arsitek Arsenal.
Mengusung Wenger ke Stamford Bridge, tampaknya, tidak mungkin dilakukan The Blues. Maka, diliriknya sosok dari luar Inggris. Dan, munculah nama Jose Mourinho. Kabar perekrutan arsitek FC Porto itu semakin kuat ketika media di Inggris menampilkan foto Roman Abramovich, pemilik Chelsea, bersama dengan Direktur Eksekutif Chelsea Peter Kenyon berada di Spanyol. Keduanya dikabarkan mengadakan pertemuan penting dengan Mourinho sebelum laga AS Monaco v Chelsea di Monte Carlo, Rabu dini hari lalu.
Kenyon bahkan telah berada di Spanyol sehari sebelumnya, khusus untuk bertemu Mourinho. Tetapi, Kenyon tak berhasil bertemu langsung dengan Mourinho dan hanya berjumpa dengan orang dekatnya. Fakta ini menguatkan indikasi bahwa Mourinho - yang juga diincar Real Madrid untuk menggatikan Carlos Queiroz - adalah kandidat terkuat pengganti Ranieri.
Posisi Ranieri sendiri sulit untuk dipertahankan seiring hubungannya dengan Abramovich yang semakin memanas. Dalam wawancaranya dengan koran Spanyol, Marca, Ranieri terang-terangan menyerang Abramovich. "Anda tahu? Abramovich tidak tahu sama sekali mengenai sepak bola," kata Ranieri. Pria asal Italia ini menyebut pembelian 11 pemain baru Chelsea musim ini adalah keputusan yang gila!
Kendati sehari kemudian Ranieri membantah pernyataannya itu, tapi dia tetap tidak mampu menutupi fakta bahwa hubungannya dengan Abramovich mulai tidak harmonis. Sebaliknya, pamor Mourinho semakin bersinar saja. Dia mungkin hanya butuh meloloskan Porto ke final Liga Champions sebagai syarat terakhir meyakinkan Abramovich.
Jangan lupa, Mourinho juga memiliki kelebihan lain. Duel psikologis, atau yang di Inggris dikenal dengan sebutan mind game yang sering dilancarkan Ferguson terhadap lawannya sebelum pertandingan, dikuasainya dengan baik. Menjelang laga kedua Babak 16 Besar Liga Champions lalu, Ferguson melancarkan psywar yang menyebut pemain Porto sering berpura-pura cedera untuk mengelabuhi wasit (play-acting).
Tapi, Mourinho balik menyerang dengan mempertanyakan mengapa United sebagai tim besar takut menghadapi tim kecil. Kata-katanya di konfersnesi pers yang disampaikan dengan canda tawa diyakini telah membuat panas publik Old Trafford. Dan, Ferguson khususnya. Kemampuan (baca: memprovokasi Ferguson) itulah yang selama ini hanya bisa diperlihatkan oleh Arsene Wenger dan Arsenal.
Mourinho, seperti juga Wenger, sangat jeli menjaring pemain muda berbakat. Contoh hasil buruannya adalah Derlei, yang pada final Piala UEFA musim lalu dinobatkan sebagai pemain terbaik, dibelinya dengan harga yang tidak seberapa. Musim ini, Mourinho kembali menemukan pemain berbakat lain. Yakni, Carloz Alberto, striker asal Brazil yang masih berusia 19 tahun. Dan, kejelian seperti itulah yang tidak dimiliki seorang Ranieri. (*)
Rabu, 07 Apr 2004
Ketika Nama SBY Lambungkan Suara Partai Demokrat di Washington dan London
Idola Simpatisan Ibu, Dicari Mahasiswi
Kejutan! Partai Demokrat, setidaknya hingga tadi malam, menang di dua TPS elite luar negeri: Washington D.C. dan London. Berikut rekaman pencoblosan di dua TPS yang hasilnya melambungkan partai pengusung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai capres itu.
RAMADHAN POHAN, Washington & NURANI SUSILO, London
WAJAH Yan S. Wiramidjaja berseri-seri. Sesekali senyum mantan aktivitis mahasiswa era Orde Baru ini mengembang. Tanpa ditutupi, Yan mengakui mencoblos Partai Demokrat (PD) dan calon legislatifnya ketika berlangsung pemungutan suara di TPS Washington D.C.
Lucu juga sebenarnya. Sebab, Yan mengakui tidak tahu banyak program partai itu. Tapi, entah mengapa hatinya begitu mantap memilih PD. Ternyata, bukan Yan seorang di Washington D.C. ini yang memilih PD.
Berdasarkan hasil penghitungan suara di TPS Washington D.C. yang berakhir Senin tengah malam (Selasa siang WIB), PD memang berada di posisi teratas dengan 18,8 persen suara. Di posisi kedua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 17,24 persen suara, disusul Partai Damai Sejahtera juga dengan 17,24 persen.
PDI Perjuangan, yang menang di TPS Washington D.C. pada pemilu 1999, kali ini meraih 14,05 persen. Berikutnya adalah Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 7,69 persen, kemudian Partai Golkar dengan 7,16 persen, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 5,03 persen.
Jumlah pemilih terdaftar di Washington D.C. sekitar 1.100 suara. Di ibu kota AS itu, perolehan jumlah suara itu sebenarnya belum final karena masih akan dilengkapi surat suara lewat pos, sekitar 424 suara. Semua surat suara pos itu, kata Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) Washington D.C. A. Helmi Lubis, bakal ditunggu dan dihitung 10 April ini.
Mayoritas WNI di AS memang tidak terdaftar sebagai pemilih dengan beberapa alasan. Ada yang bingung, apatis, maupun karena para parpol di pusat tidak ada yang mengangkat isu-isu terkait kepentingan warga. Banyak pula yang karena takut data mereka bakal diserahkan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) ke kedutaan atau konsulat-konsulat Indonesia, yang selanjutnya menyetorkan data itu ke pihak Imigrasi AS dan FBI.
Faktanya, kecurigaan seperti itu tidak beralasan. Namun, bagi para warga Indonesia yang statusnya di AS ini ilegal dan tidak punya izin kerja, persepsi dan ketakutan itu tetap dipelihara. Pilihannya, mereka tidak hadir di TPS.
Terlepas dari masalah teknis itu dan belum semua suara dihitung, fenomena melesatnya PD, apalagi sebagai partai baru, cukup membelalakkan mata publik di ibu kota AS ini.
"Kebanyakan orang di Amerika ini melihat figur pemimpinnya saja karena memang tidak banyak yang tahu program partai itu. Sejauh ini kita lihat di antara semua kandidat, SBY memang yang paling pantas. Dia kan belum pernah diberitakan terlibat kasus dan skandal korupsi," terang Yan.
Joe Wahyudi, juga pencoblos PD dan rela untuk begadang menanti hingga akhir penghitungan suara, juga tampak ceria. Meski, lelaki asal Surabaya ini tidak sependapat hasil yang dipetik PD itu sebagai kejutan. "Dari dulu kami ini memang sudah yakin bener. Ini sudah pas dan memang ini suara rakyat," jelasnya.
Di kalangan pemilih PD, SBY dipandang sebagai figur paling stabil, sejuk, santun, dan terbukti pengalamannya paling komplit ketimbang para kandidat lain. Rupa-rupanya SBY, yang cuma sebulan menyiapkan kampanye langsung untuk PD, terbukti efektif.
Para pencoblos PD di Washington D.C. selama ini begitu yakin pada pilihan tersebut. Tidak seperti aktivis partai lain yang agak terbuka mempengaruhi massa, simpatisan PD seperti Yan dan Joe menggalang dukungan diam-diam.
Begitulah yang terjadi. Simpatisan PD selama ini memang lebih banyak diam. Tak seperti perwakilan partai lain, tidak sebiji e-mail kampanye pun muncul di milis-milis WNI di ibu kota Paman Sam.
Tapi, ketika penghitungan suara dilakukan dan nama PD berulang-ulang memimpin, aplaus simpatisannya bergema. Perlu tahu, simpatisan PD itu didominasi ibu-ibu. Alhasil, Ruang Presiden KBRI, tempat pencoblosan sekaligus penghitungan suara, jadi riuh dengan teriakan puas para ibu di barisan kursi belakang.
Pada barisan kursi paling belakang itu juga terdapat Dubes Soemadi D.M. Brotodiningrat dan istri bersama DCM KBRI Harry Purwanto dan istri. Mereka tampak senyum-senyum menyaksikan melesatnya suara PD.
Kejutan lain hasil pencoblosan di TPS Washington D.C. ini adalah naiknya dua partai berkarakter primordial agama seperti PKS (Islam), dan PDS (Kristen). Keduanya memperoleh jumlah suara seimbang. Cuma, beda dengan PDS yang selama ini perwakilan maupun simpatisannya condong tidak tampil mencolok du muka publik, justru perwakilan PKS tergolong agresif.
Di berbagai milis komunitas Indonesia di AS, pengurus, kader, dan simpatisan PKS acapkali mengirimkan e-mail atau posting yang memperlihatkan apa dan bagaimana PKS itu. Dan, begitu dipastikan partainya ada di posisi kedua, dengan wajah gembira Wakil PKS Barokah Widodo langsung mengucap, "Alhamdulillah."
Beda dengan hasil di Washington D.C. di mana PD yang teratas, di TPS megapolitan New York urutan suara terbanyak adalah PDS. Baru kemudian masing-masing ada PD, PKS, lantas PDI-P dan PAN. Partai-partai lain meraup persentase suara kecil-kecil. PDS diramalkan juga akan meraih suara besar di TPS Los Angeles, yang hingga berita ini diturunkan tadi malam belum diketahui hasilnya.
Ternyata, tak hanya di Washington D.C. PD memimpin. Di TPS London, PD juga leading. Seperti persepsi banyak pemilih di ibu kota AS tersebut, di ibu kota Inggris pemilih PD juga lebih condong melihat sosok SBY.
Tak percaya? Inilah kejadian nyata saat pencoblosan. Monica, mahasiswi Indonesia di London, tampak bingung pada hari pencoblosan. "Mana sih partainya Pak SBY?" tanyanya sambil mengamati 24 gambar partai kontestan pemilu yang tertempel di dinding KBRI London.
Tanya lugu mahasiswi Program Master di London School of Economics (LSE) sebelum masuk ke bilik suara itu pun jadi bahan guyonan koran ini, beberapa staf KBRI London, dua wartawan media nasional, serta BBC di TPS London. "Lho, sudah mantap memilih, tetapi kok tidak tahu nama partainya ya?" Rata-rata begitu komentar mereka.
Pencoblosan usai. Tiba saat penghitungan suara. Begitu PD disebut dan disebut, beriringan dengan PKS, puluhan WNI pemilih tampak berteriak gembira. PD yang bernomor urut 9 itu pun mendapatkan suara terbanyak dari 285 suara pemilih langsung di TPS London.
PD memperoleh 65 suara. Sementara PKS, yang juga diramalkan banyak pihak di London akan memperoleh suara tinggi, di urutan kedua dengan 63 suara. Baru kemudian ada PDIP dengan 37 suara, PAN 35 suara, Golkar 23 suara, dan PDS dengan 22 suara.
Namun, hasil suara itu masih bersifat sementara karena hanya mencakup suara yang dicoblos langsung. Sedangkan sebagian besar surat suara dikirimkan melalui pos dan baru akan dihitung pada 12 hingga 16 April ini.
"Dari 1.361 daftar pemilih tetap untuk Inggris dan Irlandia, hanya 311 yang memilih langsung di TPS, sedangkan 1.050 mengirimkan suaranya melalui pos," terang Arief Muhammad dari KPPS London kepada koran ini.
Pegawai KBRI London ini juga menyatakan bahwa untuk suara yang dikirim melalui pos, paling lambat bercap pos empat hari setelah hari pemilihan (H+4 atau tanggal 9 April) dan ditunggu selambat-lambatnya H+10 (tanggal 14 April) telah sampai ke sekertariat PPLN di KBRI London.
Alasan sebagian besar pemilih di Inggris dan Irlandia untuk memilih suaranya melaluim pos adalah karena bertempat tinggal di luar kota london dan juga alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, tidak semua pemilih dari luar kota memilih melalui pos, Riefki Muna salah satunya.
Mahasiswa dari Defence Academy of UK yang bertempat tinggal di Swindon (2 jam bermobil ke London) memilih datang langsung ke TPS London di KBRI. "Saya memang sengaja ingin datang langsung ke KBRI, selain itu sekalian juga mengajak anak-anak jalan-jalan ke London," kata peneliti LIPI yang kemarin datang bersama istri dan dua anaknya.
Kegembiraan menghiasi wajah Tomy Firmansyah, Ketua PKS di Inggris, dengan lancarnya pelaksanaan pemilu tahun ini di Inggris. Kegembiraan Tomy, satu-satunya saksi di TPS London, juga bertambah lengkap dengan perolehan suara partainya. Berada di urutan kedua sementara dengan 63 suara itu memang masih kurang dari 250 suara yang ditargetkan partainya.
Namun, partai bernomor 16 itu tentu pantas berharap mendapatkan tambahan suara dari 1.050 pemilih melalui pos yang belum dihitung. Sebagai satu-satunya partai yang mempunyai perwakilan khusus di Inggris, tidak heran bila PKS juga paling aktif melakukan sosialisasi kepada pemilih di Inggris.
"Meskipun hambatan banyak seperti jarak pemilih yang tersebar di berbagai kota serta sulitnya mendapatkan alamat para pemilih itu, namun PKS telah melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk mengenalkan program partai kepada para calon pemilih," kata bapak dua anak yang aktif berkomunikasi melalui e-mail dengan DPP PKS di Jakarta.
Hasil keseluruhan pemilihan TPS London yang hanya memilih anggota DPR Pusat itu akan dimasukkan dalam Daerah Pemilihan (Dapil) Jakarta II. Hasil suara lengkap diharapkan bisa diketahui pada 16 April karena batas akhir suara dari luar negeri paling lambat harus diterima KPU pada 19 April. (*)
Jumat, 19 Mar 2004
Jelang Bursa Tranfser Akhir Musim 2003-2004
Harga Anjlok, Figo-Carlos Siap Dilego
Jangan gampang percaya pada bantahan pemain dan klub. Berdasarkan pengalaman, mereka selalu membantah berita transfer. Padahal, ujung-ujungnya pemain itu benar-benar dijual.
Nurani Susilo, London
SEJAK David Beckham hengkang dari Manchester United ke Real Madrid, muncul keyakinan lebih kuat di bursa transfer Eropa bahwa siapa pun bisa dijual atau dibeli asal harga cocok.
Beberapa tahun lalu, transfer pemain besar antarklub besar sangatlah jarang. Kalaupun terjadi, klub pembeli terpaksa membayar jauh di atas harga pasar. Contoh kasus, Real Madrid harus membayar GBP 48 juta (Rp 744 miliar, Rp 15.500 per GBP) untuk memboyong Zinedine Zidane dari Juventus, 2001 lalu.
Di bursa transfer akhir musim nanti, harga edan-edanan seperti itu tak bakalan terjadi lagi. Banyak faktor (krisis finansial dan lain-lain) yang menyebabkan klub-klub elite siap melepas pemain bintangnya dengan harga yang lebih murah, Juni nanti.
Mungkin kaum gibol menyangka Real Madrid bisa membeli semua pemain terbaik di dunia, berapa pun harganya! Tetapi, jika dilihat lebih dekat akan terpantul kesan berbeda. Diam-diam, Real telah mengisyaratkan dengan jelas ke bursa transfer, bahwa mereka siap melego Roberto Carlos dan Luis Figo. Alasannya, usia kedua bintang tersebut di ambang senja, lebih dari 30 tahun, dan beban gaji besar. Rumors ini mulai terdengar di dressing room (ruang ganti pemain).
Mungkin hanya Ronaldo yang masuk pengecualian. Meski tren nilai transfer diprediksikan bakal menurun, khusus untuk Ronaldo justru semakin menggila. Dengarkan ucapan Jorge Valdano, Direktur Real Madrid. "Pemain seperti Ronaldo sangatlah strategis," kata Voldano, seperti dikutip media-media Eropa, minggu lalu. "Well, 100 juta Euro (Rp 1,05 triliun!) adalah harga yang strategis juga," tambahnya.
Begitulah Voldano mengingatkan bursa transfer bahwa every man has his price. Tapi masalahnya, lakukah Ronaldo dijual dengan harga segila itu? Ini mengingat krisis finansial tengah melanda klub-klub Eropa.
PRAKIRAAN NILAI TRANSFER
Pemain Klub Nilai transfer
Ronaldo Real Madrid Rp 1,05 triliun (100 juta Euro)
David Beckham Real Madrid Rp 310 miliar (20 juta GBP)
Patrick Kluivert Barcelona Rp 18,6 miliar (1,2 juta GBP)
Beckham Hengkang ke Chelsea?
David Beckham, juga kembali meramaikan bursa akhir musim ini. Media-media Inggris memberitakan kemungkinan kembalinya Beckham ke Inggris. Kemungkinan besar ke London Barat: Chelsea! Ini didasarkan pada keengganan Victoria dan kedua puteranya pindah ke Spanyol.
Beckham sendiri, meskipun tetap bersinar di lapangan, tetapi tidak begitu sukses masuk dalam lifestyle Madrid. Mungkin itu pula yang menyebabkan Beckham tidak memperpanjang kontrak rumahnya di Madrid yang habis tahun ini. Dan, tempat yang sudah disiapkan untuk sekolah puteranya, Brooklyn (5 tahun), juga tidak kunjung diisi. Perlu diingat bahwa bagi Beckham keluarga adalah nomor 1. Yang terjadi sekarang dia hanya bisa bertemu keluarganya di akhir pekan. Dia harus terbang pulang pergi Spanyol - Inggris tiap akhir pekan.
Kapten Timnas Inggris menyatakan dengan tegas bahwa ia berkomitmen untuk tetap di Real Madrid, tetapi ia menambahkan: at least for another season (paling tidak untuk satu musim lagi). Karena itu, timbul keyakinan di Inggris, kalau memang harga yang ditawarkan cocok, Real bisa saja menjualnya. Apalagi dengan kemungkinan Beckham tidak mau memperpanjang kontraknya setelah dua tahun.
Harga transfer Beckham dari Manchester United adalah GBP 24 juta (Rp 372 miliar), tetapi seperempat dari jumlah itu baru akan dibayarkan sesuai dengan sukses Beckham di Madrid. Jadi, jika Real gagal merebut juara Liga Champions musim ini, Beckham bisa di jual dengan harga GBP 20 juta (Rp 310 miliar), dan Real masih cukup untung.
Untuk seorang Beckham, Abramovich akan dengan senang hati membelinya dengan harga jauh di atasnya. Sepak bola modern adalah bisnis, dan secara bisnis kemungkinan ini susah untuk ditampik oleh Real Madrid.
Sementara di Nou Camp, Barcelona telah menegaskan kepada Patrick Kluivert, bahwa dia tidak akan mendapatkan kenaikan gaji. Dan, dengan kontraknya yang njlimet, dia siap dilepas dengan harga hanya GBP 1,2 juta (Rp 18,6 miliar). Edgar Davids, pemain pinjaman dari Juventus, bahkan jauh lebih murah. Dia akan bebas kontrak alias gratis akhir musim ini.
Kondisi keuangan Valencia juga tidak begitu bagus. Mereka membutuhkan dana cash. Karena itu, Valencia siap menerima tawaran untuk Pablo Aimar dan Ruben Baraja.*
Jelang Bursa Tranfser Akhir Musim 2003-2004
Harga Anjlok, Figo-Carlos Siap Dilego
Jangan gampang percaya pada bantahan pemain dan klub. Berdasarkan pengalaman, mereka selalu membantah berita transfer. Padahal, ujung-ujungnya pemain itu benar-benar dijual.
Nurani Susilo, London
SEJAK David Beckham hengkang dari Manchester United ke Real Madrid, muncul keyakinan lebih kuat di bursa transfer Eropa bahwa siapa pun bisa dijual atau dibeli asal harga cocok.
Beberapa tahun lalu, transfer pemain besar antarklub besar sangatlah jarang. Kalaupun terjadi, klub pembeli terpaksa membayar jauh di atas harga pasar. Contoh kasus, Real Madrid harus membayar GBP 48 juta (Rp 744 miliar, Rp 15.500 per GBP) untuk memboyong Zinedine Zidane dari Juventus, 2001 lalu.
Di bursa transfer akhir musim nanti, harga edan-edanan seperti itu tak bakalan terjadi lagi. Banyak faktor (krisis finansial dan lain-lain) yang menyebabkan klub-klub elite siap melepas pemain bintangnya dengan harga yang lebih murah, Juni nanti.
Mungkin kaum gibol menyangka Real Madrid bisa membeli semua pemain terbaik di dunia, berapa pun harganya! Tetapi, jika dilihat lebih dekat akan terpantul kesan berbeda. Diam-diam, Real telah mengisyaratkan dengan jelas ke bursa transfer, bahwa mereka siap melego Roberto Carlos dan Luis Figo. Alasannya, usia kedua bintang tersebut di ambang senja, lebih dari 30 tahun, dan beban gaji besar. Rumors ini mulai terdengar di dressing room (ruang ganti pemain).
Mungkin hanya Ronaldo yang masuk pengecualian. Meski tren nilai transfer diprediksikan bakal menurun, khusus untuk Ronaldo justru semakin menggila. Dengarkan ucapan Jorge Valdano, Direktur Real Madrid. "Pemain seperti Ronaldo sangatlah strategis," kata Voldano, seperti dikutip media-media Eropa, minggu lalu. "Well, 100 juta Euro (Rp 1,05 triliun!) adalah harga yang strategis juga," tambahnya.
Begitulah Voldano mengingatkan bursa transfer bahwa every man has his price. Tapi masalahnya, lakukah Ronaldo dijual dengan harga segila itu? Ini mengingat krisis finansial tengah melanda klub-klub Eropa.
PRAKIRAAN NILAI TRANSFER
Pemain Klub Nilai transfer
Ronaldo Real Madrid Rp 1,05 triliun (100 juta Euro)
David Beckham Real Madrid Rp 310 miliar (20 juta GBP)
Patrick Kluivert Barcelona Rp 18,6 miliar (1,2 juta GBP)
Beckham Hengkang ke Chelsea?
David Beckham, juga kembali meramaikan bursa akhir musim ini. Media-media Inggris memberitakan kemungkinan kembalinya Beckham ke Inggris. Kemungkinan besar ke London Barat: Chelsea! Ini didasarkan pada keengganan Victoria dan kedua puteranya pindah ke Spanyol.
Beckham sendiri, meskipun tetap bersinar di lapangan, tetapi tidak begitu sukses masuk dalam lifestyle Madrid. Mungkin itu pula yang menyebabkan Beckham tidak memperpanjang kontrak rumahnya di Madrid yang habis tahun ini. Dan, tempat yang sudah disiapkan untuk sekolah puteranya, Brooklyn (5 tahun), juga tidak kunjung diisi. Perlu diingat bahwa bagi Beckham keluarga adalah nomor 1. Yang terjadi sekarang dia hanya bisa bertemu keluarganya di akhir pekan. Dia harus terbang pulang pergi Spanyol - Inggris tiap akhir pekan.
Kapten Timnas Inggris menyatakan dengan tegas bahwa ia berkomitmen untuk tetap di Real Madrid, tetapi ia menambahkan: at least for another season (paling tidak untuk satu musim lagi). Karena itu, timbul keyakinan di Inggris, kalau memang harga yang ditawarkan cocok, Real bisa saja menjualnya. Apalagi dengan kemungkinan Beckham tidak mau memperpanjang kontraknya setelah dua tahun.
Harga transfer Beckham dari Manchester United adalah GBP 24 juta (Rp 372 miliar), tetapi seperempat dari jumlah itu baru akan dibayarkan sesuai dengan sukses Beckham di Madrid. Jadi, jika Real gagal merebut juara Liga Champions musim ini, Beckham bisa di jual dengan harga GBP 20 juta (Rp 310 miliar), dan Real masih cukup untung.
Untuk seorang Beckham, Abramovich akan dengan senang hati membelinya dengan harga jauh di atasnya. Sepak bola modern adalah bisnis, dan secara bisnis kemungkinan ini susah untuk ditampik oleh Real Madrid.
Sementara di Nou Camp, Barcelona telah menegaskan kepada Patrick Kluivert, bahwa dia tidak akan mendapatkan kenaikan gaji. Dan, dengan kontraknya yang njlimet, dia siap dilepas dengan harga hanya GBP 1,2 juta (Rp 18,6 miliar). Edgar Davids, pemain pinjaman dari Juventus, bahkan jauh lebih murah. Dia akan bebas kontrak alias gratis akhir musim ini.
Kondisi keuangan Valencia juga tidak begitu bagus. Mereka membutuhkan dana cash. Karena itu, Valencia siap menerima tawaran untuk Pablo Aimar dan Ruben Baraja.*
Rabu, 11 Feb 2004
Kolo Toure, Potret Muslim Taat di Skuad Arsenal
Rajin Salat dan Salami Semua Orang
Mungkin susah dipercaya bahwa popularitas seorang Thierry Henry di mata pendukung Arsenal kini mulai mendapat pesaing. Bukan Robert Pires, Patrick Vieira atau Dennis Bergkamp, tapi Kolo Toure. Siapa dia?
NURANI SUSILO, London
Arsitek Arsenal Arsene Wenger hanya bisa geleng-geleng kepala jika ditanya soal pemainnya yang bernama Kolo Toure. Wenger tak menyangka bahwa ia akhirnya menyebut Toure sebagai revelation of the season (penemuan terbesar musim ini). Musim lalu, kendati sudah tampak menjanjikan, tapi performa Toure masih kalah dari bintang The Gunners lainnya. "Sebelumnya dia adalah A Crazy Dog (maaf: seekor anjing gila)," kata Wenger seraya tertawa ketika akhirnya menemukan kata untuk menggambarkan pemainnya itu.
Kolo "Crazy Dog" Toure adalah salah satu alasan mendasar unbeaten record (rekor tak terkalahkan) Arsenal di ajang Premier League Inggris musim ini. Sebelumnya, lini pertahanan adalah salah satu kelemahan mendasar dari klub yang bermarkas London Utara itu. Kondisi itu juga yang menyebabkan mereka harus melepaskan mahkota juara musim lalu ke Manchester United. "Mereka selalu mencetak gol, tapi masalahnya mereka juga kemasukan gol," begitu pendapat umum di Inggris tentang Arsenal musim lalu.
Dan, Toure-lah yang musim ini sukses melakukan beragam penyelamatan gemilang. Permainannya yang lugas membuat lini pertahanan Arsenal sulit ditembus penyerang lawan. Dengan kegemilangannya itu, seperti halnya Henry, Toure kini adalah pemain yang tak tergantikan (indispensable) di skuad The Gunners.
Maka, tak salah bila kubu Arsenal bersorak ketika Pantai Gading kalah 1-2 dari Afrika Selatan dan gagal lolos ke putaran final Piala Afrika 2004. Kekalahan yang membuat Toure dkk untuk kali pertama dalam 20 tahun terakhir gagal lolos ke putaran final Piala Afrika. Keuntungan bagi Arsenal, mereka tak perlu melepas Toure ke turnamen dua tahunan itu.
Untuk kasus Toure, Wenger menemukan keajaiban ekonomi ketika membelinya sangat murah dua tahun lalu. Manajemen Arsenal hanya perlu merogoh koceknya sebesar GBP 150 ribu (sekitar Rp 2 miliar). Sebagai perbandingan, Wenger bisa mendapatkan 200 Toure untuk harga yang dibayarkan Sir Alex Ferguson (arsitek United) membeli Rio Ferdinand (GBP 30 juta).
Anngota tim dan fans Arsenal di Inggris mengenal Toure sebagai seorang muslim yang taat. Dalam sebuah wawancara, Toure menyatakan bahwa ia selalu berusaha menunaikan salat lima waktu di sela-sela kesibukan sebagai pemain profesional. Tentu, tidak mudah ia melakukannya di sebuah tempat dan komunitas nonmuslim. "Tapi, bukan berarti tiba-tiba saya salat di ruang ganti pemain," kata Toure yang memilih tempat tidak mencolok untuk mengerjakan salat.
Hal lain yang dikenang pendukung Arsenal adalah pengakuannya di bulan Ramadan lalu. "Ketika bulan Ramadan dan kebetulan bertanding, saya terpaksa tidak berpuasa. Karena ketika Anda harus memberikan yang terbaik untuk klub, Anda harus makan dan menjadi kuat. Allah akan mengerti hal itu," kata Toure.
"Hey, Kolo the superstar," begitu suatu hari Asisten Pelatih Arsenal Pat Rice memanggil Toure di restoran di kamp latihan The Gunners. Toure dengan malu-malu menolak panggilan itu. Begitulah Toure yang rendah hati, yang hingga kini masih punya kebiasaan menyalami satu persatu semua orang yang ditemuinya setiap hari. "Ia mempunyai tingkah laku yang begitu karismatik yang membuatnya berbeda. Saya langsung membelinya setelah satu minggu masa percobaan," kata Wenger.
Toure dibeli Arsenal dari Asec Mimomas, klub terbesar di kota kelahirannya di Abjidan, Pantai Gading, ketika berusia 21 tahun. Ia tidak lupa selalu menyatakan terima kasihnya kepada Tuhan yang ia katakan sebagai yang memberikan segalanya hingga ia bisa seperti sekarang ini. Juga kepada Wenger yang disebutnya "The Man".
Dalam skuad Arsenal, Toure pernah ditempatkan di semua posisi kecuali penjaga gawang. Namun, ia baru menemukan posisi favoritnya musim lalu ketika dipasangkan bersama Sol Campbell di jantung pertahanan Arsenal. "Saya katakan pada diri saya sendiri untuk memanfaatkan kesempatan ini dan menunjukan kepada the boss bahwa inilah posisi terbaik saya," katanya. Kini Toure menjadi kandidat kuat The Young Player of the Year (pemain muda terbaik) versi PFA (Asosiasi Pemain Profesional Inggris). (*)
Kolo Toure, Potret Muslim Taat di Skuad Arsenal
Rajin Salat dan Salami Semua Orang
Mungkin susah dipercaya bahwa popularitas seorang Thierry Henry di mata pendukung Arsenal kini mulai mendapat pesaing. Bukan Robert Pires, Patrick Vieira atau Dennis Bergkamp, tapi Kolo Toure. Siapa dia?
NURANI SUSILO, London
Arsitek Arsenal Arsene Wenger hanya bisa geleng-geleng kepala jika ditanya soal pemainnya yang bernama Kolo Toure. Wenger tak menyangka bahwa ia akhirnya menyebut Toure sebagai revelation of the season (penemuan terbesar musim ini). Musim lalu, kendati sudah tampak menjanjikan, tapi performa Toure masih kalah dari bintang The Gunners lainnya. "Sebelumnya dia adalah A Crazy Dog (maaf: seekor anjing gila)," kata Wenger seraya tertawa ketika akhirnya menemukan kata untuk menggambarkan pemainnya itu.
Kolo "Crazy Dog" Toure adalah salah satu alasan mendasar unbeaten record (rekor tak terkalahkan) Arsenal di ajang Premier League Inggris musim ini. Sebelumnya, lini pertahanan adalah salah satu kelemahan mendasar dari klub yang bermarkas London Utara itu. Kondisi itu juga yang menyebabkan mereka harus melepaskan mahkota juara musim lalu ke Manchester United. "Mereka selalu mencetak gol, tapi masalahnya mereka juga kemasukan gol," begitu pendapat umum di Inggris tentang Arsenal musim lalu.
Dan, Toure-lah yang musim ini sukses melakukan beragam penyelamatan gemilang. Permainannya yang lugas membuat lini pertahanan Arsenal sulit ditembus penyerang lawan. Dengan kegemilangannya itu, seperti halnya Henry, Toure kini adalah pemain yang tak tergantikan (indispensable) di skuad The Gunners.
Maka, tak salah bila kubu Arsenal bersorak ketika Pantai Gading kalah 1-2 dari Afrika Selatan dan gagal lolos ke putaran final Piala Afrika 2004. Kekalahan yang membuat Toure dkk untuk kali pertama dalam 20 tahun terakhir gagal lolos ke putaran final Piala Afrika. Keuntungan bagi Arsenal, mereka tak perlu melepas Toure ke turnamen dua tahunan itu.
Untuk kasus Toure, Wenger menemukan keajaiban ekonomi ketika membelinya sangat murah dua tahun lalu. Manajemen Arsenal hanya perlu merogoh koceknya sebesar GBP 150 ribu (sekitar Rp 2 miliar). Sebagai perbandingan, Wenger bisa mendapatkan 200 Toure untuk harga yang dibayarkan Sir Alex Ferguson (arsitek United) membeli Rio Ferdinand (GBP 30 juta).
Anngota tim dan fans Arsenal di Inggris mengenal Toure sebagai seorang muslim yang taat. Dalam sebuah wawancara, Toure menyatakan bahwa ia selalu berusaha menunaikan salat lima waktu di sela-sela kesibukan sebagai pemain profesional. Tentu, tidak mudah ia melakukannya di sebuah tempat dan komunitas nonmuslim. "Tapi, bukan berarti tiba-tiba saya salat di ruang ganti pemain," kata Toure yang memilih tempat tidak mencolok untuk mengerjakan salat.
Hal lain yang dikenang pendukung Arsenal adalah pengakuannya di bulan Ramadan lalu. "Ketika bulan Ramadan dan kebetulan bertanding, saya terpaksa tidak berpuasa. Karena ketika Anda harus memberikan yang terbaik untuk klub, Anda harus makan dan menjadi kuat. Allah akan mengerti hal itu," kata Toure.
"Hey, Kolo the superstar," begitu suatu hari Asisten Pelatih Arsenal Pat Rice memanggil Toure di restoran di kamp latihan The Gunners. Toure dengan malu-malu menolak panggilan itu. Begitulah Toure yang rendah hati, yang hingga kini masih punya kebiasaan menyalami satu persatu semua orang yang ditemuinya setiap hari. "Ia mempunyai tingkah laku yang begitu karismatik yang membuatnya berbeda. Saya langsung membelinya setelah satu minggu masa percobaan," kata Wenger.
Toure dibeli Arsenal dari Asec Mimomas, klub terbesar di kota kelahirannya di Abjidan, Pantai Gading, ketika berusia 21 tahun. Ia tidak lupa selalu menyatakan terima kasihnya kepada Tuhan yang ia katakan sebagai yang memberikan segalanya hingga ia bisa seperti sekarang ini. Juga kepada Wenger yang disebutnya "The Man".
Dalam skuad Arsenal, Toure pernah ditempatkan di semua posisi kecuali penjaga gawang. Namun, ia baru menemukan posisi favoritnya musim lalu ketika dipasangkan bersama Sol Campbell di jantung pertahanan Arsenal. "Saya katakan pada diri saya sendiri untuk memanfaatkan kesempatan ini dan menunjukan kepada the boss bahwa inilah posisi terbaik saya," katanya. Kini Toure menjadi kandidat kuat The Young Player of the Year (pemain muda terbaik) versi PFA (Asosiasi Pemain Profesional Inggris). (*)
Rabu, 04 Feb 2004
MilanLab; Kunci Rahasia Sukses AC Milan
Serba Komputer, Risiko Cedera Turun 90 Persen
NURANI SUSILO, London
TERLETAK di pedalaman hutan pinus di Italia Utara, dekat kota kecil Carnago, klub AC Milan menyimpan sebuah rahasia yang ditutup rapat. Di sanalah klub raksasa Italia itu mendirikan Centro Sportivo Milanello, training centre yang terletak 50 km dari Milan.
Disebut rahasia karena keberadaan pemusatan latihan itu baru beberapa hari ini diketahui umum. Itu pun setelah manajemen Milan mengundang para wartawan ke tempat latihan berteknologi tinggi tersebut. Seperti apa latihan di sana?
Menurut laporan harian lokal Inggris The Times, Paolo Maldini bermain di salah satu di antara lima lapangan yang tersedia di pusat latihan itu. Pemain senior itu ditemani Cafu, Rui Costa, dan Filippo Inzaghi. Kelima pemain itu diawasi seorang pelatih yang terus menuliskan segala aktivitas Maldini dkk di sebuah komputer genggam.
Setelah berlatih, mereka pergi ke gymnasium berteknologi tinggi dengan dua papan ditemboknya bertuliskan II squadra dan I squadra. Di setiap gantungan kunci, tertulis nama masing-masing pemain.
Daniele Toghaccini, pelatih fisik Milan, mengambil kunci bertuliskan Inzaghi dan memasukannya ke dalam sebuah komputer. Layar komputer itu kemudian memunculkan segala grafik dan data dari seluruh tubuh dan juga semua otot pemain berusia 30 tahun itu. Toghaccini tampak puas dengan apa yang dilihatnya. Itu berarti Inzaghi telah menyelesaikan latihan sesuai dengan yang diprogramkan komputer.
Sejenak kemudian, Tognaccini masuk ke sebuah ruangan bawah tanah. Begitu pintu dibuka, suasana seperti film Star Trek (sebuah film yang menceritakan kehidupan ruang angkasa) langsung terasa. Di sana hanya ada meja, kursi dan sebuah komputer. Namun, tarasa sekali kecanggihannya.
Tidak berjendela, ruang itu terbagi dua dengan dibatasi kaca. Ruangan ini merupakan yang terakhir yang boleh dilihat para wartawan undangan. Ruangan lainnya tertutup kaca gelap dan tak sembarang orang bisa masuk.
Menurut informasi, ruang rahasia itu adalah tempat penyimpanan data biokimia dan fisik lebih dari 50 pemain sepak bola kelas dunia. Itu merupakan sebuah informasi yang tak ternilai harganya.
Milan telah mengembangkan apa yang mereka sebut dengan pusat penelitian yang unik di sepak bola. Segala teknologi tinggi tersebut digunakan untuk mempelajari dan mengembangkan kesehatan pemain dan program latihan mereka agar membuat lebih fit, baik fisik maupun mental, serta membuat lebih tahan cedera.
Hasilnya adalah sebuah bank data yang didesain untuk membantu pelatih memilih tim terbaik di setiap pertandingan. Selamat datang ke Laboratorium Milan (MilanLab), yang tampak seperti menonton teknologi di film James Bond tetapi terjadi nyata di dunia sepak bola.
MilanLab dibuka pada bulan Juli 2002 lalu. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan Computer Associates (CA, perusahaan software Amerika) selama 18 bulan untuk menghasilkan sebuah sistem terpadu untuk mengetes mental dan fisik pemain sebelum bertanding. Musim lalu, program tersbeut digunakan untuk mengetes pemain senior dan junior Milan.
Program itu dibangun tentu bukan tanpa alasan. Milan berkaca pada pengalaman musim 2000, ketika mereka merasa mulai kesulitan mengulangi masa kejayaan akhir 80-an dan awal 90-an di bawah pelatih Arriogo Sacchi dan Fabio Capello.
Pelatih generasi berikutnya, Alberto Zaccheroni, memang sempat meraih scudetto edisi 1998/99. Tetapi setelah itu, Milan bisa dikatakan gigit jari. Maka, dibelilah Fernando Redondo dari Real Madrid seharga 18 juta Euro. Dengan masa kontrak 3 tahun, dia menjadi salah satu pemain termahal di dunia.
Namun, dalam latihan pertama di Milan, Redondo langsung mengalami cedera lutut kanan dan tidak bisa bermain selama dua musim berikutnya. Investasi Milan pun melayang begitu saja. Bisa dibayangkan, betapa kecewa manajemen Mila kala itu.
Mereka pun mulai berpikir untuk mencari cara efektif agar hal serupa tak terulang lagi. Singkat cerita, kemudian muncul tawaran kerja sama dari Computer Associates.
Pelatih Milan saat ini, Carlo Ancelotti, begitu terkejut dengan hasil dari sistem baru itu. Sejak musim panas 2002, Milan mengalami 90 persen penurunan angka cedera dibandingkan 5 musim sebelumnya. Musim lalu, misalnya, Milan hanya mengalami 3 cedera otot serius sementara musim sebelumnya ada 41 kasus cedera.
Jean-Pierre Meersseman, wakil kordinator kesehatan Milan, mengaku penurunan cedera itu bukan suatu kebetulan semata. Karena itu Milan memutuskan untuk mengoperasikan secara penuh sistem itu mulai musim depan. Dengan tren investasi tinggi di sepak bola modern, keputusan Milan itu cukup masuk akal. "Setiap keputusan bernilai 50 juta Euro, 75 juta Euro atau 49 juta Euro," kata Bruno Demichelis, psikolog Milan sambil menunjuk foto deretan pemain Milan." Ini bisnis yang sangat besar," tambahnya.
Benar. Sebab, total nilai dari 30 pemain Milan sekitar 700 juta Euro (sekitar Rp 6,3 triliun). Dan itu pula yang membuat biaya operasi MilanLab terasa murah dibandingkan manfaat yang bisa didapatkan. "Semua itu serasa gratis," kata Domichelis yang menyatakan bahwa CA memasok software dengan cuma-cuma.
Jika proyek ini sukses, CA akan meraup keuntungan besar dengan menjual sistem ini ke klub-klub lain meskipun perjanjian dengan Milan melarangnya untuk menjual kepada klub asal Italia. Klub Inggris Blackburn Rovers, menurut Tognaccini, sudah meminta untuk melihat MilanLab. Kalau benar berhasil, dipastikan tidak hanya Blackburn Rovers yang akan tertarik untuk memiliki MilanLab. (*)
AKTIVITAS PAOLO MALDINI DI MILANLAB:
Pukul 10.00: Melaporkan diri ke resepsionis. "Neural network" langsung mendeteksi kedatangannya dan mengisi data terbaru kondisi Maldini.
10.30: Latihan di lapangan. Pelatih memasukan hasil observasi dan statistik ke sebuah komputer genggam dan data pun masuk ke network.
11.30: Latihan di Gym. Maldini memasukkan kunci elektroniknya ke setiap mesin setiap kali dia berlatih di grup otot yang berbeda. Akhir latihan, dia memperbarui data pada komputer pusat sebelum mengembalikan kunci miliknya ke tempat semula.
12.30: Makan siang yang telah disiapkan oleh juru masak yang telah diberi data mengenai kebutuhan makanannya hari itu. Juru masak itu melaporkan kepada network mengenai apa dan berapa banyak yang dia konsumsi melalui sebuah komputer di dapur yang diawasi ahli diet.
13.00: Bermain bilyir, kali ini dia tidak dipantau oleh sistem.
13.30: Menjalani serangkain tes penglihatan untuk mengetahui dan menambah kemampuan pandangan, pembedaan warna dan juga kecepatan reaksi mata.
14.00: Berpindah ke biomekanik test. Berjalan di atas sebuah alas yang bertekanan dan dihubungkan pada komputer. Dilanjutkan dengan melompat dengan satu kaki. Kekuatan serta gambar 3 dimensi dari alas itu dan juga kamera infra merah memberikan data-data kepada staf kesehatan.
14.30: menemui ahli psikoteraphy untuk pemeriksaan
15.15: Menemui ahli psikologi untuk pemeriksaan tingkah laku untuk mengetahui kontrol diri, tingat kecemasan dan energi juga perilaku selama latihan dan sosialisasi.
16.30: Kembali mengenakan keca mata hitamnya dan masuk ke mobil Porche miliknya. Sebelum meninggalkan tempat itu, dia sempat memberikan tanda tangan dan berfoto dengan penggemarnya yang menunggu di luar gerbang.
MilanLab; Kunci Rahasia Sukses AC Milan
Serba Komputer, Risiko Cedera Turun 90 Persen
NURANI SUSILO, London
TERLETAK di pedalaman hutan pinus di Italia Utara, dekat kota kecil Carnago, klub AC Milan menyimpan sebuah rahasia yang ditutup rapat. Di sanalah klub raksasa Italia itu mendirikan Centro Sportivo Milanello, training centre yang terletak 50 km dari Milan.
Disebut rahasia karena keberadaan pemusatan latihan itu baru beberapa hari ini diketahui umum. Itu pun setelah manajemen Milan mengundang para wartawan ke tempat latihan berteknologi tinggi tersebut. Seperti apa latihan di sana?
Menurut laporan harian lokal Inggris The Times, Paolo Maldini bermain di salah satu di antara lima lapangan yang tersedia di pusat latihan itu. Pemain senior itu ditemani Cafu, Rui Costa, dan Filippo Inzaghi. Kelima pemain itu diawasi seorang pelatih yang terus menuliskan segala aktivitas Maldini dkk di sebuah komputer genggam.
Setelah berlatih, mereka pergi ke gymnasium berteknologi tinggi dengan dua papan ditemboknya bertuliskan II squadra dan I squadra. Di setiap gantungan kunci, tertulis nama masing-masing pemain.
Daniele Toghaccini, pelatih fisik Milan, mengambil kunci bertuliskan Inzaghi dan memasukannya ke dalam sebuah komputer. Layar komputer itu kemudian memunculkan segala grafik dan data dari seluruh tubuh dan juga semua otot pemain berusia 30 tahun itu. Toghaccini tampak puas dengan apa yang dilihatnya. Itu berarti Inzaghi telah menyelesaikan latihan sesuai dengan yang diprogramkan komputer.
Sejenak kemudian, Tognaccini masuk ke sebuah ruangan bawah tanah. Begitu pintu dibuka, suasana seperti film Star Trek (sebuah film yang menceritakan kehidupan ruang angkasa) langsung terasa. Di sana hanya ada meja, kursi dan sebuah komputer. Namun, tarasa sekali kecanggihannya.
Tidak berjendela, ruang itu terbagi dua dengan dibatasi kaca. Ruangan ini merupakan yang terakhir yang boleh dilihat para wartawan undangan. Ruangan lainnya tertutup kaca gelap dan tak sembarang orang bisa masuk.
Menurut informasi, ruang rahasia itu adalah tempat penyimpanan data biokimia dan fisik lebih dari 50 pemain sepak bola kelas dunia. Itu merupakan sebuah informasi yang tak ternilai harganya.
Milan telah mengembangkan apa yang mereka sebut dengan pusat penelitian yang unik di sepak bola. Segala teknologi tinggi tersebut digunakan untuk mempelajari dan mengembangkan kesehatan pemain dan program latihan mereka agar membuat lebih fit, baik fisik maupun mental, serta membuat lebih tahan cedera.
Hasilnya adalah sebuah bank data yang didesain untuk membantu pelatih memilih tim terbaik di setiap pertandingan. Selamat datang ke Laboratorium Milan (MilanLab), yang tampak seperti menonton teknologi di film James Bond tetapi terjadi nyata di dunia sepak bola.
MilanLab dibuka pada bulan Juli 2002 lalu. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan Computer Associates (CA, perusahaan software Amerika) selama 18 bulan untuk menghasilkan sebuah sistem terpadu untuk mengetes mental dan fisik pemain sebelum bertanding. Musim lalu, program tersbeut digunakan untuk mengetes pemain senior dan junior Milan.
Program itu dibangun tentu bukan tanpa alasan. Milan berkaca pada pengalaman musim 2000, ketika mereka merasa mulai kesulitan mengulangi masa kejayaan akhir 80-an dan awal 90-an di bawah pelatih Arriogo Sacchi dan Fabio Capello.
Pelatih generasi berikutnya, Alberto Zaccheroni, memang sempat meraih scudetto edisi 1998/99. Tetapi setelah itu, Milan bisa dikatakan gigit jari. Maka, dibelilah Fernando Redondo dari Real Madrid seharga 18 juta Euro. Dengan masa kontrak 3 tahun, dia menjadi salah satu pemain termahal di dunia.
Namun, dalam latihan pertama di Milan, Redondo langsung mengalami cedera lutut kanan dan tidak bisa bermain selama dua musim berikutnya. Investasi Milan pun melayang begitu saja. Bisa dibayangkan, betapa kecewa manajemen Mila kala itu.
Mereka pun mulai berpikir untuk mencari cara efektif agar hal serupa tak terulang lagi. Singkat cerita, kemudian muncul tawaran kerja sama dari Computer Associates.
Pelatih Milan saat ini, Carlo Ancelotti, begitu terkejut dengan hasil dari sistem baru itu. Sejak musim panas 2002, Milan mengalami 90 persen penurunan angka cedera dibandingkan 5 musim sebelumnya. Musim lalu, misalnya, Milan hanya mengalami 3 cedera otot serius sementara musim sebelumnya ada 41 kasus cedera.
Jean-Pierre Meersseman, wakil kordinator kesehatan Milan, mengaku penurunan cedera itu bukan suatu kebetulan semata. Karena itu Milan memutuskan untuk mengoperasikan secara penuh sistem itu mulai musim depan. Dengan tren investasi tinggi di sepak bola modern, keputusan Milan itu cukup masuk akal. "Setiap keputusan bernilai 50 juta Euro, 75 juta Euro atau 49 juta Euro," kata Bruno Demichelis, psikolog Milan sambil menunjuk foto deretan pemain Milan." Ini bisnis yang sangat besar," tambahnya.
Benar. Sebab, total nilai dari 30 pemain Milan sekitar 700 juta Euro (sekitar Rp 6,3 triliun). Dan itu pula yang membuat biaya operasi MilanLab terasa murah dibandingkan manfaat yang bisa didapatkan. "Semua itu serasa gratis," kata Domichelis yang menyatakan bahwa CA memasok software dengan cuma-cuma.
Jika proyek ini sukses, CA akan meraup keuntungan besar dengan menjual sistem ini ke klub-klub lain meskipun perjanjian dengan Milan melarangnya untuk menjual kepada klub asal Italia. Klub Inggris Blackburn Rovers, menurut Tognaccini, sudah meminta untuk melihat MilanLab. Kalau benar berhasil, dipastikan tidak hanya Blackburn Rovers yang akan tertarik untuk memiliki MilanLab. (*)
AKTIVITAS PAOLO MALDINI DI MILANLAB:
Pukul 10.00: Melaporkan diri ke resepsionis. "Neural network" langsung mendeteksi kedatangannya dan mengisi data terbaru kondisi Maldini.
10.30: Latihan di lapangan. Pelatih memasukan hasil observasi dan statistik ke sebuah komputer genggam dan data pun masuk ke network.
11.30: Latihan di Gym. Maldini memasukkan kunci elektroniknya ke setiap mesin setiap kali dia berlatih di grup otot yang berbeda. Akhir latihan, dia memperbarui data pada komputer pusat sebelum mengembalikan kunci miliknya ke tempat semula.
12.30: Makan siang yang telah disiapkan oleh juru masak yang telah diberi data mengenai kebutuhan makanannya hari itu. Juru masak itu melaporkan kepada network mengenai apa dan berapa banyak yang dia konsumsi melalui sebuah komputer di dapur yang diawasi ahli diet.
13.00: Bermain bilyir, kali ini dia tidak dipantau oleh sistem.
13.30: Menjalani serangkain tes penglihatan untuk mengetahui dan menambah kemampuan pandangan, pembedaan warna dan juga kecepatan reaksi mata.
14.00: Berpindah ke biomekanik test. Berjalan di atas sebuah alas yang bertekanan dan dihubungkan pada komputer. Dilanjutkan dengan melompat dengan satu kaki. Kekuatan serta gambar 3 dimensi dari alas itu dan juga kamera infra merah memberikan data-data kepada staf kesehatan.
14.30: menemui ahli psikoteraphy untuk pemeriksaan
15.15: Menemui ahli psikologi untuk pemeriksaan tingkah laku untuk mengetahui kontrol diri, tingat kecemasan dan energi juga perilaku selama latihan dan sosialisasi.
16.30: Kembali mengenakan keca mata hitamnya dan masuk ke mobil Porche miliknya. Sebelum meninggalkan tempat itu, dia sempat memberikan tanda tangan dan berfoto dengan penggemarnya yang menunggu di luar gerbang.
Subscribe to:
Posts (Atom)