Tuesday, January 18, 2005

Mohon Maaf, saya tidak lagi meng-up date blog ini.
Silakan klik rumah saya yang baru di sini.


Terima kasih telah mampir

Nurani Susilo

Monday, July 12, 2004

Dan EURO 2004 pun Telah Berakhir di Inggris
Ketika bendera-bendera itu tidak lagi dikibarkan
Jawa Pos,26 Juni 2006

Nurani Susilo. London

Gary, tetangga koran ini di London memasang bendera st George Cross di jendela depan dan belakang rumahnya, serta juga di mobilnya yang tampak robek karena terpaan angin kencang yang beberapa hari ini menerpa London.

Kemarin pagi, bendera di jendela Gary tidak tampak lagi. Bendera di mobilnya pun diturunkan, dan alasannya bukan karena bendera itu robek. Tetapi karena bagi Gary, juga warga Inggris lain Euro 2004 telah berakhir kemarin malam waktu Inggris. Kembali, pesta sepakbola di Inggris harus berakhir cepat secara dramatis.

Piala Dunia 1990 dan 1988, dan Piala Eropa 1996 pesta di Inggris berhenti karena tendangan penalti. Sejarah tampaknya berulang, untuk keempat kalinya tim Inggris kembali pulang karena kalah melalui tendangan penalti. "Kekalahan dengan cara ini adalah kekecewaaan besar, tetapi sepertinya ini selalu dialami Inggris," kata Michael Owen juga mewakili kekecewaaan Inggris.

Di Inggris, meskipun kecewa dengan keputusan wasit yang menganulir gol Sol Cambell dimenit-menit terakhir pertandingan, Urs Meier, wasit itu tidak lah dijadikan kambing hitam kepulangan tim mereka. Juga bukan gagalnya penalti David Beckham apalagi Darius Vassel. Inggris kalah karena tidak menampilkan permainan terbaiknya, end of story.

"Jika kalah melalui penalti adalah kejam bagi Inggris, maka akan lebih jauh lebih kejam jika Portugal kalah dalam pertandingan itu". Begitu kesimpulan The Times, salah satu koran bergengsi di Inggris. Demikian juga pendapat the Guardian atau pun BBC yang mengakui bahwa Portugal berhak untuk menang. Hanya tabloid seperti the Sun dan juga the Mirror yang menjadikan wasit asal Swiss dan David Beckham sebagai headline mereka.

"Ada kalanya Inggris sepertinya bermain melawan 12 orang, satunya berasal dari Swiss (wasit) ,?" begitu pertanyaan BBC usai pertandingan. "Saya tidak akan berkomentar tentang itu. Meskipun kita tidak beruntung dengan apa yang terjadi di pertandingan itu, tapi begitu lah sepakbola," jawabnya.

Kehilangan Wayne Rooney, pemain Inggris paling cemerlang di Euro 2004 itu pun tidak pula dijadikan alasan bagi Sven Goran Eriksson. "Saya tidak akan menyatakan bahwa kita akan memenangkan pertandingan seandainya Rooney tidak cedera," kata pelatih asal swedia yang di dukung media-media Inggris untuk tetap menjadi manajer sampai Piala Dunia 2006 mendatang.

"Kali ini Sven Goran Eriksson akan membalas Luiz Filipe Scholari, karena berbeda dengan Piala Dunia 2002 Inggris punya Wayne Rooney". Begitu salah satu keyakinan di Inggris sebelum pertandingan melawan Portugal, mengenang kekalahan Inggris di perempat final Piala Dunia dari Brazil, tim yang juga dibawah asuhan Scolari.

Ternyata, Sven kembali tampil tanpa Rooney yang cedera dimenit ke-27 (hasil scan memperlihatkan cedera tulang metatarsal, seperti yang dialami Beckham menjelang Piala Dunia 2002). Namun, bukan itu pula penyebab utama skor 2-0 bagi kedua manajer. Tim Scolari kembali mengalahkan tim Eriksson karena anak-anak asuh manajer asal Brazil itu bermain dengan lebih baik, secara teknik dan juga semangat tinggi.

Kini, jika Anda berkunjung ke London serta wilayah Inggris yang lain tidak ada lagi gegap gempita Piala Eropa. Suasana berkabung akan begitu terasa dalam beberapa hari ini, dan tidak akan cepat bisa dilupakan. Seperti juga Inggris belum bisa melupakan kekalahan-kekalahan timnya di turnamen besar sebelumnya.

Gary, tetangga saya, tidak akan lagi tergesa-gesa pulang dari kantornya untuk bisa sampai di rumah ketika tim kesayangannya bertanding di pk. 17.00 atau 19.45 waktu Inggris. Bagi bapak satu anak itu, EURO 2004 telah berakhir ketika Ricardo menjebol gawang David James. Dan di Inggris Gary tidak lah sendirian, ada jutaan Gary yang lain yang kini tidak lagi peduli dengan apa yang sedang terjadi di Portugal.

Ritual Inggris ini akan diulang lagi nanti pada tahun 2006 saat Piala Dunia di Jerman. Bendera-bendera milik Gary akan kembali di kibarkan, tentu saja dengan harapan bisa terus berkibar sampai babak final.***

"Zizou Watch Out, Kita Bertemu Lagi di Final" Mengandalkan Internet, Senang Croatia Tidak Menang
Jawa Pos,19 Juni 2004

Nurani Susilo, London

Pk.16.15 waktu Inggris ketika sebuah email muncul di minute by minute laporan pertandingan di website the Guardian, "Saya ingin tahu, adakah pembaca yang punya ide bagaimana untuk bisa keluar dari kantor saat seperti ini,"tanya Peter Newman yang tidak bisa menonton tim Inggris karena jam kantornya belum usai. "Karena terjun dari lantai dua bangunan gedung ini tampaknya terlalu berlebihan meskipun bagi fans Inggris yang paling fanatik," katanya melalui email kepada the Guardian.

Peter Newman tidak lah sendirian, banyak warga Inggris yang terpaksa tidak bisa menonton pertandingan tim kesayangannya karena pertandingan melawan Swiss itu dimulai pk. 17.00 waktu Inggris. Artinya, masih jam kerja untuk sebagian kantor di Inggris, meskipun ada beberapa kantor yang punya kebijakan mengijinkan karyawannya untuk pulang lebih awal agar bisa menonton pertandingan dimana Inggris tidak boleh kalah.

Walhasil, Peter dan fans Inggris lain yang bernasib tidak beruntung itu mengandalkan internet di komputer mereka untuk mengikuti laporan menit per menit pertandingan yang dilakukan oleh media-media Inggris seperti BBC, the Guardian serta the Times. "Tuhan memberkati kalian yang berada di redaksi olahraga," begitu bunyi email dari Vesna Pavlovic. "Karena satu-satunya cara saya menonton pertandingan ini adalah dengan memencet tombol refresh di komputer untuk melihat hasil pekerjaan kalian," katanya.

Namun suasana pertandingan yang tidak mengenakan tersebut justru menghasilkan skor yang menggembirakan semua orang di Inggris. Meskipun dikatakan bermain jelek, Inggris memenangkan pertandingan melawan Swiss dengan skor 3-0. David Beckham dkk naik ke posisi kedua grup dan tidak jadi pulang awal menyusul tim Rusia.

Sebelum pertandingan pendukung di Inggris begitu nervous takut timnya kalah, ingatan kekalahan dengan Prancis di menit-menit terakhir- meskipun tim st Geroge Cross bermain bagus -benar-benar menghantui mereka. Apalagi dengan kenyataan jika Inggris kalah, maka tim asuhan Sven Goran Eriksson itu harus angkat kopor dari Portugal.

Ketakutan itu semakin diperparah karena ada tradisi buruk bahwa setiap kali pertandingan timnas Inggris di turnamen besar di siarkan ITV, tidak pernah menang sejak Euro 1996. Bukti terakhir adalah pertandingan melawan Prancis hari Sabtu lalu, akhirnya tetap kalah meskipun di menit menjelang peluit dibunyikan. Maka ketika partai Inggris-Swiss ini juga dipegang ITV (selama Euro 2004 ITV berbagi siaran dengan BBC) maka ketakutan timnya akan kalah semakin menjadi di Inggris.

Penonton di Inggris paling tegang ketika di menit ke-44 babak pertama, Swiss diganjar free kick. Ingatan tendangan bebas Zinadine Zidane yang menyamakan kedudukan di pertandingan sebelumnya masih berbekas nyata. Untung nasib buruk itu tidak berulang lagi melawan Swiss.

Usai pertandingan, ketegangan di Inggris belum juga reda karena menunggu hasil pertandingan Prancis melawan Kroatia, karena penampilan Kroatia yang bagus. Jika Prancis kalah maka Inggris harus mengalahkan Kroatia Senin depan untuk bisa lolos ke babak selanjutnya. Dengan asumsi Swiss kemudian dikalahkan Prancis, yang melihat penampilan mereka di dua pertandingan sebelumnya, kemungkinannya terlihat besar.

"Demi Tuhan, mengapa Swiss yang lolos kualifikasi dan bukan Republik Irlandia," begitu penyesalan di Inggris melihat penampilan buruk Swiss yang membuat Prancis tampaknya akan dengan mudah mengalahkan mereka. Kalau saja yang lolos Republik Irlandia yang diperkuat oleh Roy Keane maka mengalahkan Prancis menjadi lebih memungkinkan, begitu perhitungan Inggris dalam skenario Kroatia mengalahkan Prancis. Baru ketika gol kedua Prancis melalui David Trezeguet membobol gawang Kroatia, publik Inggris lega.

Dengan hasil itu maka Inggris hanya butuh seri di pertandingan terakhir grup untuk lolos ke putaran berikutnya. Tidak hanya Beckham dkk yang kepercayaan dirinya meningkat usai kemenangan 3-0 melawan Swiss, publik Inggris pun demikian. "Saya harap tim Inggris telah selesai mandi dan ikut menonton pertandingan Croatia-Prancis," tulis Adrian Coleman. "Meskipun Inggris bermain buruk, tetapi tetapi kemenangan 3-0 membuktikan sesuatu," tambahnya.

Akhirnya, ia dan juga pendukung Inggris yang lain yakin adanya prospek untuk membalas kekalahan menyakitkan timnya dengan Prancis. "Zizou (panggilan Zinadine Zidane) Watch out! Kita akan bertemu lagi di final,"tantang Andrian Coleman yang tentu didukung fans Inggris dimana pun berada.***
Dan Inggris pun Hanya Bisa Terdiam
Jawa Pos,15 Juni 2004

Nurani Susilo, London

"Ini tidak akan mudah, Tapi kalau Inggris bisa selamat maka kemenangan ada di tangan ," begitu kata Sir Bobby Robson, komentator pertandingan Inggris-Prancis di ITV ketika Zidane bersiap-siap melakukan free kick. Berapa detik kemudian, tendangan Zidane membuahkan gol dan layar ITV yang semula gegap-gempita menjadi sunyi, tanpa suara.

"Are you speechless now ?" begitu Clive , pertanyaan komentator pendamping Sir Bobby memecah kesunyian. Tidak ada jawaban terdengar, hanya terdengar helaan nafas panjang dari mantan manajer Inggris yang kini menjadi Manajer Newcastle United.

"Selama mereka tidak kemasukan gol lagi, hasil seri adalah yang terbaik yang bisa kita harapkan sekarang," kembali terdengar suara Sir Bobby. Ternyata yang terjadi di lapangan justru sebaliknya, David James menjatuhkan Thierry Henry dan mendapat ganjaran finalti untuk Prancis. Sekali lagi Zidane menjadi algojo, dan kembali ia menjebol gawang Inggris. Prancis 2 Inggris 1.

Suasana semakin terlihat sunyi, ITV mengalihkan siarannya ke komentator di studio yang suasananya juga tidak berbeda dengan di lapangan. Ke empat komentator pun terdiam, tidak bisa berkata apa. Hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara itu, di salah satu Bar di London seorang gadis keluar ruangan untuk menghirup udara segar setelah 90 menit berdesak-desakan dengan pengunjung lain yang semua tengah menyaksikan pertandingan pertama tim kesayangannya.

Setelah sejenak menghirup segarnya udara dan memulihkan tenggorakannya yang sakit karena terus berteriak ,"Maaf saya harus segera kembali ke dalam, "katanya kepada seorang reporter koran Inggris. Yang ia tidak tahu, ketika ia sesaat berada di luar itu, Prancis telah dua kali membobol gawang Inggris.

Gadis yang sama keluar lagi dari bar berisi ratusan orang yang kini sunyi. Ia tidak lagi tegesa-gesa kembali ke dalam bar, tetapi berjalan gontai meninggalkannya.

Suasana di ITV dan juga cerita tentang gadis berkoas tim Inggris itu adalah gambaran mengenai apa yang terjadi kemarin malam di Inggris. Ketika semua pihak yakin Inggris berhasil mengalahkan tim tetangganya Prancis, namun dalam sekejap keadaaan berubah 180 derajat. Kaget dan tidak percaya hingga tidak bisa berkata apa-apa adalah reaksi umum yang terjadi di Inggris usai peluit pertandingan dibunyikan.

Begitu juga suasana yang terjadi di kantor-kantor redaksi media cetak di Inggris, menjelang waktu cetak untuk edisi terawal yang naik ke percetakan pk 22.00. Headline halaman 1 sudah siap dengan berita kemenangan Inggris. Halaman belakang juga dipenuhi gambar dan berita kemenangan pertama tim st George Cross.

Namun pk 21.45, ketika bertandingan berakhir di Inggris semua berita yang telah disiapkan itu harus di bongkar ulang. Dengan menyisakan waktu 15 menit, sebelum dikirim ke percetakan. Akhirnya, surat kabar Inggris edisi paling pagi -yang biasanya dibeli oleh para pekerja dalam perjalanan ke kantor - hanya menampilkan sedikit tulisan tentang kekalahan Inggris di halaman 1 dan halaman terakhir. Sementara halaman dalam masih bernuansa seolah Inggris menang dalam pertandingan tersebut.

Kalaupun selalu dikatakan, anything can happen in football (apapun bisa terjadi dalam sepakbola) namun kekalahan dari Prancis di menit-menit terakhir itu disebut di Inggris sebagai the cruellest defeat you can imagine (kekalahan paling kejam yang bisa dibayangkan). Ketika David Beckham meninggalkan lapangan pertandingan sambil menangis, ia tidak sendirian. ***
Wanita, Anggur dan Musik Blues, Formula Inggris di Euro 2004
Jawa Pos, 14 Juni 2004

Nurani Susilo, London

Manajer timnas Inggris Sven Goran Eriksson mempunyai resep khusus bagi skuadnya selama berlangsungnya Euro 2004 kali ini. Tidak seperti turnamen lain sebelumnya, kali ini pelatih asal Swedia ini mengenalkan kebijakan radikal, yaitu membolehkan sex bahkan minuman beralkohol kepada David Beckham dkk.

Kebijakan baru Eriksson dan petinggi FA ini adalah rejim yang paling rileks dalam sejarah timnas Inggris. Yang adalah bagian dari kebijakan baru yang menekankan kepada pemberian kepercayaan kepada pemain daripada menerapkan daftar panjang yang berisi larangan dan hukuman.

Karena itu sejak hari Jumat lalu, istri dan pasangan anggota timnas Inggris, beserta anak-anaknya bergabung ke Portugal untuk mendampingi David Beckham dkk. Termasuk diantaranya Victoria Beckham bersama Brooklyn dan Romeo, Alex pasangan Steven Gerrard dan bayinya Lily-Ella dan juga Coleen, pacar pemain termuda Inggris Wayne Rooney.

Sementara ketika Piala Dunia 2002 lalu, istri dan pasangan para pemain baru datang menjelang pertandingan Inggris melawan Brazil, sebagai bonus karena lolos ke babak perempat final. Selain tidak melarang sex, 23 anggota squad Inggris juga dibolehkan mengkonsumsi anggur dengan jumlah yang wajar.

Kenikmatan tim st George Cross ini sangat bertentangan dengan kondisi 15 tim lain yang menerapkan disiplin tinggi. Italia, misalnya, hanya mengijinkan pemainya menghabiskan waktu dengan keluarganya maksimal satu jam dan telah dijadwalkan dan tidak membolehkan sama sekali sex malam sebelum pertandingan. Beckham dkk dibolehkan menghabiskan malam bersama selama Inggris masih bertahan turnamen. Sumber dari FA, seperti dikutip The Times menegaskan bahwa tidak ada larangan melakukan hubungan sex bagi timnya, "Kita memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan kapan waktu untuk melakukannya sehingga tetap bisa mempertahankan kondisi terbaiknya bagi tim," katanya.

Tim Jerman, di lain pihak dilarang untuk mengkonsumsi apapun jenis minuman yang mengandung alkohol. Anggota tim Inggris dibolehkan untuk minum beberapa gelas anggur untuk melengkapi makan mereka setelah pertandingan. Jerman juga menyiapkan sanksi berat, termasuk ancaman di pulangkan dari Portugal, kepada pemain yang ketahuan pergi ke bar atau minum alkohol. "Jika pemain keluar semalaman, hukuman terberatnya adalah akan dipulangkan, "kata juru bicara tim panser. Kembali, pemain Inggris mendapatkan istimewa dengan tidak ada pembatasan untuk waktu tertentu, namun begitu Eriksson mengharapkan pemain tidak meninggalkan hotel setelah makan malam pk 19.00.

Tidak hanya itu, pemain Jerman juga dilarang melakukan hubungan sex sebelum pertandingan, dan sebagai gantinya menganjurkan untuk skuadnya minum air sebanyak-banyaknya. "Sex beberapa jam sebelum pertandingan akan menimbulkan masalah, di udara panas Portugasl yang paling dibutuhkan adalah minum, minum dan minum," kata Tim Meyer, doktor tim mereka. Sex sebelum pertandingan, menurut Meyer akan menimbulkan kelelahan fisik dan mental bagi pemain yang bersangkutan.

Di luar Women dan Wine tersebut, timnas Inggris masih akan medapatkan kesemempatan untuk menonton film,membaca buku dan juga mendengarkan musik. Koleksi buku, DVD dan juga CD yang disiapkan telah dipilih secara hati-hati oleh Eriksson dan juga FA untuk memberikan gabungan antara motivasi, inspirasi sekaligus juga relaksasi. CD penyanyi blues Norah Jones dan Outkast adalah dua diantaranya. Buku yang disediakan antara lain adalah biografi dari Lance Amstrong, pembalap sepeda asal Amerika Serikat yang berjudul It’s Not About the Bike.

Salah satu tugas berat FA setiap turnamen adalah bagaimana membuat anggota timnya yang terdiri dari para bintang milyuner puas selama turnamen. Itu juga alasan mengapa FA memilih komplek Hotel Solplay seharga GBP 6 juta. Satu fasilitasnya adalah mini-cinema compleks untuk para pemain Inggris menonton film, pertandingan langsung tim lain juga rekaman pertandingan.

Akan berhasilkah formula khusus Sven Goran Eriksson itu? Hasil pertamanya sudah Anda saksikan dinihari tadi dalam pertandingan pertama melawan Prancis. ***
Demi Pertandingan Inggris vs Prancis, Penonton Inggris Sewa Jet Pribadi
Jawa Pos,13 Juni 2004

Mendekati kick off pertandingan pertama Inggris melawan Prancis, tiket pertandingan masih banyak tersedia dengan harga terus turun, namun justru tiket pesawat dan hotel yang sulit di dapatkan. Karena itu sebagian penonton Inggris memilih menyewa pesawat jet untuk pulang-pergi Inggris-Portugal.

Nurani Susilo, London

Jangan salah sangka bahwa semua penonton sepakbola asal Inggris adalah hooligans. Dari perkiraan lebih dari 50 ribu pendukung tim st George Cross yang akan hadir di Portugal, hanya sebagian kecil yang berpotensi membuat kerusuhan, atau yang dikenal luas sebagai hooligans. Sebagian besar adalah penonton baik-baik yang datang dari kalangan menengah ke atas.

Bagi sebagian besar penonton non hooligans ini, uang bukanlah masalah tapi waktu justru yang menjadi hambatan. Karena itu jangan terkejut kalau banyak dari pendukung David Beckham dkk terbang ke Portugal menggunakan pesawat jet pribadi. Alasan utamanya karena sulitnya mencari hotel dan tiket pesawat beberapa hari menjelang pertandingan Inggris melawan Prancis.

Tiket pesawat biasa yang tersisa harganya melonjak mencapai GBP 900 dengan tawaran lama tinggal minimal 3-4 hari. Akhirnya banyak yang beralih menggunakan jasa layanan terbang yang biasa dipakai David Beckham, yaitu menyewa jet pribadi. Dengan pilihan ini, mereka tidak akan menginap di Portugal tetapi datang di Minggu pagi dan kembali ke Inggris usai pertandingan malam harinya. Dengan lama perjalanan kurang dari dua jam, tidak ada halangan bagi mereka untuk kembali bekerja pada hari Senin. Lalu kembali terbang ke portugal pada hari pertandingan Inggris yang lain.

Berapa harga kemewahan ala Beckham itu? Sewa pesawat jet jenis Hawker 125 yang berkapasitas 8 penumpang-- lengkap dengan bar dikabin—mencapai GBP 10 ribu hingga GBP 12 ribu. "Kalau terbang bersama 6-8 orang teman, maka ini menjadi pilihan yang menggiurkan bagi mereka, bahkan tidak hanya bagi yang berpenghasilan tinggi,"kata Chris Rooney, direktur Bookajet Aviations Services, perusahaan persewaan jet yang biasa di pakai Beckham kepada The Times.

Diperkirakan lebih dari 30 ribu penonton Inggris akan menyaksikan pertandingan pertama timnya melawan Prancis. Dan tambahan hingga 30 ribu akan menyusul untuk pertandingan berikutnya melawan Kroatia dan Swiss. Sementara menurut The Lisbon Tourist Board, semua hotel di kota-kota penyelenggara pertandingan telah terpesan sejak Desember lalu.

Ketika tiket penerbangan dan hotel sulit di dapat, tiket pertandingan Inggris vs Prancis justru masih tersedia, khususnya melalui pasar gelap. Harganya pun terus turun menjelang kick off karena banyaknya supply. "Awalnya mencapai GBP 600 kini terus turun, justru hotel dan tiket pesawat lebih mahal dan sulit didapat dibanding tiket pertandingan itu sendiri," kata Barry Bristow, Direktur Airtrack, perusahaan tour olahraga Inggris.

Menurut dua orang fans Inggris, Jonathan Connoly dan Mark Dudgean kepada BBC online menyatakan bahwa tiket bahkan sempat mencapai harga GBP 700. Namun mereka berdua telah mendapatkan jauh-jauh hari di internet dengan separuh harga lebih murah. "Kita membayar GBP 350 untuk Prancis dan GBP 300 untuk Swiss, tetapi kita akan membayar berapun harganya," aku mereka.

Football Associasion (FA atau PSSI-nya Inggris), melaporkan menjual sebanyak 17 ribu tiket kepada penonton yang tergabung dalam FA supporters club. Dimana semua anggotanya telah diperiksa oleh polisi. Namun demikian FA juga menyatakan bahwa lebih dari 80 ribu tiket terjual melalui website Uefa kepada pembeli dengan alamat Inggris tanpa adanya pemerkisaan polisi. Artinya besar kemungkinan para hooliogans bisa lolos ke Portugal karena mendapatkan tiket melalui internet tersebut.

Sampai bulan lalu, home office (kementerian dalam negeri Inggris) telah melakukan larangan terbang ke Portugal kepada hampir 2700 orang yang di duga adalah hooligans. Jumlah itu meningkat tajam dari Euro 2000 dimana hanya 100 orang yang dinyatakan terlarang menonton turnamen itu di Belgia dan Belanda.

Sementara itu, Kepala tim polisi Inggris di Portugal, David Swiff membantah adanya berita yang menyatakan bahwa beberapa dari hooligans yang dilarang terbang itu berhasil lolos ke Portugal. "Kalau Anda memegang paspor mereka, tidak akan mudah bagi mereka untuk bepergian,"katanya seperti dikutip BBC. Menurut pengakuannya, pihak kepolisian kini menahan 2000 hingga 2300 paspor penonton yang diyakini adalah hooligans. "Sepertinya beberapa dari mereka membuat klaim dan berbicara dengan media, tetapi ketika kita cek ke rumahnya, mereka semua ada di rumah," paparnya.

Semoga saja benar, penonton Inggris yang ada di Portugal kali ini bebas dari hooligans. Karena kalau hooligans Inggris kembali membuat kerusuhan, maka bagaimana bagusnya penampilan tim Inggris di Euro 2004 mereka akan dipulangkan.***
Demam Euro 2004 di Inggris
Jawa Pos,12 Juni 2004

Dari Pasang Bendera sampai Tambah Stok Bir

Ada yang berbeda dengan tampilan rumah dan mobil di Inggris dalam beberapa hari belakangan. Sekarang, di jendela rumah, dan kaca mobil hampir semua mengirbarkan bendera Inggris . Tak hanya itu, supermarket dan pub kini juga menambah stok bir mereka untuk menyambut perhelatan akbar bernama Euro 2004.

Nurani Susilo, London

"Bendera ini bentuk dukungan saya terhadap Inggris yang berlaga di Portugal," ungkap Geoff Marlow, seorang pemilik pub di Birmingham, seperti dikutip BBC News. Sudah beberapa hari ini Geoff memasang bendera Inggris, the st George Cross di jendela pub-nya. Ia juga memasang dua bendera yang lebih kecil di kaca mobilnya.

Ada banyak Geoff Marlow di Inggris. Di London saja, dari pantauan wartawan koran ini, hampir semua mobil memasang bendera putih dengan silang warna merah itu. Permintaan bendera Inggris ini memang melonjak tajam. Sampai hari Jumat lalu, ada sekitar tiga juta bendera Inggris terjual. Itu baru yang dijual oleh satu perusahaan yang tengah menunggu pasokan tambahan bendera Inggris dari Cina.

Asda, salah satu jaringan supermarket di Inggris, menurut salah satu tabloid terbitan London, telah menjual 38 ribu bendera Inggris mini. Sementara itu, Sainsbury’s, pesaing Asda yang juga sponsor resmi tim nasional Inggris, menjual 75 ribu bendera ukuran besar. Data ini belum termasuk berbagai bendera yang dikasih ke pembaca secara cuma-cuma oleh beberapa koran dan tabloid.

Bila dibandingkan dengan Piala Dunia 2002 lalu atau Euro 1996 yang digelar di Inggris, kali ini greget dan bentuk dukungan terhadap tim nasional memang berbeda. "Sekarang ini, jumlah warga yang memasang bendera jauh lebih banyak. Mungkin saja orang sekarang merasa bangga bisa menunjukkan dukungan moral kepada tim Inggris," kata Scott Ridley, salah satu pengusaha bendera seperti dikutip harian Mirror di London.

Namun, maraknya pemasangan bendera ini juga membuat beberapa dewan kota kuatir. Menurut mereka, pemasangan bendera di mobil bisa mengganggu lalu lintas dan membahayakan pengendara. Bahkan mereka mengancam akan mendenda bus umum atau taksi yang memasang bendera. Langkah dewan kota ini ditanggapi secara berbeda. Ada yang setuju namun ada pula yang dengan keras menentang aksi tersebut.

Yang juga panen dari demam Euro 2004 adalah toko elektronik dan pembuat bir. Warga mayoritas Inggris yang tak bisa menonton langsung ajang akbar ini, tentu akan mengikuti tim kesayangan mereka melalui layar televisi. Beberapa jaringann toko elektronik telah memasang iklan besar-besaran menawarkan pesawat televisi dari mulai ukuran saku sampai ukuran raksasa (plasma TV) dengan harga miring.

Begitu juga dengan pembuat bir, minuman beralkohol yang identik sebagai kawan nonton bola di Inggris. Sudah sejak beberapa pekan terakhir, para pembuat bir menawarkan kaleng dan botol bir edisi khusus Euro 2004, dengan menampilan para bintang timnas Inggris seperti Michael Owen di kaleng tersebut.

Di Inggris terdapat sekitar 60 ribu pub, dan lebih dari separuhnya akan mengelar acara semecam nonton bareng. Mereka juga telah bersiap untuk menambah stok bir mereka yang menurut laporan BBC News tambahan jutaan liter bir telah disiapkan para pemilik pub.Jumlah itu belum termasuk Supermarket juga menambah stok penjualan mereka. Langkah ini tidak mengherankan karena hampir semua pembeli di supermarket tampak mendorong troli berisi bir kalengan atau pun dalam kemasan botol.

Alhasil, dari deman turnamen Piala Eropa ini, berputar uang lebih dari 1 miliar poundsterling. (*)
Steven Gerrard, Tulang Punggung Inggris di Euro 2004
Jawa Pos,11 Juni 2004

Lupakan sejenak David Beckham, kapten tim yang tampil dengan tato baru di lehernya, atau pun striker Michael Owen. Bagi Sven Goran Eriksson dan juga publik Inggris, pemain kunci dalam tim st Gerorge Cross di Euro 2004 adalah Steven Gerrard.

Nurani Susilo, London

"Ia kini disebut sebagai pemain sepakbola paling berpengaruh di Inggris. Jika ada kelemahan dalam penampilannya, saya belum pernah melihatnya, "begitu kata Paul Scholes tentang Steven Gerrard, kapten muda Liverpool. Sir Alex Ferguson memberi julukan kepada "the new Roy Keane" dan sangat mengharapkan Stevie, begitu panggilan akrabnya, bergabung dengan Manchester United.

Kali ini tampaknya, harapan Inggris tidak lagi ada pada David Beckham atau Michael Owen, tetapi pada pemain kelahiran Liverpool yang di Inggris kini dipuja karena single-handedly, sendirian, menyelamatkan klubnya hingga bisa lolos kualifikasi Liga Champion musim depan. Jadi kalau pun kini harapan negeri asal sepakbola ini berada di pundaknya, Stevie tidak akan merasakan beratnya. Tidak hanya Inggris yang menganggapnya pentingnya kedudukannya di Euro 2004, Arsene Wenger dan Gerard Houllier, dua manajer asal Prancis pun dalam wawancara dengan the Sunday Times, juga sependapat tentang Steven Gerrard.

Bagaimana ia menerimanya? "Ah yes, the usual suspects," jawabnya santai kepada wartawan di Sardinia beberapa waktu lalu ketika disinggung mengenai posisinya bagi timnas Inggris. Namun ia berubah menjadi sangat serius ketika berbicara peluang Inggris di Portugal serta ambisi pribadinya untuk menebus ketidakikutsertaannya dalam Piala Dunia 2002 karena cedera.

Salah satu yang dinantikannya di Portugal, juga ditunggu tidak sabar di Inggris, adalah bermain melawan idolanya, Zinedine Zidane. Ia lalu bercerita, musim panas 1998, enam bulan sebelum pertandingan pertamanya di Liverpool, Steven Gerrard muda duduk di sofa rumah orang tuanya begitu terpesona dengan aksi Zidane di televisi. "Sejak itu saya mengaguminya dan mengikuti terus kariernya,"akunya.

"Jika ada yang berkata ketika Piala Dunia 1988 itu, kalau saya akan bertanding melawannya di Euro 2004, saya tidak akan percaya, itu sesuatu yang tidak mungkin,"katanya. "Menjadi aneh rasanya, saya yang selalu menonton dan bertepuk tangan dengan aksinya tiba-tiba harus berhadapanan dengannya dan berupaya untuk menghentikannya melakukan sesuatu yang saya sangat kagumi,"tambah bapak muda dari Lily-Ella, puterinya yang masih bayi bersama pasangannya Alex.

Kini, ia tengah berkonsentrasi dengan tantangan pertamanya itu, pertandingan pertama Inggris melawan Prancis hari Minggu mendatang. "Dalam pandangan saya, saya melihat pada pertarungan di lapangan tengah. Saya tahu Vieira,Zidane, Pires, Makelele dan Decourt adalah pemain top, tetapi saya kira Veiera juga akan melihat pemain tengah Inggris dalam posisi yang sama. Pertandingan itu akan ditentukan oleh tim mana yang mampu memaksimalkan kemampuan mereka hari itu," papar pemain yang baru berusia 24 tahun ini.

"Saya yakin mereka sangat percaya diri sebagai juara bertahan, namun jika kita memperoleh hasil yang baik –menang atau seri—akan menjadi momentum yang bisa mengantarkan kita ke final. Kita berpikir untuk memenangkan turnamen ini, kita merasa punya kemampuan untuk menghadapi semua tim. Kita semua percaya diri, dan kini saatnya untuk mewujudkannya," tegasnya.

"Secara pribadi, saya akan sangat kecewa jika kita gagal mencapainya. Saya bermain di Euro 2000 masih bocah, hanya berharap untuk menikmatinya dan bisa terpilih dalam tim. Kali ini saya mengharapkan bermain dari awal dan membuat kontribusi besar,"tekadnya. Tidak salah kalau harapan negeri yang gila sepakbola itu ditumpukan padanya.***

Saturday, May 29, 2004

Jumat, 28 Mei 2004

Gabung United, Dicaci seperti Cantona-Ferdinand

Dalam hitungan minggu, Alan Smith berubah dari pahlawan Elland Road menjadi musuh nomor 1.

NURANI SUSILO, London

SELAMA menjadi striker Leeds United, Alan Smith, mempunyai kebiasaan badge-kissing, mencium lambang Leeds di kausnya. "Tradisi" tersebut membuat dia dicintai pendukung klub yang dibelanya sejak kecil itu.

Sebaliknya, pendukung Manchester United, musuh bebuyutan Leeds, sangat membenci kebiasaaan Alan Smith itu. Terutama ketika striker berambut pirang itu melakukannya ketika menciptakan gol untuk menyamakan kedudukan 1-1 dengan United dalam pertemuan terakhir kedua tim pada musim ini. Pendek kata, Smith adalah pahlawan nomor satu bagi pendukung Leeds, tapi dibenci pendukung United akibat aksi badge-kissing-nya.

Tiga pekan lalu, ketika Leeds United dipastikan terlempar dari Liga Premier Inggris, Smith menangis sesenggukan bersama pendukung setia Leeds di Reebock Stadium. Bahkan, pendukung Leeds langsung menyerbu ke lapangan untuk memeluk dan mencium Smith seusai pertandingan terakhir di Elland Road melawan Charlton.

Begitulah sosok Alan Smith, striker muda yang tumbuh bersama Leeds United, klub yang hanya berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Manchester. Namun, tiga pekan berselang, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat.

Kecintaan Smith terhadap Leeds tak bisa membendung keinginannya untuk pindah ke Manchster United, musuh bebuyutan Leeds. Dengan bayaran GBP 7 juta, Smith akhirnya setuju bergabung dengan Setan Merah setalah dua tawaran sebelumnya senilai GBP 3,5 juta dan GBP 5 juta ditolak manajemen klub yang musim depan bermain di Divisi I Liga Inggris.

Yang menarik, Smith menyumbangkan GBP 700 ribu (sekitar Rp 11,76 miliar) di antaranya untuk membantu Leeds yang tengah dilanda kesulitan keuangan. Meski begitu, niat baik Smith itu tak mampu mengikis predikat pengkhianat dari pendukung Leeds. Sebutan yang sama sebelumnya juga pernah disematkan kepada Eric Cantona dan Rio Ferdinand, dua pemain yang juga pindah dari Elland Road ke Old Trafford.

Sampai sekarang, masih banyak dijumpai pendukung Leeds memakai kaus bertulisan Rio, Cantona: Traitor (Pengkhinat). Kalau kepindahan Rio dan Cantona masih juga tidak dimaafkan publik Elland Road sampai sekarang, kepindahan Alan Smith diperkirakan akan menimbulkan kebencian lebih besar.

"Ini adalah keputusan yang sulit," kata striker yang gagal masuk ke Timnas Inggris ke Euro 2004 itu. "Kepindahan antar duaklub selalu menyebabkan masalah besar. Tapi United adalah klub yang saya ingin bergabung di dalamnya," katanya.

Pelatih United, Sir Alex Ferguson, mengaku terpesona dengan keinginan striker yang akan melengkapi Ruud van Nistlerooy dan Louis Saha untuk bergabung ke Old Trafford. "Saya tidak pernah begitu terpesona dengan pemain muda, keinginannya untuk bermain dengan Manchester United begitu fantastis," kata manajer berusia 62 tahun itu.

Satu-satunya tranfser di Inggris yang bisa menyaingi kontroversial kepindahan Alan Smith ke Manchester United adalah hijrahnya Sol Campbell, dari Tottenham Hospur ke klub tetangga yang juga adalah musuh bebuyutan mereka, Arsenal. Atau, kalau seanndainya Steven Gerard (kapten Liverpool)--yang dikagumi Ferguson dan dianggap berkemampuan seprti Roy Keane-- juga pindah ke Old Trafford. Seperti halnya Leeds, Liverpool yang juga berdekatan dengan Manchester adalah musuh abadi United. Memang, tak ada yang tidak mungkin dalam sepak bola. *
Rabu, 28 Apr 2004

David Beckham; Kenangan Masa Kecil dan Sepatu Rancangan Sendiri
Suka Warna Merah dan Perak, Jahit Nama Anaknya

Ada yang bilang masa kecil adalah masa paling bahagia. Bintang sekelas David Beckham juga merasakannya ketika mendapatkan sepatu bola pertamanya.

NURANI SUSILO, London

SUATU hari pada tahun 1980-an. Seorang bocah terlihat begitu berbinar ketika menyusuri jalanan wilayah Walthastow, London Timur. Bersama sang ayah, dia tampak bersemangat mengayunkan langkah menuju sebuah toko peralatan olahraga. Kegembiraan sang bocah semakin membuncah saat dia menerima sepatu bola hasil pemberian ayahnya. Wajar jika dia terlihat begitu gembira. Itulah sepatu bola pertama yang dimilikinya.

Dua puluh tahun berselang, si bocah tersebut kembali ke toko yang sama, juga dengan wajah berseri-seri. Toko itu bernama Adam Ants’s Goody Two Shoes. Tapi, kali ini bukan untuk membeli sepatu seperti 20 tahun silam.

Sekarang dia datang dengan status pemain mahabintang yang hendak melakukan launching sepatu bola yang di tempat yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Siapakah dia? Bocah itu adalah David Beckham. Kemarin dia meluncurkan sepatu baru yang menampilkan namanya keluaran Adidas, Predator Pulse.

Sepatu yang dijual dengan harga GBP 120 (sekitar Rp 1,8 juta) itu bakal dikenakan Beckham pertama kali dalam pertandingan Real Madrid melawan Deportivo La Coruna, 1 Mei mendatang. Seperti juga pemilihan tempat peluncuran sepatu itu, bukan suatu kebetulan juga kalau tanggal 1 Mei bertepatan malam ulang tahun kapten timnas Inggris itu yang ke-29. Inilah salah satu kepiawaian manajemen Beckham dalam menjaga publisitas mantan pemain Manchester United itu.

Dengan model terbaru -kembali dipotong plontos, Beckham kemarin menghabiskan waktu 1,5 jam di dalam toko sepatu yang tak jauh dari tempat ia dilahirkan di Leyton, London Timur. Beckham meluncurkan sepatu berwarna merah dan perak dengan tampilan gambar dirinya di sol sepatu. Selain itu, ada jahitan nama kedua anaknya, Brooklyn dan Romeo.

Dia meninggalkan 23 pasang sepatu (sesuai dengan nomor punggungnya di Real Madrid) di toko tersebut yang mulai dijual pukul 5 GMT kemarin (sekitar pukul 11.00 WIB). Beckham memberikan kesempatan kepada toko yang dimiliki David Seth, mantan pemain sepak bola amatir di Inggris, sebagai satu-satunya toko yang menjual sepatu berlogo Beckham itu sampai peluncuran resminya di seluruh dunia pada 1 Mei mendatang.

Ini merupakan kali pertama Adidas meluncurkan sepatu yang personally designed oleh Beckham. Sebab, kontraknya dengan raksasa produsen peralatan olahraga itu membuka kesempatan untuk memberikan masukan terhadap produk yang disponsorinya.

Ketika ditanya soal warna merah dan perak pilihannya, suami Victoria tersebut mengatakan bahwa warna itu bisa terlihat cemerlang di lapangan. Dengan sepatu baru ini, Beckham menjadi satu-satunya pemain yang dikontrak Adidas yang mempunyai sepatu dengan namanya.

Bintang Adidas yang lain seperti Steven Gerrard, Patrick Vieira dan Zinedine Zidane akan memakai sepatu khusus yang lain berwarna biru dan perak. "Seorang anak kecil ketika diberitahu Adidas akan membuat sepatu dengan namanya tentunya akan sangat menggembirakan," kata Beckham. "Saya masih mendapatkan kegembiran itu sekarang. Saya pikir akan bagus kalau meluncurkannya di tempat orang tua saya membelikan sepatu bola saya yang pertama," tambahnya.

Beckham juga meminjamkan 24 pasang koleksi sepatu bolanya yang paling berharga yang dipakainya di berbagai pertandingan bersama Timnas Inggris ataupun klubnya. Di antaranya sepatu yang dipakainya membobol gawang Wimbledon dari tengah garis lapangan yang pertama kali mengangkat namanya di Manchester United. Juga, sepatu yang dipakinya ketika diganjar kartu merah di Piala Dunia 1998 melawan Argentina di Prancis serta sepatu yang dipakainya ketika mencetak gol melalui penalti dalam pertandingan melawan Argentina di Piala Dunia 2002 lalu.

"Ketika kecil, ia membeli semua sepatu bolanya di sini," kata Rochard Eton, manajer toko itu. "Terakhir kalinya adalah ketika ia bermain untuk timnas di bawah usia 18 tahun di Toulon Tournament di Prancis. Waktu itu dia meminta ibunya untuk membelinya di sini," tambahnya.*
Sabtu, 24 Apr 2004

Kasus Ron Atkinson dan Rasisme di Sepak Bola Inggris
Komentar Singkat Pasca Laga Hancurkan Karir 45 Tahun

Ron Atkinson, mantan arsitek Manchester United dan komentator sepak bola paling terkenal di Inggris, kesandung masalah. Komentarnya terhadap Kapten Chelsea Marcel Desailly memantik kasus rasisme.

NURANI SUSILO, London

Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga. Peribahasa itu, tampaknya, pas untuk menggambarkan apa yang menimpa Atkinson saat ini. Pukul 21.40 GMT Selasa lalu (03.40 WIB Rabu dini hari), duduk di kursi komentator televisi di tribun Stade Louis II di Monaco, Atkinson berpikir bahwa tugasnya sebagai analis laga semifinal Liga Champion antara AS Monaco v Chelsea telah selesai. Maka ia pun berdiskusi dengan rekan komentator, Clyve Tyldesley, untuk membuat observasi akhir pertandingan.

Ketika melihat rekaman pertandingan yang menampilkan kapten Chelsea Marcel Desailly yang menyikut pemain Monaco Fernando Morientes, Atkinson nyeletuk: "Dia itu apa yang dikenal di beberapa sekolah sebagai ****ing lazy, thick nigger (maaf: pemalas brengsek, orang hitam yang tidak punya malu)."

Tanpa Atkinson sadari, komentar yang sangat kasar itu - yang tidak didengar oleh penonton televisi di Inggris karena telah berpindah pada analisis di studio - tertangkap oleh microfon yang masih menyala dan tersiar di televisi-televisi Timur Tengah, yang me-relay siaran langsung tersebut.

Protes pun bermunculan. Dan, 24 jam kemudian, Atkinson mengundurkan diri dari ITV dan juga kontraknya sebagai kolumnis di harian The Guardian. Perusahan minuman 7 Up juga menghentikan iklan yang menampilkan Atkinson. Ya, komentar singkat itu telah mengahancurkan karier cemerlangnya selama 45 tahun di sepak bola, baik sebagai pemain, pelatih, dan komentator di layar kaca.

Sejak kemarin, sejawat Atkinson ramai-ramai membela bahwa apa yang disebut arsitek United yang digantikan Sir Alex ferguson pada 1996 itu sebagai "moment of stupidity" (kebodohan sesaat). Namun sayangnya, bagi orang-orang non kulit putih yang berada di lingkungan sepak bola, komentar rasisme bukanlah hal yang baru.

Komentar rasis Atkinson, yang menurutnya adalah ekpresi rasa kecewa atas kekalahan Chelsea dari AS Monaco itu, telah membangkitkan kembali memori tahun 70 dan 80-an ketika pemain kulit hitam dianggap oleh pelatih dan juga pemilik klub sebagai pemalas, tidak punya komitmen, dan tidak bisa beradaptasi dengan kerasnya sepak bola Inggris.

Kendati sikap dunia sepak bola terhadap rasisme telah berubah, dan Atkinson sendiri ketika menangani West Bromwich Albion di tahun 70-an membeli tiga pemain kulit hitam dalam skuadnya, tapi komentarnya terhadap Desailly itu tidak bisa dipandang perkara sepele di Inggris.

Di arena Premiership, rasisme juga tidak hilang sama sekali. Januari lalu, misalnya, striker Fulham Luis Boa Morte menyatakan dirinya telah mendapatkan penghinaan rasisme dari pemain lawan. Pengaduan serupa juga dilaporkan oleh mantan striker Arsenal Ian Wright dan mantan pemain Aston Villa Stan Collymore.

Meskipun kampanye melawan rasisme diantara pemain dan juga penonton gencar dicanangkan, tetapi stereotip jelek terhadap pemain asing masih tersimpan. Seorang wartawan media Inggris bercerita seorang manajer klub Liga Inggris mengatakan padanya bahwa alasan mengapa hanya sedikit pemain profesional sepak bola dari Asia adalah karena mereka terlalu sibuk bekerja di toko dan makan nasi kare.

Seorang mantan pemain menyatakan bahwa penghinaan rasisme dari pelatih adalah hal biasa. Tapi, banyak dari pemain kulit hitam itu diam saja karena tidak mau menimbulkan masalah.

Salah satu pembelaan Atkinson adalah bahwa ia tidak sadar akan implikasi yang disebabkan oleh komentarnya itu. Tetapi, bagi pemain non kulit putih, rasisme mempunya implikasi langsung terhadap karir mereka. Kalau dulu pengaruhnya kuat terhadap karir pemain, kini lebih dihadapi oleh mereka yang ingin berkarir sebagai pelatih.

Banyak mantan pemain yang percaya bahwa mereka gagal menjadi pelatih hanya karena kulit mereka. Mantan pemain Liverpool John Barnes, yang sempat menjadi manajer Celtic, tidak bisa mendapatkan pekerjaan di klub lain. Begitu pula mantan pemain Arsenal Paul Davis yang ditolak menjadi pelatih tim cadangan salah satu klub di London karena alasan rasisme. Bukan sebuah kebetulan kalau kini hanya ada 3 dari 92 manajer di klub Inggris dan hanya beberapa di antara pelatih yang non kulit putih. (*)

Riwayat Singkat Ron Atkinson
Lahir: Liverpool, 18 Maret 1939
Karir pemain: Kattering Town (1971-1974)
Karir pelatih: Cambridge Utd (1974-78), West Brom (1978-81), Man Utd (1981-86), West Brom (1987-88), Atletico Madrid (1988-89), Sheffield Wednesday (1989-91), Aston Villa (1991-94), Direktur Sepak Bola Coventry (1996), Sheff Weds (1997), dan Nothingham Forest (1999).
Karir di media: Komentator ITV dalam tujuh musim Liga Champion, lima Piala Dunia, UEFA dan FA Cup final, dan kolumnis The Guardian sejak tahun 2000.
Jumat, 23 Apr 2004

Jose Mourinho, Arsitek Chelsea Pasca Ranieri?
Seperti Wenger, Bisa Bikin Panas Ferguson

Claudio Ranieri diprediksi bakal lengser dari kursi pelatih Chelsea akhir musim nanti. Siapa penggantinya? Jose Mourinho disebut sebagai kandidat terkuat.

NURANI SUSILO, London

Selain kecerdikan meracik strategi di atas lapangan, ada satu bakat lain yang harus dimiliki arsitek Chelsea. Setidaknya menurut media di Inggris. Apa itu? Kemampuan membuat panas Sir Alex Ferguson, arsitek tim terbesar di Inggris, Manchester United. Nah, saat ini hanya ada satu sosok yang dianggap mempunyai dua bakat itu. Yakni, Arsene Wenger, arsitek Arsenal.

Mengusung Wenger ke Stamford Bridge, tampaknya, tidak mungkin dilakukan The Blues. Maka, diliriknya sosok dari luar Inggris. Dan, munculah nama Jose Mourinho. Kabar perekrutan arsitek FC Porto itu semakin kuat ketika media di Inggris menampilkan foto Roman Abramovich, pemilik Chelsea, bersama dengan Direktur Eksekutif Chelsea Peter Kenyon berada di Spanyol. Keduanya dikabarkan mengadakan pertemuan penting dengan Mourinho sebelum laga AS Monaco v Chelsea di Monte Carlo, Rabu dini hari lalu.

Kenyon bahkan telah berada di Spanyol sehari sebelumnya, khusus untuk bertemu Mourinho. Tetapi, Kenyon tak berhasil bertemu langsung dengan Mourinho dan hanya berjumpa dengan orang dekatnya. Fakta ini menguatkan indikasi bahwa Mourinho - yang juga diincar Real Madrid untuk menggatikan Carlos Queiroz - adalah kandidat terkuat pengganti Ranieri.

Posisi Ranieri sendiri sulit untuk dipertahankan seiring hubungannya dengan Abramovich yang semakin memanas. Dalam wawancaranya dengan koran Spanyol, Marca, Ranieri terang-terangan menyerang Abramovich. "Anda tahu? Abramovich tidak tahu sama sekali mengenai sepak bola," kata Ranieri. Pria asal Italia ini menyebut pembelian 11 pemain baru Chelsea musim ini adalah keputusan yang gila!

Kendati sehari kemudian Ranieri membantah pernyataannya itu, tapi dia tetap tidak mampu menutupi fakta bahwa hubungannya dengan Abramovich mulai tidak harmonis. Sebaliknya, pamor Mourinho semakin bersinar saja. Dia mungkin hanya butuh meloloskan Porto ke final Liga Champions sebagai syarat terakhir meyakinkan Abramovich.

Jangan lupa, Mourinho juga memiliki kelebihan lain. Duel psikologis, atau yang di Inggris dikenal dengan sebutan mind game yang sering dilancarkan Ferguson terhadap lawannya sebelum pertandingan, dikuasainya dengan baik. Menjelang laga kedua Babak 16 Besar Liga Champions lalu, Ferguson melancarkan psywar yang menyebut pemain Porto sering berpura-pura cedera untuk mengelabuhi wasit (play-acting).

Tapi, Mourinho balik menyerang dengan mempertanyakan mengapa United sebagai tim besar takut menghadapi tim kecil. Kata-katanya di konfersnesi pers yang disampaikan dengan canda tawa diyakini telah membuat panas publik Old Trafford. Dan, Ferguson khususnya. Kemampuan (baca: memprovokasi Ferguson) itulah yang selama ini hanya bisa diperlihatkan oleh Arsene Wenger dan Arsenal.

Mourinho, seperti juga Wenger, sangat jeli menjaring pemain muda berbakat. Contoh hasil buruannya adalah Derlei, yang pada final Piala UEFA musim lalu dinobatkan sebagai pemain terbaik, dibelinya dengan harga yang tidak seberapa. Musim ini, Mourinho kembali menemukan pemain berbakat lain. Yakni, Carloz Alberto, striker asal Brazil yang masih berusia 19 tahun. Dan, kejelian seperti itulah yang tidak dimiliki seorang Ranieri. (*)

Rabu, 07 Apr 2004

Ketika Nama SBY Lambungkan Suara Partai Demokrat di Washington dan London
Idola Simpatisan Ibu, Dicari Mahasiswi

Kejutan! Partai Demokrat, setidaknya hingga tadi malam, menang di dua TPS elite luar negeri: Washington D.C. dan London. Berikut rekaman pencoblosan di dua TPS yang hasilnya melambungkan partai pengusung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai capres itu.

RAMADHAN POHAN, Washington & NURANI SUSILO, London

WAJAH Yan S. Wiramidjaja berseri-seri. Sesekali senyum mantan aktivitis mahasiswa era Orde Baru ini mengembang. Tanpa ditutupi, Yan mengakui mencoblos Partai Demokrat (PD) dan calon legislatifnya ketika berlangsung pemungutan suara di TPS Washington D.C.

Lucu juga sebenarnya. Sebab, Yan mengakui tidak tahu banyak program partai itu. Tapi, entah mengapa hatinya begitu mantap memilih PD. Ternyata, bukan Yan seorang di Washington D.C. ini yang memilih PD.

Berdasarkan hasil penghitungan suara di TPS Washington D.C. yang berakhir Senin tengah malam (Selasa siang WIB), PD memang berada di posisi teratas dengan 18,8 persen suara. Di posisi kedua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 17,24 persen suara, disusul Partai Damai Sejahtera juga dengan 17,24 persen.

PDI Perjuangan, yang menang di TPS Washington D.C. pada pemilu 1999, kali ini meraih 14,05 persen. Berikutnya adalah Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 7,69 persen, kemudian Partai Golkar dengan 7,16 persen, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 5,03 persen.

Jumlah pemilih terdaftar di Washington D.C. sekitar 1.100 suara. Di ibu kota AS itu, perolehan jumlah suara itu sebenarnya belum final karena masih akan dilengkapi surat suara lewat pos, sekitar 424 suara. Semua surat suara pos itu, kata Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) Washington D.C. A. Helmi Lubis, bakal ditunggu dan dihitung 10 April ini.

Mayoritas WNI di AS memang tidak terdaftar sebagai pemilih dengan beberapa alasan. Ada yang bingung, apatis, maupun karena para parpol di pusat tidak ada yang mengangkat isu-isu terkait kepentingan warga. Banyak pula yang karena takut data mereka bakal diserahkan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) ke kedutaan atau konsulat-konsulat Indonesia, yang selanjutnya menyetorkan data itu ke pihak Imigrasi AS dan FBI.

Faktanya, kecurigaan seperti itu tidak beralasan. Namun, bagi para warga Indonesia yang statusnya di AS ini ilegal dan tidak punya izin kerja, persepsi dan ketakutan itu tetap dipelihara. Pilihannya, mereka tidak hadir di TPS.

Terlepas dari masalah teknis itu dan belum semua suara dihitung, fenomena melesatnya PD, apalagi sebagai partai baru, cukup membelalakkan mata publik di ibu kota AS ini.

"Kebanyakan orang di Amerika ini melihat figur pemimpinnya saja karena memang tidak banyak yang tahu program partai itu. Sejauh ini kita lihat di antara semua kandidat, SBY memang yang paling pantas. Dia kan belum pernah diberitakan terlibat kasus dan skandal korupsi," terang Yan.

Joe Wahyudi, juga pencoblos PD dan rela untuk begadang menanti hingga akhir penghitungan suara, juga tampak ceria. Meski, lelaki asal Surabaya ini tidak sependapat hasil yang dipetik PD itu sebagai kejutan. "Dari dulu kami ini memang sudah yakin bener. Ini sudah pas dan memang ini suara rakyat," jelasnya.

Di kalangan pemilih PD, SBY dipandang sebagai figur paling stabil, sejuk, santun, dan terbukti pengalamannya paling komplit ketimbang para kandidat lain. Rupa-rupanya SBY, yang cuma sebulan menyiapkan kampanye langsung untuk PD, terbukti efektif.

Para pencoblos PD di Washington D.C. selama ini begitu yakin pada pilihan tersebut. Tidak seperti aktivis partai lain yang agak terbuka mempengaruhi massa, simpatisan PD seperti Yan dan Joe menggalang dukungan diam-diam.

Begitulah yang terjadi. Simpatisan PD selama ini memang lebih banyak diam. Tak seperti perwakilan partai lain, tidak sebiji e-mail kampanye pun muncul di milis-milis WNI di ibu kota Paman Sam.

Tapi, ketika penghitungan suara dilakukan dan nama PD berulang-ulang memimpin, aplaus simpatisannya bergema. Perlu tahu, simpatisan PD itu didominasi ibu-ibu. Alhasil, Ruang Presiden KBRI, tempat pencoblosan sekaligus penghitungan suara, jadi riuh dengan teriakan puas para ibu di barisan kursi belakang.

Pada barisan kursi paling belakang itu juga terdapat Dubes Soemadi D.M. Brotodiningrat dan istri bersama DCM KBRI Harry Purwanto dan istri. Mereka tampak senyum-senyum menyaksikan melesatnya suara PD.

Kejutan lain hasil pencoblosan di TPS Washington D.C. ini adalah naiknya dua partai berkarakter primordial agama seperti PKS (Islam), dan PDS (Kristen). Keduanya memperoleh jumlah suara seimbang. Cuma, beda dengan PDS yang selama ini perwakilan maupun simpatisannya condong tidak tampil mencolok du muka publik, justru perwakilan PKS tergolong agresif.

Di berbagai milis komunitas Indonesia di AS, pengurus, kader, dan simpatisan PKS acapkali mengirimkan e-mail atau posting yang memperlihatkan apa dan bagaimana PKS itu. Dan, begitu dipastikan partainya ada di posisi kedua, dengan wajah gembira Wakil PKS Barokah Widodo langsung mengucap, "Alhamdulillah."

Beda dengan hasil di Washington D.C. di mana PD yang teratas, di TPS megapolitan New York urutan suara terbanyak adalah PDS. Baru kemudian masing-masing ada PD, PKS, lantas PDI-P dan PAN. Partai-partai lain meraup persentase suara kecil-kecil. PDS diramalkan juga akan meraih suara besar di TPS Los Angeles, yang hingga berita ini diturunkan tadi malam belum diketahui hasilnya.

Ternyata, tak hanya di Washington D.C. PD memimpin. Di TPS London, PD juga leading. Seperti persepsi banyak pemilih di ibu kota AS tersebut, di ibu kota Inggris pemilih PD juga lebih condong melihat sosok SBY.

Tak percaya? Inilah kejadian nyata saat pencoblosan. Monica, mahasiswi Indonesia di London, tampak bingung pada hari pencoblosan. "Mana sih partainya Pak SBY?" tanyanya sambil mengamati 24 gambar partai kontestan pemilu yang tertempel di dinding KBRI London.

Tanya lugu mahasiswi Program Master di London School of Economics (LSE) sebelum masuk ke bilik suara itu pun jadi bahan guyonan koran ini, beberapa staf KBRI London, dua wartawan media nasional, serta BBC di TPS London. "Lho, sudah mantap memilih, tetapi kok tidak tahu nama partainya ya?" Rata-rata begitu komentar mereka.

Pencoblosan usai. Tiba saat penghitungan suara. Begitu PD disebut dan disebut, beriringan dengan PKS, puluhan WNI pemilih tampak berteriak gembira. PD yang bernomor urut 9 itu pun mendapatkan suara terbanyak dari 285 suara pemilih langsung di TPS London.

PD memperoleh 65 suara. Sementara PKS, yang juga diramalkan banyak pihak di London akan memperoleh suara tinggi, di urutan kedua dengan 63 suara. Baru kemudian ada PDIP dengan 37 suara, PAN 35 suara, Golkar 23 suara, dan PDS dengan 22 suara.

Namun, hasil suara itu masih bersifat sementara karena hanya mencakup suara yang dicoblos langsung. Sedangkan sebagian besar surat suara dikirimkan melalui pos dan baru akan dihitung pada 12 hingga 16 April ini.

"Dari 1.361 daftar pemilih tetap untuk Inggris dan Irlandia, hanya 311 yang memilih langsung di TPS, sedangkan 1.050 mengirimkan suaranya melalui pos," terang Arief Muhammad dari KPPS London kepada koran ini.

Pegawai KBRI London ini juga menyatakan bahwa untuk suara yang dikirim melalui pos, paling lambat bercap pos empat hari setelah hari pemilihan (H+4 atau tanggal 9 April) dan ditunggu selambat-lambatnya H+10 (tanggal 14 April) telah sampai ke sekertariat PPLN di KBRI London.

Alasan sebagian besar pemilih di Inggris dan Irlandia untuk memilih suaranya melaluim pos adalah karena bertempat tinggal di luar kota london dan juga alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, tidak semua pemilih dari luar kota memilih melalui pos, Riefki Muna salah satunya.

Mahasiswa dari Defence Academy of UK yang bertempat tinggal di Swindon (2 jam bermobil ke London) memilih datang langsung ke TPS London di KBRI. "Saya memang sengaja ingin datang langsung ke KBRI, selain itu sekalian juga mengajak anak-anak jalan-jalan ke London," kata peneliti LIPI yang kemarin datang bersama istri dan dua anaknya.

Kegembiraan menghiasi wajah Tomy Firmansyah, Ketua PKS di Inggris, dengan lancarnya pelaksanaan pemilu tahun ini di Inggris. Kegembiraan Tomy, satu-satunya saksi di TPS London, juga bertambah lengkap dengan perolehan suara partainya. Berada di urutan kedua sementara dengan 63 suara itu memang masih kurang dari 250 suara yang ditargetkan partainya.

Namun, partai bernomor 16 itu tentu pantas berharap mendapatkan tambahan suara dari 1.050 pemilih melalui pos yang belum dihitung. Sebagai satu-satunya partai yang mempunyai perwakilan khusus di Inggris, tidak heran bila PKS juga paling aktif melakukan sosialisasi kepada pemilih di Inggris.

"Meskipun hambatan banyak seperti jarak pemilih yang tersebar di berbagai kota serta sulitnya mendapatkan alamat para pemilih itu, namun PKS telah melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk mengenalkan program partai kepada para calon pemilih," kata bapak dua anak yang aktif berkomunikasi melalui e-mail dengan DPP PKS di Jakarta.

Hasil keseluruhan pemilihan TPS London yang hanya memilih anggota DPR Pusat itu akan dimasukkan dalam Daerah Pemilihan (Dapil) Jakarta II. Hasil suara lengkap diharapkan bisa diketahui pada 16 April karena batas akhir suara dari luar negeri paling lambat harus diterima KPU pada 19 April. (*)
Jumat, 19 Mar 2004

Jelang Bursa Tranfser Akhir Musim 2003-2004
Harga Anjlok, Figo-Carlos Siap Dilego

Jangan gampang percaya pada bantahan pemain dan klub. Berdasarkan pengalaman, mereka selalu membantah berita transfer. Padahal, ujung-ujungnya pemain itu benar-benar dijual.

Nurani Susilo, London

SEJAK David Beckham hengkang dari Manchester United ke Real Madrid, muncul keyakinan lebih kuat di bursa transfer Eropa bahwa siapa pun bisa dijual atau dibeli asal harga cocok.

Beberapa tahun lalu, transfer pemain besar antarklub besar sangatlah jarang. Kalaupun terjadi, klub pembeli terpaksa membayar jauh di atas harga pasar. Contoh kasus, Real Madrid harus membayar GBP 48 juta (Rp 744 miliar, Rp 15.500 per GBP) untuk memboyong Zinedine Zidane dari Juventus, 2001 lalu.

Di bursa transfer akhir musim nanti, harga edan-edanan seperti itu tak bakalan terjadi lagi. Banyak faktor (krisis finansial dan lain-lain) yang menyebabkan klub-klub elite siap melepas pemain bintangnya dengan harga yang lebih murah, Juni nanti.

Mungkin kaum gibol menyangka Real Madrid bisa membeli semua pemain terbaik di dunia, berapa pun harganya! Tetapi, jika dilihat lebih dekat akan terpantul kesan berbeda. Diam-diam, Real telah mengisyaratkan dengan jelas ke bursa transfer, bahwa mereka siap melego Roberto Carlos dan Luis Figo. Alasannya, usia kedua bintang tersebut di ambang senja, lebih dari 30 tahun, dan beban gaji besar. Rumors ini mulai terdengar di dressing room (ruang ganti pemain).

Mungkin hanya Ronaldo yang masuk pengecualian. Meski tren nilai transfer diprediksikan bakal menurun, khusus untuk Ronaldo justru semakin menggila. Dengarkan ucapan Jorge Valdano, Direktur Real Madrid. "Pemain seperti Ronaldo sangatlah strategis," kata Voldano, seperti dikutip media-media Eropa, minggu lalu. "Well, 100 juta Euro (Rp 1,05 triliun!) adalah harga yang strategis juga," tambahnya.

Begitulah Voldano mengingatkan bursa transfer bahwa every man has his price. Tapi masalahnya, lakukah Ronaldo dijual dengan harga segila itu? Ini mengingat krisis finansial tengah melanda klub-klub Eropa.


PRAKIRAAN NILAI TRANSFER

Pemain Klub Nilai transfer
Ronaldo Real Madrid Rp 1,05 triliun (100 juta Euro)
David Beckham Real Madrid Rp 310 miliar (20 juta GBP)
Patrick Kluivert Barcelona Rp 18,6 miliar (1,2 juta GBP)


Beckham Hengkang ke Chelsea?

David Beckham, juga kembali meramaikan bursa akhir musim ini. Media-media Inggris memberitakan kemungkinan kembalinya Beckham ke Inggris. Kemungkinan besar ke London Barat: Chelsea! Ini didasarkan pada keengganan Victoria dan kedua puteranya pindah ke Spanyol.

Beckham sendiri, meskipun tetap bersinar di lapangan, tetapi tidak begitu sukses masuk dalam lifestyle Madrid. Mungkin itu pula yang menyebabkan Beckham tidak memperpanjang kontrak rumahnya di Madrid yang habis tahun ini. Dan, tempat yang sudah disiapkan untuk sekolah puteranya, Brooklyn (5 tahun), juga tidak kunjung diisi. Perlu diingat bahwa bagi Beckham keluarga adalah nomor 1. Yang terjadi sekarang dia hanya bisa bertemu keluarganya di akhir pekan. Dia harus terbang pulang pergi Spanyol - Inggris tiap akhir pekan.

Kapten Timnas Inggris menyatakan dengan tegas bahwa ia berkomitmen untuk tetap di Real Madrid, tetapi ia menambahkan: at least for another season (paling tidak untuk satu musim lagi). Karena itu, timbul keyakinan di Inggris, kalau memang harga yang ditawarkan cocok, Real bisa saja menjualnya. Apalagi dengan kemungkinan Beckham tidak mau memperpanjang kontraknya setelah dua tahun.

Harga transfer Beckham dari Manchester United adalah GBP 24 juta (Rp 372 miliar), tetapi seperempat dari jumlah itu baru akan dibayarkan sesuai dengan sukses Beckham di Madrid. Jadi, jika Real gagal merebut juara Liga Champions musim ini, Beckham bisa di jual dengan harga GBP 20 juta (Rp 310 miliar), dan Real masih cukup untung.

Untuk seorang Beckham, Abramovich akan dengan senang hati membelinya dengan harga jauh di atasnya. Sepak bola modern adalah bisnis, dan secara bisnis kemungkinan ini susah untuk ditampik oleh Real Madrid.

Sementara di Nou Camp, Barcelona telah menegaskan kepada Patrick Kluivert, bahwa dia tidak akan mendapatkan kenaikan gaji. Dan, dengan kontraknya yang njlimet, dia siap dilepas dengan harga hanya GBP 1,2 juta (Rp 18,6 miliar). Edgar Davids, pemain pinjaman dari Juventus, bahkan jauh lebih murah. Dia akan bebas kontrak alias gratis akhir musim ini.

Kondisi keuangan Valencia juga tidak begitu bagus. Mereka membutuhkan dana cash. Karena itu, Valencia siap menerima tawaran untuk Pablo Aimar dan Ruben Baraja.*
Rabu, 11 Feb 2004
Kolo Toure, Potret Muslim Taat di Skuad Arsenal
Rajin Salat dan Salami Semua Orang

Mungkin susah dipercaya bahwa popularitas seorang Thierry Henry di mata pendukung Arsenal kini mulai mendapat pesaing. Bukan Robert Pires, Patrick Vieira atau Dennis Bergkamp, tapi Kolo Toure. Siapa dia?

NURANI SUSILO, London

Arsitek Arsenal Arsene Wenger hanya bisa geleng-geleng kepala jika ditanya soal pemainnya yang bernama Kolo Toure. Wenger tak menyangka bahwa ia akhirnya menyebut Toure sebagai revelation of the season (penemuan terbesar musim ini). Musim lalu, kendati sudah tampak menjanjikan, tapi performa Toure masih kalah dari bintang The Gunners lainnya. "Sebelumnya dia adalah A Crazy Dog (maaf: seekor anjing gila)," kata Wenger seraya tertawa ketika akhirnya menemukan kata untuk menggambarkan pemainnya itu.

Kolo "Crazy Dog" Toure adalah salah satu alasan mendasar unbeaten record (rekor tak terkalahkan) Arsenal di ajang Premier League Inggris musim ini. Sebelumnya, lini pertahanan adalah salah satu kelemahan mendasar dari klub yang bermarkas London Utara itu. Kondisi itu juga yang menyebabkan mereka harus melepaskan mahkota juara musim lalu ke Manchester United. "Mereka selalu mencetak gol, tapi masalahnya mereka juga kemasukan gol," begitu pendapat umum di Inggris tentang Arsenal musim lalu.

Dan, Toure-lah yang musim ini sukses melakukan beragam penyelamatan gemilang. Permainannya yang lugas membuat lini pertahanan Arsenal sulit ditembus penyerang lawan. Dengan kegemilangannya itu, seperti halnya Henry, Toure kini adalah pemain yang tak tergantikan (indispensable) di skuad The Gunners.

Maka, tak salah bila kubu Arsenal bersorak ketika Pantai Gading kalah 1-2 dari Afrika Selatan dan gagal lolos ke putaran final Piala Afrika 2004. Kekalahan yang membuat Toure dkk untuk kali pertama dalam 20 tahun terakhir gagal lolos ke putaran final Piala Afrika. Keuntungan bagi Arsenal, mereka tak perlu melepas Toure ke turnamen dua tahunan itu.

Untuk kasus Toure, Wenger menemukan keajaiban ekonomi ketika membelinya sangat murah dua tahun lalu. Manajemen Arsenal hanya perlu merogoh koceknya sebesar GBP 150 ribu (sekitar Rp 2 miliar). Sebagai perbandingan, Wenger bisa mendapatkan 200 Toure untuk harga yang dibayarkan Sir Alex Ferguson (arsitek United) membeli Rio Ferdinand (GBP 30 juta).

Anngota tim dan fans Arsenal di Inggris mengenal Toure sebagai seorang muslim yang taat. Dalam sebuah wawancara, Toure menyatakan bahwa ia selalu berusaha menunaikan salat lima waktu di sela-sela kesibukan sebagai pemain profesional. Tentu, tidak mudah ia melakukannya di sebuah tempat dan komunitas nonmuslim. "Tapi, bukan berarti tiba-tiba saya salat di ruang ganti pemain," kata Toure yang memilih tempat tidak mencolok untuk mengerjakan salat.

Hal lain yang dikenang pendukung Arsenal adalah pengakuannya di bulan Ramadan lalu. "Ketika bulan Ramadan dan kebetulan bertanding, saya terpaksa tidak berpuasa. Karena ketika Anda harus memberikan yang terbaik untuk klub, Anda harus makan dan menjadi kuat. Allah akan mengerti hal itu," kata Toure.

"Hey, Kolo the superstar," begitu suatu hari Asisten Pelatih Arsenal Pat Rice memanggil Toure di restoran di kamp latihan The Gunners. Toure dengan malu-malu menolak panggilan itu. Begitulah Toure yang rendah hati, yang hingga kini masih punya kebiasaan menyalami satu persatu semua orang yang ditemuinya setiap hari. "Ia mempunyai tingkah laku yang begitu karismatik yang membuatnya berbeda. Saya langsung membelinya setelah satu minggu masa percobaan," kata Wenger.

Toure dibeli Arsenal dari Asec Mimomas, klub terbesar di kota kelahirannya di Abjidan, Pantai Gading, ketika berusia 21 tahun. Ia tidak lupa selalu menyatakan terima kasihnya kepada Tuhan yang ia katakan sebagai yang memberikan segalanya hingga ia bisa seperti sekarang ini. Juga kepada Wenger yang disebutnya "The Man".

Dalam skuad Arsenal, Toure pernah ditempatkan di semua posisi kecuali penjaga gawang. Namun, ia baru menemukan posisi favoritnya musim lalu ketika dipasangkan bersama Sol Campbell di jantung pertahanan Arsenal. "Saya katakan pada diri saya sendiri untuk memanfaatkan kesempatan ini dan menunjukan kepada the boss bahwa inilah posisi terbaik saya," katanya. Kini Toure menjadi kandidat kuat The Young Player of the Year (pemain muda terbaik) versi PFA (Asosiasi Pemain Profesional Inggris). (*)
Rabu, 04 Feb 2004

MilanLab; Kunci Rahasia Sukses AC Milan
Serba Komputer, Risiko Cedera Turun 90 Persen

NURANI SUSILO, London

TERLETAK di pedalaman hutan pinus di Italia Utara, dekat kota kecil Carnago, klub AC Milan menyimpan sebuah rahasia yang ditutup rapat. Di sanalah klub raksasa Italia itu mendirikan Centro Sportivo Milanello, training centre yang terletak 50 km dari Milan.

Disebut rahasia karena keberadaan pemusatan latihan itu baru beberapa hari ini diketahui umum. Itu pun setelah manajemen Milan mengundang para wartawan ke tempat latihan berteknologi tinggi tersebut. Seperti apa latihan di sana?

Menurut laporan harian lokal Inggris The Times, Paolo Maldini bermain di salah satu di antara lima lapangan yang tersedia di pusat latihan itu. Pemain senior itu ditemani Cafu, Rui Costa, dan Filippo Inzaghi. Kelima pemain itu diawasi seorang pelatih yang terus menuliskan segala aktivitas Maldini dkk di sebuah komputer genggam.

Setelah berlatih, mereka pergi ke gymnasium berteknologi tinggi dengan dua papan ditemboknya bertuliskan II squadra dan I squadra. Di setiap gantungan kunci, tertulis nama masing-masing pemain.

Daniele Toghaccini, pelatih fisik Milan, mengambil kunci bertuliskan Inzaghi dan memasukannya ke dalam sebuah komputer. Layar komputer itu kemudian memunculkan segala grafik dan data dari seluruh tubuh dan juga semua otot pemain berusia 30 tahun itu. Toghaccini tampak puas dengan apa yang dilihatnya. Itu berarti Inzaghi telah menyelesaikan latihan sesuai dengan yang diprogramkan komputer.

Sejenak kemudian, Tognaccini masuk ke sebuah ruangan bawah tanah. Begitu pintu dibuka, suasana seperti film Star Trek (sebuah film yang menceritakan kehidupan ruang angkasa) langsung terasa. Di sana hanya ada meja, kursi dan sebuah komputer. Namun, tarasa sekali kecanggihannya.

Tidak berjendela, ruang itu terbagi dua dengan dibatasi kaca. Ruangan ini merupakan yang terakhir yang boleh dilihat para wartawan undangan. Ruangan lainnya tertutup kaca gelap dan tak sembarang orang bisa masuk.

Menurut informasi, ruang rahasia itu adalah tempat penyimpanan data biokimia dan fisik lebih dari 50 pemain sepak bola kelas dunia. Itu merupakan sebuah informasi yang tak ternilai harganya.

Milan telah mengembangkan apa yang mereka sebut dengan pusat penelitian yang unik di sepak bola. Segala teknologi tinggi tersebut digunakan untuk mempelajari dan mengembangkan kesehatan pemain dan program latihan mereka agar membuat lebih fit, baik fisik maupun mental, serta membuat lebih tahan cedera.

Hasilnya adalah sebuah bank data yang didesain untuk membantu pelatih memilih tim terbaik di setiap pertandingan. Selamat datang ke Laboratorium Milan (MilanLab), yang tampak seperti menonton teknologi di film James Bond tetapi terjadi nyata di dunia sepak bola.

MilanLab dibuka pada bulan Juli 2002 lalu. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan Computer Associates (CA, perusahaan software Amerika) selama 18 bulan untuk menghasilkan sebuah sistem terpadu untuk mengetes mental dan fisik pemain sebelum bertanding. Musim lalu, program tersbeut digunakan untuk mengetes pemain senior dan junior Milan.

Program itu dibangun tentu bukan tanpa alasan. Milan berkaca pada pengalaman musim 2000, ketika mereka merasa mulai kesulitan mengulangi masa kejayaan akhir 80-an dan awal 90-an di bawah pelatih Arriogo Sacchi dan Fabio Capello.

Pelatih generasi berikutnya, Alberto Zaccheroni, memang sempat meraih scudetto edisi 1998/99. Tetapi setelah itu, Milan bisa dikatakan gigit jari. Maka, dibelilah Fernando Redondo dari Real Madrid seharga 18 juta Euro. Dengan masa kontrak 3 tahun, dia menjadi salah satu pemain termahal di dunia.

Namun, dalam latihan pertama di Milan, Redondo langsung mengalami cedera lutut kanan dan tidak bisa bermain selama dua musim berikutnya. Investasi Milan pun melayang begitu saja. Bisa dibayangkan, betapa kecewa manajemen Mila kala itu.

Mereka pun mulai berpikir untuk mencari cara efektif agar hal serupa tak terulang lagi. Singkat cerita, kemudian muncul tawaran kerja sama dari Computer Associates.

Pelatih Milan saat ini, Carlo Ancelotti, begitu terkejut dengan hasil dari sistem baru itu. Sejak musim panas 2002, Milan mengalami 90 persen penurunan angka cedera dibandingkan 5 musim sebelumnya. Musim lalu, misalnya, Milan hanya mengalami 3 cedera otot serius sementara musim sebelumnya ada 41 kasus cedera.

Jean-Pierre Meersseman, wakil kordinator kesehatan Milan, mengaku penurunan cedera itu bukan suatu kebetulan semata. Karena itu Milan memutuskan untuk mengoperasikan secara penuh sistem itu mulai musim depan. Dengan tren investasi tinggi di sepak bola modern, keputusan Milan itu cukup masuk akal. "Setiap keputusan bernilai 50 juta Euro, 75 juta Euro atau 49 juta Euro," kata Bruno Demichelis, psikolog Milan sambil menunjuk foto deretan pemain Milan." Ini bisnis yang sangat besar," tambahnya.

Benar. Sebab, total nilai dari 30 pemain Milan sekitar 700 juta Euro (sekitar Rp 6,3 triliun). Dan itu pula yang membuat biaya operasi MilanLab terasa murah dibandingkan manfaat yang bisa didapatkan. "Semua itu serasa gratis," kata Domichelis yang menyatakan bahwa CA memasok software dengan cuma-cuma.

Jika proyek ini sukses, CA akan meraup keuntungan besar dengan menjual sistem ini ke klub-klub lain meskipun perjanjian dengan Milan melarangnya untuk menjual kepada klub asal Italia. Klub Inggris Blackburn Rovers, menurut Tognaccini, sudah meminta untuk melihat MilanLab. Kalau benar berhasil, dipastikan tidak hanya Blackburn Rovers yang akan tertarik untuk memiliki MilanLab. (*)

AKTIVITAS PAOLO MALDINI DI MILANLAB:

Pukul 10.00: Melaporkan diri ke resepsionis. "Neural network" langsung mendeteksi kedatangannya dan mengisi data terbaru kondisi Maldini.

10.30: Latihan di lapangan. Pelatih memasukan hasil observasi dan statistik ke sebuah komputer genggam dan data pun masuk ke network.


11.30: Latihan di Gym. Maldini memasukkan kunci elektroniknya ke setiap mesin setiap kali dia berlatih di grup otot yang berbeda. Akhir latihan, dia memperbarui data pada komputer pusat sebelum mengembalikan kunci miliknya ke tempat semula.

12.30: Makan siang yang telah disiapkan oleh juru masak yang telah diberi data mengenai kebutuhan makanannya hari itu. Juru masak itu melaporkan kepada network mengenai apa dan berapa banyak yang dia konsumsi melalui sebuah komputer di dapur yang diawasi ahli diet.

13.00: Bermain bilyir, kali ini dia tidak dipantau oleh sistem.

13.30: Menjalani serangkain tes penglihatan untuk mengetahui dan menambah kemampuan pandangan, pembedaan warna dan juga kecepatan reaksi mata.

14.00: Berpindah ke biomekanik test. Berjalan di atas sebuah alas yang bertekanan dan dihubungkan pada komputer. Dilanjutkan dengan melompat dengan satu kaki. Kekuatan serta gambar 3 dimensi dari alas itu dan juga kamera infra merah memberikan data-data kepada staf kesehatan.

14.30: menemui ahli psikoteraphy untuk pemeriksaan

15.15: Menemui ahli psikologi untuk pemeriksaan tingkah laku untuk mengetahui kontrol diri, tingat kecemasan dan energi juga perilaku selama latihan dan sosialisasi.

16.30: Kembali mengenakan keca mata hitamnya dan masuk ke mobil Porche miliknya. Sebelum meninggalkan tempat itu, dia sempat memberikan tanda tangan dan berfoto dengan penggemarnya yang menunggu di luar gerbang.

Monday, January 26, 2004

Ketika si Miskin Menantang Konglomerat
(Artikel ini ditulis untuk harian Jawa Pos/Indo Pos edisi Sabtu 24 Januari 2004)

Adalah pencapaian bersejarah bagi Scarborough untuk lolos ke putaran IV Piala FA. Dan, ketika lawan yang dihadapi adalah Chelsea, pertandingan Sabtu (24/1) ini bagai mimpi yang menjadi kenyataan.

RABU (21/1) lalu, kaos baru diluncurkan Marks & Spencer Scarborough. Tak lama kemudian supermarket itu memasang pengumuman:"Maksimal tiga kaos untuk satu pembeli."

Begitulah, kaos seharga 15 pound (Rp 225 ribu) itu menjadi salah satu produk paling hot di Scarborough. Alasannya? Karena kaos putih bertuliskan merah itu berbunyi: "The Defeat of the Roman Empire....Bring It On Chelski!"

Di kawasan lain kota itu, Malcom Reynolds, Direktur Scarborough, datang ke stadion dan disambut puluhan wartawan, fotografer, juga kamerawan TV yang telah menunggunya. Usai wawancara ia pun sibuk mengurusi persiapan klubnya menjadi tuan rumah putaran IV Piala FA --kejuaraan sepak bola tertua di Inggris. Antara lain menambah kapasitas duduk VIP stadion. Biasanya hanya 12 kursi menjadi setidaknya 86 kursi. Tambahan kursi, meja, piring dan gelas pun didatangkan dari hotel setempat untuk menyambut kedatangan Roman Abramovich dan rombongan.

Reymonds mengecek untuk kali terakhir akomodasi di stadion berkapastitas 6.400 penonton yang tiketnya telah ludes terjual dengan harga tiket 10 pound (Rp 150 ribu) hingga 25 pound (Rp 375 ribu). Di area khusus pers, BBC menyiapkan tayangan langsung. Di bagian lain akan ada Sky TV, kanal stasiun lain di Inggris, dan puluhan wartawan media cetak berdesakan menempati ruang yang tidak seberapa besar.

Jumat (23/1) kemarin, segala kesibukan mencapai puncaknya. Ya, laga Sabtu ini bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. Inilah kali pertama Scarborough (sejak terbentuk 1879) lolos ke babak IV Piala FA. Dan lawan yang menjadi tamunya adalah tim paling glamour di jagad bola Inggris: The Blues Chelsea!

Scarborough adalah tim kecil yang bermain di Liga Conference. Kelasnya di bawah Divisi III Inggris, atau empat tingkat di bawah Premier League. Sebagai perbandingan, ketika harga seluruh skuad Chelsea 150 juta pound (Rp 2,25 triliun), maka Scarborough hanya bernilai 2000 pound (Rp 30juta). Itu pun hanya untuk membeli seorang pemain, striker Mark Quayle. Satu-satunya pemain yang pernah dibeli Scarborough selama lebih dari satu dekade.

Stamford Bridge, kandang Chelsea di London Barat berkapasitas 42.440 penonton dan bernilai 100 juta pound dan merupakan bagian dari Chelsea Village Development, salah satu kawasan paling elite di London.

Sebaliknya, kandang Scarborough hanya stadion sederhana, berkapasitas 6.408 penonton, dan dinamakan McCain Stadium. Diambil dari nama perusahaan kentang goreng (chips) yang menjadi sponsor utama Scarborough. Kentang goreng adalah makanan termurah di Inggris. Itulah sebabnya ada ungkapan: cheap as chips (semurah chips, yang artinya murah sekali). Pas betul dengan kondisi keuangan klub tersebut.

Kekayaan kedua klub bagaikan bumi dan langit. Sehingga uang 500 ribu pound yang didapatkan tuan rumah dari laga hari ini, 400 ribu pound (Rp 6 miliar) dari hak siar TV, dan 100 ribu pound (Rp 1,5 miliar) dari FA dan tiket, cukup untuk membayar gaji seluruh pemain Scarborough selama dua tahun!

Ketika striker Chelsea, Hernan Crespo, bergaji 90 ribu pound (Rp 1,35 miliar) per minggu, maka pemain Scarborough maksimal bergaji 500 pound (Rp 7,5 juta). Klub asal Yorkshire, kawasan utara Inggris ini, begitu miskinnya hingga terpaksa mengedarkan kotak sumbangan guna mengumpulkan 1.000 pound untuk membayar biaya operasi striker-nya, Dave Pounder yang cedera.

Scarborough kitman (bagian perlengkapan), Brian Hodgson, tidak bisa membayangkan bagaimana pemain sekaliber Adrian Mutu, Claude Makelele, Jimmy Flyoid Hasselbaink, Hernan Crespo dan kawan-kawan akan menggunakan ruang ganti yang sangat serderhana di McCain Stadium. Hanya difasilitasi satu lampu penerangan kecil."Mungkin mereka belum pernah melihat tempat seperti ini sepanjang karier mereka," kata Hodgson kepada media Inggris.

Dia juga menceritakan bagaimana manajer tim, Russell Slade, menjelang pertandingan ulang putaran III melawan Southend, dua minggu lalu. Terakhir kali yang dilakukan Russell sebelum pemainnya keluar adalah menuliskan Scarborough dan Chelsea bersebelahan di selembar kertas, yang kemudian ditempelkan di papan pengumuman. "Di atas tulisan Scarborough vs Chelsea itu ia menuliskan: Dream or reality ," tutur Hodsgon.

Usai pertandingan yang dimenangkan Scorborough berkat gol Mark Quayle -- satu-satunya pemain yang dibeli tim itu-- asisten manajer Nicky Henry langsung menuju papan pengumuman itu. Kemudian dia mencoret kata Dream or. Yang tersisa hanya tulisan reality.

Ya, Scarborough vs Chelsea memang menjadi reality, benar-benar terjadi. Dan kalau ada ajang bagi tim kecil Inggris untuk mewujudkan impian mereka melawan tim besar dari Liga Utama, Piala FA adalah tempatnya. (*)

Monday, January 12, 2004

Transfer Tim Howard dan keterlibatan Jason Ferguson
(Jawa Pos, selasa 13 januari 2004)

Kabar ini tersiar di Inggris sejak The Sunday Times menuliskan artikel dua halaman yang mengungkap ketidakberesan dalam proses pembelian Tim Howard yaitu dengan ditemukannya bukti pembayaran ratusan ribu poundsterling ke agen sepakbola mitra kerja dari Jason Ferguson, putera manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson.

Fokus utama penyelidikan FA (PSSI-nya Inggris) adalah konflik kepentingan antara Ferguson dan perusahaan milik anaknya, the Elite Sports Group. Masalah yang sebenarnya telah diantisipasi oleh petinggi United sejak dua tahun lalu, hingga mereka memperingatkan Ferguson untuk tidak melakukan bisnis klub itu melalui perusahaan anaknya.

Namun begitu, FA menemukan transaksi rahasia mengenai pembelian Tiho, --panggilan akrab penjaga gawang pengganti Fabien Bartez itu-- yang melibatkan perusahaan agensi milik Jason dan mitra bisnisnya. David Davis, Direktur Eksekutif FA kepada The Sunday Times menyatakan bahwa,’’Berbagai dokumen sudah ada ditangan kita. Akan diselidiki dengan teliti dan juga ditemukan pelanggaran aturan akan segera di diskusikan.

Tim Howard dibeli dari Metrostars, klub sepak bola asal new York bulan Juli lalu dengan harga 2,3 juta pound. Nilai yang tidak terlalu tinggi saat itu dan proses pembeliannya pun cepat dan lancar. Tetapi, secara mengejutkan, United menyewa Gama Sport, agen dari Swiss, untuk mengurus ijin kerja di Inggris. Sampai hari Minggu pihak Old Trafford tidak bisa dikonfirmasi mengapa mereka menunjuk agen dari negara lain yang tidak paham dengan hukum imigrasi di Inggris. Bahkan agennya pun tidak lancar berbahasa Inggris.

Ketika kontrak ditandatangani tanggal 14 Juli, United membayar cukup mahal kepada agen itu, Gaetano Marotta. Dokumen yang bocor ke media menyebut bahwa Marotta kemudian membayar 225 ribu dolar atau 139,8 ribu pound (sebagian besar komisinya) ke Mike Morris, agen lain yang berkedudukan di Monaco.

Marotta dan Morris punya kedekatan hubungan finansial dengan Elite agency milik Jason. Elite bahkan mengijinkan Morris untuk menggunakan kantor mereka di Manchester, membayar tagihan hand phone Morris dan mempunyai penasihat keuangan dan hukum yang sama.

Marrota yang dihubungi media minggu lalu ia menolak mengenal Morris, Elite atau pun Jason. Tetapi kemudian berubah pikiran dan mengaku punya hubungan kemitraan dengan Morris agency dan Elite. Kepada surat kabar edisi Minggu itu ia menyatakan, ‘’Semua pemain saya ada di Eropa; Mike Morris dan Elite Sport mendapatkan prioritas. Saya tahu Elite Sport; Elite Sport adalah teman saya. Saya punya hubungan dengan mereka.’’ Tetapi ia tetap menolak terlibat dengan transfer Tim Howard.

Juru bicara United menyatakan bahwa ia tidak tahu menahu dengan hubungan ketiga agen tersebut. Ia juga menyatakan bahwa klub Juara Liga Inggris itu tidak mengetahui keterlibatan Morris atau Elite dalam transfer Tim Howard.

Salah satu Direktur United menyatakan,’’ Hubungan ini tidak diketahui oleh klub. Ini akan menimbulkan berbagai pertanyaan. Dalam deal yang saya tahu, tidak satu pihak pun (Marrota, Morris dan Elite) datang bersama atau memperlihatkan mereka saling berhubungan. Benar bahwa Marrota terlibat dalam deal itu, tetapi dua yang lain kami tidak tahu.’’

Dan pada hari Jumat, Jason membantah perusahaannya punya persetujuan dengan Marotta dan ketrelibatan Elite dengan transfer Tim Howard. ‘’Tidak ada persetujuan kemitraan antara perusahaan kami dan Marrota. Kita tidak terlibat dengan transfer Tim Howard,’’katanya.

Sepertinya, meskipun biasanya target yang diincar United akan selalu mereka dapatkan, namun juga selalu menimbulkan kontroversi atau masalah.***


Figur yang Menjadi Sorotan:

Tim Howard

Pembelian penjaga gawang asal Amerika Serikat yang tidak dikenal di Inggris oleh Manchester United dari awal memang telah menimbulkan perhatian media. Berita yang diangkap saat itu adalah seorang pemain yang menderita sejenis penyakit syaraf (debiliatating neurological disorder) bergabung dengan klub paling terkenal di Inggris.

Tim Howard menderita apa yang disebut dengan Tourette’s Syndrome, yaitu penyakit yang bisa menimbulkan kejang-kejang dan kemarahan dengan mengeluarkan makian dan kata-kata kotor yang tidak terkontrol.

Namun pada kenyataannya, Tim Howard tidak menampakkan tanda-tanda penyakit itu pada penampilannya. Tetapi, perhatian media dan publik adalah ia punya potensi akan bermasalah dengan wasit (berupa kemarahan) selama pertandingan. Tidak ada sama sekali perhatian akan sisi bisnis dari transfernya saat itu.


Jason Ferguson

Empat tahun lalu, Jason Ferguson adalah produser program siaran langsung Premier League di Sky Sport, televisi kabel Inggris pemegang hak siar Liga Inggris. Kemudian ia berganti karier dalam bisnis agensi olahraga yang menghasilkan sukses.

Sekarang ia berusia 31 tahun, tinggal bersama istrinya di sebuah rumah seharga 600 ribu pound di Crewe, Cheshire Inggris Tengah. Mengendarai Jeep Cherokee seharga 30 ribu pound dan salah satu direktur utama di Elite Sports Group.

Menurut media Inggris, salah satu kunci suksesnya, disamping tentu saja posisinya sebagai anak dari manajer Manchester United, adalah hubungannya dengan Morris’s World Football Firm.
Secara tertulis mereka tidak punya hubungan, tidak pula saling memegang jabatan di masing-masing perusahaan mereka. Tetapi, dokumen yang ditemukan The Sunday Times memperlihatkan dekatnya hubungan diantara dua agen sepakbola tersebut.

Morris sering berada dikantor Elite di Manchester, yang juga membayar tagihan hand phone-nya. Sekretaris Perusahaan Elite, Stephen Tatlock, seorang akuntan di Manchester, adalah juga Penasihat keuangan Morris’s dan sering pergi ke Monaco (kantor pusat Morris’s) untuk urusan bisnis perusahannya.

‘’Direktur Elite dan Mike Morris tidak akan mengambil keputusan tanpa mendikusikannya bersama,’’kata sumber dekat Elite. ‘’Deal mereka dilakukan bersama, mereka juga saling bertemu setiap saat. Mike Morris selalu duduk di kursi Elite tetapi tidak ada perjanjian tertulis diantara mereka’’.

Hubungan antara Jason Ferguson dan Morris pertama diketahui setelah transfer 15 juta pounds Jaap Stam, pemain United asal Belanda ke Lazio di tahun 2001. Deal ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Elite dibentuk. Transfer yang direstui Sir Alex Ferguson itu bahkan hampir komplet sebelum Stam tahu bahwa dirinya dijual.

United membantah adanya link khusus mereka dengan Elite dan Morris's. Kenyataannya, Jason Ferguson tidak hanya menegosiasikan kontrak baru ayahnya di United tetapi juga mewakili figur penting di Old Trafford yang lain seperti Ryan Giggs, salah satu pemain top United.

Bukti lain, Morris dan Francais Martin, Direktur Elite ,beberapa waktu lalu juga ikut dengan rombongan United dalam pre season tour ke Amerika. Martin adalah figur kunci di Elite, perusahaan yang dibangunnya bersama Jason Ferguson dan David Gardner, mantan pemain muda United dan sahabat dekat David Beckham. Martin juga teman dekat Morris dan satu-satunya agen dari Elite yang terdaftar di FIFA.

Awal tahun lalu, Sunderland mencurigai Jason Ferguson dan Morris untuk membujuk David Bellion dan berusaha memboyongnya ke Old Trafford. Morris adalah agen David Bellion. Menurut dokumen yang ditemukan The Sunday Times, Morris mendapatkan 359 ribu pound dari United untuk mendapakan pemain muda asal Prancis itu.

Dalam transfer Tim Howard, United menyewa Gama Sport, agen asal Swiss milik Gaetanno Marotta, nama yang tidak terkenal di antara klub-klub elit sepakbola Eropa. The Sunday Times menemukan bukti pembayaran dari perusahaan Marrotta sebesar 138,8 ribu pound yang tertulis dalam bahasa Prancis sebagai ’’komisi atas pembelian Tim Howard oleh Manchester United FC’’.***


Friday, January 02, 2004

Strategi Jangka Panjang Dominasi Manchester United
(Jawa Pos, Sabtu 3 Januari 2004)

Nurani Susilo, London

Posisi teratas diawal tahun 2004 dan kandidat kuat untuk merebut juara Liga kesembilan kali dalam 12 musim, adalah bukti kuatnya posisi Manchester United di Liga Inggris. Kabar buruk bagi klub lain, kini Manchester United tengah mengkonsolidasi timnya dengan kontrak-kontrak baru tidak lama lagi sebagai pendukung strategi mempertahankan dominasi mereka.

Mungkin, yang paling signifikan adalah kontrak baru bagi manajer Sir Alex Ferguson yang akan membuat pria asal Skotlandia itu berada di Old Trafford dua atau tiga musim lagi. Dan seperti ketika pertama kali datang ke United dari Aberdeen 17 tahun lalu, Ferguson juga akan memulai kembali regenerasi tim yang tujuan utamanya meraih sukses kedua di Liga Champion, setelah sukses di tahun 1999.

Proses ini akan diperkuat dengan komitmen Ruud van Nistelrooy untuk tetap di United yang mungkin akan menjadi tahun-tahun terbaik kariernya. Pemain asal Belanda ini masih punya 2,5 tahun tersisa di kontraknya. Tetapi United paham bahwa sudah saatnya Van Nistelrooy bergabung dengan pemain dengan gaji tertinggi.

Di United, tidak ada pemain lain yang akan melebihi GBP 90 ribu per minggu yang diperoleh kapten Roy Keane. Namun, dengan 96 gol dalam 124 penampilan akan menempatkan pendapatan baru pemain yang berusia 26 tahun itu tidak akan jauh dibawah Keane.

‘’Pembicaraan berjalan sangat baik dan saya positif dengan hasil yang akan dicapai,’’kata Van Nistelrooy kepada MUTV. ‘’Saya tidak melihat adanya masalah karena itu negosiasi akan segera rampung. The Manajer menreti apa yang saya raskan dengan klub,. Saya ingin tetap disini untuk waktu yang lama, karena itu saya sangat gembira segala sesuatunya berjalan dengan baik,’’paparnya.

Cedera menimpa Van Nistelrooy akan membuat United pincang, itulah mengapa Ferguson tengah berburu striker pengganti seperti Mark Viduka (Leeds) dan Louis Saha (Fulham). Ia tidak akan membiarkan timnya tanpa cadangan diparuh kedua musim ini. Tetapi juga manajer United bersiap untuk membeli pemain lain untuk mendukung rencana jangka panjangnya.

Liam Miller, pemain tengah Celtic diberitakan The Times akan segera hijrah ke Old Trafford Januari ini atau sebelum musim baru dimulai . Miller disiapkan sebagai pengganti Roy Keane jika suatu saat tiba waktunya United kehilangan pemain asal Irlandia itu.

Selain itu Kleberson (24) dan Eric Djemba Djemba (22) juga tengah dalam proses menjadi pemain tengah yang matang. Ferguson bahkan juga mengincar Arjen Robben (PSV Eindhoven) pemain muda berbakat disektor kiri tengah dan Vincent Kompan (Anderlecht) , pemain belakang berusia 17 tahun asal Belgia.

‘’Kita tengah membangun tim baru,’’kata Ferguson mantap seperti dikuti media-media Inggris. Pekerjaan yang tidak gampang karena dilakukan bersamaan dengan mempertahankan standar tinggi United yang telah ada selama lebih dari satu dekade.

Setelah pengalaman pahit gagal mendapatkan Ronaldinho dan Harry Kewell musim transfer lalu. Tetapi sukses dengan Tom Howard dan Cristiano Ronaldo (17), yang masuk dalam strategi jangka panjangnya. Januari ini Ferguson punya dana yang cukup untuk membuat kejutan ketika pintu transfer kembali di buka.***
Roberto Mancini Kandidat Kuat Arsitek Tottenham Hotspur
Hasil Rekomendasi Eriksson Saat Makan Siang
(Jawa Pos, Jumat, 02 Jan 2004)

Jebloknya performa Tottenham Spurs hingga paro musim Premier League Inggris mencuatkan spekulasi baru. Pelatih sementara David Pleat dikabarkan bakal segera kehilangan kursinya.

NURANI SUSILO, London

Allenatore SS Lazio Roberto Mancini tiba-tiba menjadi perbincangan komunitas sepak bola Inggris. Terutama suporter dan keluarga besar klub Tottenham Hotspur. Ini terkait rumor bahwa Mancini bakal menjadi arsitek baru di klub dari London Utara itu.

Kabar ini berawal ketika Chairman Tottenham Daniel Levy bertemu arsitek Timnas Inggris Sven Goran Eriksson di Hotel Doncaster, November lalu. Acara makan siang itu diisi dengan pembicaraan mengenai metode pelatih dan kandidat untuk mengisi kekosongan posisi manajer Spurs sejak ditinggalkan Glenn Hoddle. Namun, kemudian diyakini bahwa nama Mancini-lah yang didiskusikan hari itu.

Rumor semakin berhembus kencang munyusul kabar krisis finansial yang menerjang Lazio. Mancini, yang adalah mantan pemain kunci dan kemudian menjadi asisten pelatih bagi Eriksson di Sampdoria dan Lazio, dikabarkan sangat frustasi dengan kondisi tersebut. Selain itu, hubungannya dengan sejumlah pemain seperti Simone Inzaghi dan Dejan Stankovich juga memburuk dalam beberapa bulan terakhir.

"Kita telah mempelajari sebuah proyek bersama, tetapi itu tidak kunjung dimulai," kata Mancini beberapa waktu lalu berbicara tentang Tottenham, seperti dikutip Guardian. "Saya masih di Lazio hanya karena ikatan emosional saya dengan klub ini. Semua pihak terus berbicara, tetapi mereka tidak tahu apa-apa. Saya harap sesuatunya akan segera jelas karena para pemain membutuhkan kejujuran," tambahnya.

Namun begitu, Mancini sebagai salah satu pemegang saham dan juga direktur di Lazio, tampaknya, akan kesulitan untuk memutus kontraknya dipertengahan musim, kendati dia bisa dipastikan tidak akan lagi menjadi pelatih di klub itu musim depan. Kejelasan bakal terungkap setelah 17 Januari nanti ketika para petinggi Lazio mengadakan pertemuan.

Pada musim pertamanya di Lazio sebagai pelatih penuh, Mancio - sapaan akrab Mancini -langsung menggebrak membawa timnya lolos ke Liga Champion musim ini. Sayang, Lazio akhirnya di posisi terbawah putaran grup dan tempat di Piala UEFA pun tidak mereka dapatkan. Pelatih berusia 39 tahun ini juga sempat dihubungkan dengan posisi di Inter Milan. Tapi, sukses Alberto Zaccheroni (allenatore baru Inter) mementahkan kemungkinan itu.

Itulah sebabnya, Mancini terus mengadakan kontak dengan teman dekatnya, mantan arsitek Chelsea Gianluca Vialli yang dikabarkan telah memberikan gambaran mengenai Liga Inggris dan apa yang akan ia dapatkan di White Hart Lane (markas Tottenham). Mancini juga pernah bermain sebentar di Inggris untuk Leicester di bawah besutan Peter Taylor pada 2001.

Nah, bila Mancio jadi ke Spurs, Daniel Levy dikabarkan bakal tetap mempertahankan David Pleat pada posisinya sebagai direktur sepak bola klub tersebut. Pemikiran itu juga yang turut berkonstribusi hingga muncul nama Mancini yang disebutkan Pleat cocok untuk "continental style management", manajemen gaya Eropa Daratan. Manajemen gaya Eropa yang diharapkan petinggi Tottenham itu sekaligus juga memperkecil peluang kandidat lain seperti Martin O’Neill (Celtic), Graeme Souness (Blackburn), dan Alan Curbishley (Chalton).

Sementara itu, usai pertandingan melawan Chalton yang berakhir dengan kekalahan Spurs 0-1, Pleat berkata," Saya mengerti bahwa saya akan tetap menjadi caretaker sampai akhir musim, itu yang diindikasikan oleh para direktur. Tetapi, tidak berarti situasi tidak akan berubah". Dan, kekalahan beruntun empat kali yang melemparkan Tottenham ke posisi ke-18 membuat semuanya kemungkinan bisa terjadi. Mancio pun bisa datang lebih cepat.



Monday, December 29, 2003

Bursa Transfer di Bulan Januari
(Jawa Pos, Selasa 30 Januari 2003)

NURANI SUSILO, London

Musim perburuan pemain datang lagi. Mulai pekan ini , klub-klub Premier League Inggris mempunyai kesempatan untuk melakukan jual beli pemain. Fokus perhatian komunitas bola Inggris kini tertuju pada apa yang bakal dilakukan tiga klub besar (Mancehster United, Arsenal, dan Chelsea) pada bursa transfer tahap II tersebut.

Tidak seperti Januari lalu, awal 2004 ini ketiga klub tersebut sama-sama mengantongi modal untuk belanja pemain. Chelsea, kendati masih teka-teki, menyimpan dana tak terbatas dari sang pemilik baru Roman Abramovich. Kubu United menyediakan sekirtar 30 juta poundsterling (sekitar Rp 405 miliar) untuk modal arsitek tim Sir Alex Ferguson. Arsenal tak mau kalah. Klub dari London ini mempunyai sekitar 15 juta poundsterling (sekitar 200 miliar) untuk meramaikan bursa pemain.

Kendati memiliki modal yang sama-sama berlimpah, belum tentu tiga klub raksasa itu bakal benar-benar "bermain" di bursa transfer. Sebab, mendapatkan pemain idaman dalam waktu singkat tidak mudah. Apalagi, baik United, Arsenal, dan Chelsea masih berlaga di pentas Liga Champions. So, mereka harus mencari pemain bisa diturunkan di ajang tersebut. Ini berarti pemain tersebut tidak pernah bermain di Liga Champions atau Piala UEFA musim ini.

Seperti biasa, Chelsea, tampaknya, masih akan menjadi pemain utama dalam bursa transfer mendatang. Dalam dua pekan terakhir, arsitek Claudio Ranieri dikabarkan tengah mengajukan proposal untuk memboyong Thiery Henry (Arsenal) dan David Trezeguet (Juventus). Tetapi The Blues - julukan Chelsea - juga dikaitkan dengan nama lain seperti Pavel Nedved (Juventus), Fransesco Totti (AS Roma), dan Michael Ballack (Bayern Munich) kabarnya juga tengah dirayu untuk hengkang ke Stamford Bridge.

Namun, yang paling realistis dari perburuan Chelsea adalah Roberto Ayala (Valencia). Kendati sebelumnya gagal dalam dua kali pembicaraan awal, tapi pemain asal Argentina itu dikabarkan bisa segera berbaju Chelsea dengan banderol 10,2 juta poundsterling (sekitar 140 miliar).

Bagaimana United? Klub juara bertahan ini menyatakan tak terlalu bernafsu mendapatkan pemain baru. Namun dengan cedera yang menerpa Mikael Silvestre dan John O’Shea, serta bakal absennya Rio Ferdinand dalam waktu lama, membuat Ferguson perlu pemain belakang baru. Hanya, ia sendiri mengaku kesulitan mendapatkannya.

"Saya tidak melihat banyak pemain bagus tersedia. Kalau Roberto Ayala saja dihargai 20 juta poundsterling (sekitar Rp 270 miliar), itu membuktikan langkanya pemain belakang yang bagus," kata Ferguson seperti dikutip The Times. Pemain belakang Middlesborough Gareth Soutghate adalah yang mungkin akan dibeli United.

Ferguson punya lebih banyak pilihan untuk striker baru, meskipun itu pun tidak mudah. "Banyak spekulasi, tapi tidak semudah yang orang pikir. Apa yang kita cari adalah pemain yang tidak bermain di kompetisi antarklub Eropa," katanya. Karena itu, Ferguson tertarik dengan Louis Saha (Fulham) dan dilaporkan menyiapkan tawaran 6 juta poundsterling (sekitar Rp 81 miliar). Hanya, manajemen Fulham dengan tegas menolak tawaran itu.

Alternatif lainnya adalah Mark Viduka (Leeds). Tapi, Leeds susah untuk melepas pemain asal Australia itu karena mereka masih berutang sekitar Rp 81 miliar kepada Girlings, perusahaan keuangan yang memberi pinjaman ketika membeli Viduka dari Celtic. Jermain Defoe (West Ham) adalah opsi yang lain, tetapi dengan harga Rp 135 miliar dan rekor displin yang buruk membuat United, tampaknya, akan mencari target lain.

Defoe sendiri juga diminati Arsenal. Kendati menyatakan niatnya tak akan membeli pemain baru, manajer Arsenal Arsene Wenger telah mendapatkan lampu hijau dari wakil direktur David Dein untuk belanja pemain Januari nanti. Kabarnya, The Gunners tertarik dengan pemain belakang Eric Abidal (AS Monaco). "Memang ada uang jika pemain yang ideal bisa didapatkan Januari. Tapi, saya belum melihat target yang berarti saat ini. Saya tidak akan membelanjakan uang tetapi sia-sia," kata Wenger.

Siapa akan membeli siapa? Kita tunggu jawabannya akhir bulan depan.***