Monday, December 29, 2003

Bursa Transfer di Bulan Januari
(Jawa Pos, Selasa 30 Januari 2003)

NURANI SUSILO, London

Musim perburuan pemain datang lagi. Mulai pekan ini , klub-klub Premier League Inggris mempunyai kesempatan untuk melakukan jual beli pemain. Fokus perhatian komunitas bola Inggris kini tertuju pada apa yang bakal dilakukan tiga klub besar (Mancehster United, Arsenal, dan Chelsea) pada bursa transfer tahap II tersebut.

Tidak seperti Januari lalu, awal 2004 ini ketiga klub tersebut sama-sama mengantongi modal untuk belanja pemain. Chelsea, kendati masih teka-teki, menyimpan dana tak terbatas dari sang pemilik baru Roman Abramovich. Kubu United menyediakan sekirtar 30 juta poundsterling (sekitar Rp 405 miliar) untuk modal arsitek tim Sir Alex Ferguson. Arsenal tak mau kalah. Klub dari London ini mempunyai sekitar 15 juta poundsterling (sekitar 200 miliar) untuk meramaikan bursa pemain.

Kendati memiliki modal yang sama-sama berlimpah, belum tentu tiga klub raksasa itu bakal benar-benar "bermain" di bursa transfer. Sebab, mendapatkan pemain idaman dalam waktu singkat tidak mudah. Apalagi, baik United, Arsenal, dan Chelsea masih berlaga di pentas Liga Champions. So, mereka harus mencari pemain bisa diturunkan di ajang tersebut. Ini berarti pemain tersebut tidak pernah bermain di Liga Champions atau Piala UEFA musim ini.

Seperti biasa, Chelsea, tampaknya, masih akan menjadi pemain utama dalam bursa transfer mendatang. Dalam dua pekan terakhir, arsitek Claudio Ranieri dikabarkan tengah mengajukan proposal untuk memboyong Thiery Henry (Arsenal) dan David Trezeguet (Juventus). Tetapi The Blues - julukan Chelsea - juga dikaitkan dengan nama lain seperti Pavel Nedved (Juventus), Fransesco Totti (AS Roma), dan Michael Ballack (Bayern Munich) kabarnya juga tengah dirayu untuk hengkang ke Stamford Bridge.

Namun, yang paling realistis dari perburuan Chelsea adalah Roberto Ayala (Valencia). Kendati sebelumnya gagal dalam dua kali pembicaraan awal, tapi pemain asal Argentina itu dikabarkan bisa segera berbaju Chelsea dengan banderol 10,2 juta poundsterling (sekitar 140 miliar).

Bagaimana United? Klub juara bertahan ini menyatakan tak terlalu bernafsu mendapatkan pemain baru. Namun dengan cedera yang menerpa Mikael Silvestre dan John O’Shea, serta bakal absennya Rio Ferdinand dalam waktu lama, membuat Ferguson perlu pemain belakang baru. Hanya, ia sendiri mengaku kesulitan mendapatkannya.

"Saya tidak melihat banyak pemain bagus tersedia. Kalau Roberto Ayala saja dihargai 20 juta poundsterling (sekitar Rp 270 miliar), itu membuktikan langkanya pemain belakang yang bagus," kata Ferguson seperti dikutip The Times. Pemain belakang Middlesborough Gareth Soutghate adalah yang mungkin akan dibeli United.

Ferguson punya lebih banyak pilihan untuk striker baru, meskipun itu pun tidak mudah. "Banyak spekulasi, tapi tidak semudah yang orang pikir. Apa yang kita cari adalah pemain yang tidak bermain di kompetisi antarklub Eropa," katanya. Karena itu, Ferguson tertarik dengan Louis Saha (Fulham) dan dilaporkan menyiapkan tawaran 6 juta poundsterling (sekitar Rp 81 miliar). Hanya, manajemen Fulham dengan tegas menolak tawaran itu.

Alternatif lainnya adalah Mark Viduka (Leeds). Tapi, Leeds susah untuk melepas pemain asal Australia itu karena mereka masih berutang sekitar Rp 81 miliar kepada Girlings, perusahaan keuangan yang memberi pinjaman ketika membeli Viduka dari Celtic. Jermain Defoe (West Ham) adalah opsi yang lain, tetapi dengan harga Rp 135 miliar dan rekor displin yang buruk membuat United, tampaknya, akan mencari target lain.

Defoe sendiri juga diminati Arsenal. Kendati menyatakan niatnya tak akan membeli pemain baru, manajer Arsenal Arsene Wenger telah mendapatkan lampu hijau dari wakil direktur David Dein untuk belanja pemain Januari nanti. Kabarnya, The Gunners tertarik dengan pemain belakang Eric Abidal (AS Monaco). "Memang ada uang jika pemain yang ideal bisa didapatkan Januari. Tapi, saya belum melihat target yang berarti saat ini. Saya tidak akan membelanjakan uang tetapi sia-sia," kata Wenger.

Siapa akan membeli siapa? Kita tunggu jawabannya akhir bulan depan.***




Tuesday, December 23, 2003

Riogate dan Shock Therapy ala FA
(Jawa pos, 21 des 2003)

Nurani Susilo, London

Awal tahun lalu Christian Negouai, pemain tengah Manchester City mangkir pemeriksaan tes obat terlarang. Alasannya adalah ia menjemput saudaranya ke bandara. Ia bebas tanpa hukuman dan hanya dikenai uang denda GBP 2000. Selain itu, kasus nya pun ditangani dengan diam-diam oleh FA (Football Association, PSSI-nya Inggris).

Mengapa ketika kejadian itu berulang, yaitu oleh Rio Ferdinand, pemain asal klub Manchester United maka hukumannya menjadi berat, larangan bermain selama 8 bulan dan denda GBP 50 ribu? Apakah karena ia pemain termahal di Inggris (dibeli United dari Leeds seharga GBP 30 juta) atau karena ia pemain klub terbesar dan paling terkenal di Inggris?
Tidak hanya itu, kasus Riogate ini juga sudah ramai sejak awal, tidak ditangani secara diam-diam seperti kasus Negouai.

Sejak kasus ini muncul di Inggris tiga bulan lalu, memang telah menimbulkan shock di publik Inggris. Bahkan disebut-sebut sebagai skandal terbesar di sepakbola Inggris, jika Rio terbukti bersalah memakai obat terlarang alias doping.

Meskipun Rio dikemudian hari diketahui tidak mengkonsumsi doping, tetapi hanya mangkir dari pemerisaan yang secara berkala dilakukan di Liga Inggris kepada pemainnya yang dipilih secara random (acak) kasus ini tetap ramai. Selain melibatkan pemain terkenal dari klub terbesar juga menyorot FA dan terakhir bahkan melibatkan Presiden FIFA Stepp Blatter.

Ketika akhirnya komite independen yang beranggotakan tiga orang yaitu Barry Bright, Roger Burden dan Frank Pattison memutuskan sanksi larangan bermain selama 8 bulan (terhitung mulai 12 Januari 2004) dan denda GBP 50 ribu kembali menghasilkan shock. Karena keputusan itu tidak hanya merugikan United, tetapi juga Timnas Inggris yang berarti akan bermain tanpa Rio di Final Euro 2004 tahun depan.

Rio dilain pihak, tentu saja yang paling shock dengan keputusan itu. Sejak ia mangkir tes doping 23 September lalu, dengan alasan lupa karena pindahan rumah--tetapi kemudian terbukti berbelanja di Manchester Shopping Center --tidak pernah berpikir bahwa ia dalam masalah yang serius. Bagaiaman tidak yakin, 36 jam sesudah mangkir tes ia menjalani tes ulang dan hasilnya negatif, ia didampingi oleh pengacara terkenal Ronald Thwaites yang dikabarkan dibayar GBP 250 per jam oleh United dan juga Maurice Watkins pengacara yang juga direktur United.

Meskipun pengacara FA juga tidak kalah hebat, Mark Gray adalah pengacara olahraga terkemuka dengan spesialisai kasus doping. Tetapi Rio, United, Sven Goran Eriksson dan pemain Liga Inggris dan publik yakin hukuman terberatnya hanyalah 3 bulan dan kemungkinan besar bahkan lolos tanpa sanksi seperti yang terjadi dengan pemain Manchester City.

FA dan sepakbola Inggris dalam beberapa tahun terakhir di anggap tidak serius dalam menangani masalah doping. Tampaknya dengan kasus ini Mark Palios, direktur FA yang baru ingin mengubah citra lembaga yang berkantor di Soho Square London. Tindakan keras mereka juga bukan tanpa alasan, karena dalam peraturan FA mengenai doping jelas disebutkan: ‘’Jika pemain gagal atau menolak untuk memberikan sample ia akan dianggap bersalah menggunakan obat terlarang dan memungkinkan untuk dikenai hukuman’’.

Jadi, disamping kontroversi atas perlakuan terhadap kasus Rio, tetapi hukuman yang diterimanya memang beralasan. Ketika pemain Mancester City lolos dari kasus serupa, maka sanksi 8 bulan untuk Rio adalah standar baru yang kemungkinan besar tidak akan terulang. Karena tidak akan ada lagi pemain sepakbola di Inggris yang akan lupa untuk menghadiri tes doping setelah Rio.

Kalau semua pihak shock, memang itulah yang diharapkan FA, kalau seorang Rio Ferdinand saja tidak bisa lepas dari hukuman berat, maka tidak akan ada pemain lain yang akan lolos. Begitu kini tertanam dibenak semua pemain dan klub sepakbola di Inggris. Dan jika salah satu tugas FA adalah untuk mendisiplinkan pemainnya, maka mereka telah melakukan dengan baik melalui Shock Therapy.***
Michael Owen, Gerrard Houllier dan Piala Champion
(Jawa Pos, 19 des 2003)

Nurani Susilo, London

Adakah kehidupan di luar Liga Champion? Tampaknya tidak bagi Liverpool, khususnya dua pilar pentingnya: striker Michael Owen dan manajer Gerard Houllier.
Nasib dua nama yang saat ini identik dengan klub di Inggris tengah itu akan ditentukan dengan berhasil atau tidaknya Liverpool lolos ke Liga Champion musim depan. Berarti minimal bertengger di empat besar Liga Inggris.

Awal Minggu lalu, Direktur Liverpool David Moores dalam laporan di depan pemegang saham menegaskan bahwa kualifikasi ke Liga Champion musim depan adalah ‘’target minimal yang harus dicapai’’. Meskipun kemudian diklarifikasi oleh klub, pernyataann itu diartikan jelas sebagai ultimatum untuk Gerard Houllier.
Tentu saja manajer asal Prancis mengerti benar akan ancaman dari Moores kepada posisinya.Tetapi ada bahaya lain jika Liverpool gagal lagi untuk lolos ke kejuaraan paling bergengsi di Eropa, tidak hanya untuk Houllier tapi juga untuk Moores dan Liverpool. Yaitu, potensi untuk kehilangan aset terbesar mereka: Michael Owen.

Owen adalah pivotal figur (pemain terpenting) di Anfield atau yang disebut di Amerika sebagaifranchise player. Tidak hanya sebuah tim yang bisa dibangun disekeliling Owen, tetapi juga sebuah klub, dengan kemampuan namanya menarik fans dan juga sponsor. Masalahnya, ia akan selesai kontraknya dalam waktu 18 bulan kedepan. Artinya, sebelum Liga Inggris musim depan dimulai ia harus sudah menandatangani kontrak perpanjangan.
Jika deal baru tidak tercapai, maka opsi terbaiknya --untuk menghindari free transfer –adalah menjual Owen. Tetapi ini juga menjadi opsi yang sulit bagi Liverpool, karena tanpa Owen struktur Liverpool harus berubah total.

Owen sendiri tampaknya menunda proses pembicaraan itu sampai nasib Liverpool di LigaChampion sudah pasti. ‘’Liga Champion adalah satu-satunya tempat bagi pemain sekelasnya,’’ dikatakan Owen kepada orang-orang terdekatnya. Dan juga ditegaskan oleh Steven Gerard yang percaya bahwa rekannya akan meninggalkan Liverpool, dan mungkin juga dirinya, jika timnya berakhir di luar empat besar Liga.

Begitu pentingkah Liga Champion, sehingga nasib pemain dan manajer menjadi taruhan? Minggu lalu pertandingan terakhir grup telah menghasilkan drama di beberapa negara Eropa. Tetapi di Inggris, hanya partai Arsenal vs Locomotiv Moscow yang paling mempunyai arti. Bahkan disebut Arsenal sebagai partai terbesar dalam sejarah mereka, masalahnya bukan terbesar prestasi tetapi karena Arsenal membutuhkan tambahan uang. Lolos ke setiap putaran Liga Champion artinya tambahan minimal GBP 10 juta, ini yang menjadi faktor terpenting bagi klub.

Tetapi kenyataannya, meskipun penonton Inggris yang memang paling fanatik tetap menonton pertandingan timnya di Liga Champion, home ataupun away, lain dengan daratan Eropa. Juventus hanya ditonton 12.500 ketika menjamu Olympiakos. Dan hanya 25 ribu yang datang ke Bernabeu ketika Real Madrid bertanding melawan Porto.

Fakta itu menunjukan bahwa Liga Champion itu lebih ditujukan untuk siaran televisi. Alasannya simpel, TV menghasilkan uang lebih banyak dibanding penonton di stadion. Karena itu penting yang dikatakan jurubicara Uefa di undian 16 besar Jumat lalu. Bahwa penonton TV naik 9 persen, sementara pertandingan 1-5 ditonton rata-rata tigaperempat stadion alias seperempatnya kosong. Ia tidak menyebut penonton partai terakhir yang jumlahnya jauh lebih menurun.

Sebaliknya sejak puluhan tahun kesetiaan penonton dengan Liga domestik tidak pernah luntur, Spanyol, Italia, Jerman dan tentu saja Inggris pertandingan di dalam negeri selalu menarik penonton terbanyak. Bahkan di Inggris kehidupan sehati-hari warganya tidak bisa lepas dari pertandingan timnya di Liga Premier.

Karena itu pula faktor penonton mungkin perlu juga dipertimbangkan Liverpool dalam menentukan nasib Houllier, dan juga pertimbangan bagi Owen untuk menentukan langkahnya. Karena perlu diingat tanpa gelar Piala Champion pun ia telah terpilih sebagai European Footballer of The Year (pemain terbaik Eropa). Belum lagi kiprah pemain yang baru beruasia 24 tahun ini di timnas Inggris, selalu dipuja. Artinya, masih ada kehidupan lain di luar Liga Champion. ***

Kekalahan King Henry, Kekalahan Premier League(Jawa Pos, 17 Des 2003)

Nurani Susilo, London

Terpilihnya Zanedine Zidane dianggap wajar bagi praktisi ataupun penggemar sepakbola di seluruh dunia, tetapi tidak di Inggris. Kecewa bahwa pemain yang diunggulkan di Inggris, Thiery Henry gagal menjadi yang terbaik tentu saja wajar. Tetapi ada faktor lain yang menurut publik dan media Inggris menggagalkan pemain yang bagi pendukung Arsena dijuluki ‘’King Henry’’.

Sejak penghargaan The Player of the Year diadakan tahun 1991, penerimanya selalu pemain di Liga Italia atau Spanyol . Kenyataan itu membuat reaksi yang muncul dengan kekalahan Thiery Henry adalah bahwa siapapun bisa menjadi pemain terbaik dunia asal bermain di Liga Italia atau Liga Spanyol. Bahkan untuk Ronaldo dan Zidane, mereka mendapatkan penghargaan tertinggi itu ketika bermain di Italia dan juga Spanyol.

Apakah juga prestasi di Piala Champion dan Piala Dunia yang menjadi perhitungan? Sejak FIFA memilih pemain terbaik 12 tahun lalu, hanya satu klub Liga Inggris yang menjuarainya Manchester United di tahun 1999. Jadi Henry mungkin akan lebih meyakinkan 142 pelatih nasional itu jika Arsenal bisa lolos ke babak akhir Piala Champion musim lalu.

Sementara bagi pemain sepakbola asal Inggris, jika tropi juara alasannya, kemungkinan terpilih menjadi lebih kecil karena timnas mereka tidak pernah menjadi juara di turnamen besar dalam 12 tahun terakhir. Setidaknya bagi Henry, meskipun tanpa Piala Champion tetapi menjadi pemain di tim juara Dunia 1998 dan Euro 2000.

Benarkah begitu, hanya Piala Champion dan Piala Dunia yang diperhitungkan? Ternyata tidak. Tidak semua pemain terbaik yang terpilih menggengam tropi juara, Rivaldo misalnya yang menjadi pemain terbaik FIFA ketika bermain di Barcelona tahun 1999. Tidak ada Piala Champion bagi Nou Camp, meskipun tahun itu Barcelona menjadi Juara La Liga. Dan karena tahun itu juga tidak berlangsung Piala Dunia, maka pemain asal Brazil itu bisa dikatakan terpilih karena permainanya di lapangan.

Mengapa kategori Rivaldo ini tidak bisa terjadi bagi Thiery Henry. Ini yang membuat rekasi Inggris menjadi negatif terhadap kekalahan pemain asal klub Arsenal ini, tanpa bermaksud mengecilkan Zidane.
Ada fakta lain yang menurut media Inggris perpengaruh dengan gagalnya Henry dan pemain lain asal Liga Inggris menjadi pemain terbaik FIFA. Yaitu alasan yang sama bahwa pemain asal Amerika Selatan (Brazil dan Argentina misalnya) punya sejarah untuk memilih Spanyol sebagai persinggahan pertama untuk berkiprah di sepakbola Eropa. Dan kadang-kadang, melihat kepindahan ke Italia sebagai langkah selanjutnya yang wajar.

Faktor like dan dislike itu mungkin tidak secara langsung menggagalkan pemain Premiership untuk menerima penghargaan FIFA. Apalagi Liga Inggris justru mempunyai penonton terbanyak di seluruh dunia. Lalu apa salahnya Liga Inggris? Reputasi! Begitu jawaban media Inggris. Dari 142 pelatih nasional itu diyakini tidak sedikit yang berpendapat bahwa Liga Inggris itu keras dan vulgar dibanding indahnya La Liga dan cantiknya Serie A.

Dan namanya reputasi atau stereotypes memang susah dihilangkan. Seperti musik dangdut di Indonesia, disuka banyak orang tetapi dianggap kalah kelas atau kurang indah dibanding pop ataupun jenis musik lain. Popularitas Liga Inggris boleh saja mendunia, dan paling banyak di penonton tetapi seperti juga reputasi terhadap musik dangdut, untuk banyak orang, khususnya 142 pelatih nasional yang menjadi juri pemain terbaik FIFA, The Premiership ada dibawah kelas La Liga atau Serie A.***

Statistik mengapa Thiery Henry di unggulkan di Inggris:
Pemain penampilan gol Assists
Ronaldo 45 37 6
Thiery Henry 36 24 18
Zinedine Zidane 44 10 17
Arena AufSchalke di Gelsenkirchen, Tuan Rumah yang Tidak Dikenal
(Jawa Pos, 15 des 2003)

Nurani Susilo, London

Pertandingan Chelsea melawan Besiktas yang sedianya dilangsungkan di Istambul, Turki dipindah ke Jerman karena alasan ancaman teroris. Menguntungkan bagi Chelse, begitu komentar di Eropa, karena bisa menjadi ajang pemanasan seadainya tim asal London itu lolos ke final Piala Champion. Karena, stadion Jerman yang dipakai dalam pertandingan beberapa hari lalu adalah Arena AufSchalke di Gelsenkirchen, yang akan menjadi tempat digelarnya final kejauaraan klub terbesar di Eropa itu.

Terpilihnya Gelsenkirchen sebagai tuan rumah final Piala Champion Mei tahun depan menimbulkan dua pertanyaan di Eropa. Pertama, dimana? Dan kedua, mengapa stadion yang tidak terkenal bisa mengalahkan Paris, Madrid dan Vienna?

Gelsenkirchen adalah kandang bagi Schalke 04, klub yang dominan di Jerman era 30 sampai 40-an, diperhitungkan oleh tetangga mereka seperti Borussia Dortmund, Bayer Leverkusen. Dan sampai kini hanya Dortmund yang mengalahkan mereka sebagai tim dengan penonton terbanyak di Bundesliga.

Tetapi faktor penonton terbanyak bukanlah alasan terpilihnya Arena AufSchalke sebagai tuan rumah Piala Champion. Syarat utama yang ditetapkan Uefa untuk menggelar final kejuaraan sepakbola terbesar di Eropa adalah mempunyai status ‘’five star ‘’(bintang lima). Kini, hanya ada 15 stadion di Eropa yang masuk dalam kategori tersebut, dan Arena AufSchalke adalah yang terbaru masuk dalam kategori stadion elit tersebut.

Meskipun tidak terkenal, stadion ini adalah salah satu yang paling modern di dunia. Diresmikan Agustus 2001, Arena AufSchalke mempunyai kapasitas penonton lebih dari 61 ribu, setara dengan Old Trafford yang menjadi tuan rumah final musim lalu. Dan seperti juga Amserdam Arena, Arena AufSchalke juga mempunyai atap yang bisa dibuka atau ditutup. Hebatnya lagi, lapangan untuk bertanding dibangun diatas landasan yang dibawahnya dipasang semacam rel, sehingga bisa ditarik keluar stadion!

Dan ketika ‘’keajaiban’’ itu terjadi, maka Arena AufSchalke berubah menjadi kandang bagi Rhein Fire, klub sepakbola ala Amerika yang menyewa Arena dimana dengan penonton 34 ribu tiap pertandingan merupakan klub American Football terbesar di Eropa.

Selain itu terpilihnya Arena Aufschalke juga karena murahnya tiket pertandingan, yang diharapkan bisa menarik minta bagi fans muda. Dalam pertandingan Liga Jerman, harga tiket berkisar antara GBP 5,60 sampai GBP 9. Harga itu termasuk transportasi gratis menuju dan pulang dari Arena. Bagi Inggris, yang harga tiket pertandingan Premiership paling murah adalah GBP 30 tentu menimbulkan keheranan.

Sebabnya ternyata karena Arena AufSchalke adalah stadion pertama yang dibangun dan dikelola oleh perusahaan swasta. Hanya GBP 3 juta dari total GBP 105 juta biaya pembangunan dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat.

Ketika Glasgow menjadi ajang final Real Madrid melawan Bayer Leverkusen di final Piala Champion 2002, diperkirakan menghasilkan devisa hingga GBP 20-25 juta untuk hari itu. Dan usai pertandingan itu, Glasgow terus menarik wisatawan dari Jerman dan Spanyol.

Meskipun dengan stadion yang lebih megah, Gelsenkirchen diragukan untuk bisa menyamai keuntungan yang diperoleh Glasgow. Tetapi paling tidak setelah menjadi tuan rumah final kejuaraan sepakbola yang menurut Arsene Wenger dan Sir Alex Ferguson lebih penting dari Piala Dunia, akan mengakhiri komentar di Eropa:’’Gelsenkirchen? Never heard of it? Atau kalau di Indonesia menjadi ‘’Gelsenkirchen? Tidak pernah dengan tuh?’’***