Monday, January 26, 2004

Ketika si Miskin Menantang Konglomerat
(Artikel ini ditulis untuk harian Jawa Pos/Indo Pos edisi Sabtu 24 Januari 2004)

Adalah pencapaian bersejarah bagi Scarborough untuk lolos ke putaran IV Piala FA. Dan, ketika lawan yang dihadapi adalah Chelsea, pertandingan Sabtu (24/1) ini bagai mimpi yang menjadi kenyataan.

RABU (21/1) lalu, kaos baru diluncurkan Marks & Spencer Scarborough. Tak lama kemudian supermarket itu memasang pengumuman:"Maksimal tiga kaos untuk satu pembeli."

Begitulah, kaos seharga 15 pound (Rp 225 ribu) itu menjadi salah satu produk paling hot di Scarborough. Alasannya? Karena kaos putih bertuliskan merah itu berbunyi: "The Defeat of the Roman Empire....Bring It On Chelski!"

Di kawasan lain kota itu, Malcom Reynolds, Direktur Scarborough, datang ke stadion dan disambut puluhan wartawan, fotografer, juga kamerawan TV yang telah menunggunya. Usai wawancara ia pun sibuk mengurusi persiapan klubnya menjadi tuan rumah putaran IV Piala FA --kejuaraan sepak bola tertua di Inggris. Antara lain menambah kapasitas duduk VIP stadion. Biasanya hanya 12 kursi menjadi setidaknya 86 kursi. Tambahan kursi, meja, piring dan gelas pun didatangkan dari hotel setempat untuk menyambut kedatangan Roman Abramovich dan rombongan.

Reymonds mengecek untuk kali terakhir akomodasi di stadion berkapastitas 6.400 penonton yang tiketnya telah ludes terjual dengan harga tiket 10 pound (Rp 150 ribu) hingga 25 pound (Rp 375 ribu). Di area khusus pers, BBC menyiapkan tayangan langsung. Di bagian lain akan ada Sky TV, kanal stasiun lain di Inggris, dan puluhan wartawan media cetak berdesakan menempati ruang yang tidak seberapa besar.

Jumat (23/1) kemarin, segala kesibukan mencapai puncaknya. Ya, laga Sabtu ini bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. Inilah kali pertama Scarborough (sejak terbentuk 1879) lolos ke babak IV Piala FA. Dan lawan yang menjadi tamunya adalah tim paling glamour di jagad bola Inggris: The Blues Chelsea!

Scarborough adalah tim kecil yang bermain di Liga Conference. Kelasnya di bawah Divisi III Inggris, atau empat tingkat di bawah Premier League. Sebagai perbandingan, ketika harga seluruh skuad Chelsea 150 juta pound (Rp 2,25 triliun), maka Scarborough hanya bernilai 2000 pound (Rp 30juta). Itu pun hanya untuk membeli seorang pemain, striker Mark Quayle. Satu-satunya pemain yang pernah dibeli Scarborough selama lebih dari satu dekade.

Stamford Bridge, kandang Chelsea di London Barat berkapasitas 42.440 penonton dan bernilai 100 juta pound dan merupakan bagian dari Chelsea Village Development, salah satu kawasan paling elite di London.

Sebaliknya, kandang Scarborough hanya stadion sederhana, berkapasitas 6.408 penonton, dan dinamakan McCain Stadium. Diambil dari nama perusahaan kentang goreng (chips) yang menjadi sponsor utama Scarborough. Kentang goreng adalah makanan termurah di Inggris. Itulah sebabnya ada ungkapan: cheap as chips (semurah chips, yang artinya murah sekali). Pas betul dengan kondisi keuangan klub tersebut.

Kekayaan kedua klub bagaikan bumi dan langit. Sehingga uang 500 ribu pound yang didapatkan tuan rumah dari laga hari ini, 400 ribu pound (Rp 6 miliar) dari hak siar TV, dan 100 ribu pound (Rp 1,5 miliar) dari FA dan tiket, cukup untuk membayar gaji seluruh pemain Scarborough selama dua tahun!

Ketika striker Chelsea, Hernan Crespo, bergaji 90 ribu pound (Rp 1,35 miliar) per minggu, maka pemain Scarborough maksimal bergaji 500 pound (Rp 7,5 juta). Klub asal Yorkshire, kawasan utara Inggris ini, begitu miskinnya hingga terpaksa mengedarkan kotak sumbangan guna mengumpulkan 1.000 pound untuk membayar biaya operasi striker-nya, Dave Pounder yang cedera.

Scarborough kitman (bagian perlengkapan), Brian Hodgson, tidak bisa membayangkan bagaimana pemain sekaliber Adrian Mutu, Claude Makelele, Jimmy Flyoid Hasselbaink, Hernan Crespo dan kawan-kawan akan menggunakan ruang ganti yang sangat serderhana di McCain Stadium. Hanya difasilitasi satu lampu penerangan kecil."Mungkin mereka belum pernah melihat tempat seperti ini sepanjang karier mereka," kata Hodgson kepada media Inggris.

Dia juga menceritakan bagaimana manajer tim, Russell Slade, menjelang pertandingan ulang putaran III melawan Southend, dua minggu lalu. Terakhir kali yang dilakukan Russell sebelum pemainnya keluar adalah menuliskan Scarborough dan Chelsea bersebelahan di selembar kertas, yang kemudian ditempelkan di papan pengumuman. "Di atas tulisan Scarborough vs Chelsea itu ia menuliskan: Dream or reality ," tutur Hodsgon.

Usai pertandingan yang dimenangkan Scorborough berkat gol Mark Quayle -- satu-satunya pemain yang dibeli tim itu-- asisten manajer Nicky Henry langsung menuju papan pengumuman itu. Kemudian dia mencoret kata Dream or. Yang tersisa hanya tulisan reality.

Ya, Scarborough vs Chelsea memang menjadi reality, benar-benar terjadi. Dan kalau ada ajang bagi tim kecil Inggris untuk mewujudkan impian mereka melawan tim besar dari Liga Utama, Piala FA adalah tempatnya. (*)

Monday, January 12, 2004

Transfer Tim Howard dan keterlibatan Jason Ferguson
(Jawa Pos, selasa 13 januari 2004)

Kabar ini tersiar di Inggris sejak The Sunday Times menuliskan artikel dua halaman yang mengungkap ketidakberesan dalam proses pembelian Tim Howard yaitu dengan ditemukannya bukti pembayaran ratusan ribu poundsterling ke agen sepakbola mitra kerja dari Jason Ferguson, putera manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson.

Fokus utama penyelidikan FA (PSSI-nya Inggris) adalah konflik kepentingan antara Ferguson dan perusahaan milik anaknya, the Elite Sports Group. Masalah yang sebenarnya telah diantisipasi oleh petinggi United sejak dua tahun lalu, hingga mereka memperingatkan Ferguson untuk tidak melakukan bisnis klub itu melalui perusahaan anaknya.

Namun begitu, FA menemukan transaksi rahasia mengenai pembelian Tiho, --panggilan akrab penjaga gawang pengganti Fabien Bartez itu-- yang melibatkan perusahaan agensi milik Jason dan mitra bisnisnya. David Davis, Direktur Eksekutif FA kepada The Sunday Times menyatakan bahwa,’’Berbagai dokumen sudah ada ditangan kita. Akan diselidiki dengan teliti dan juga ditemukan pelanggaran aturan akan segera di diskusikan.

Tim Howard dibeli dari Metrostars, klub sepak bola asal new York bulan Juli lalu dengan harga 2,3 juta pound. Nilai yang tidak terlalu tinggi saat itu dan proses pembeliannya pun cepat dan lancar. Tetapi, secara mengejutkan, United menyewa Gama Sport, agen dari Swiss, untuk mengurus ijin kerja di Inggris. Sampai hari Minggu pihak Old Trafford tidak bisa dikonfirmasi mengapa mereka menunjuk agen dari negara lain yang tidak paham dengan hukum imigrasi di Inggris. Bahkan agennya pun tidak lancar berbahasa Inggris.

Ketika kontrak ditandatangani tanggal 14 Juli, United membayar cukup mahal kepada agen itu, Gaetano Marotta. Dokumen yang bocor ke media menyebut bahwa Marotta kemudian membayar 225 ribu dolar atau 139,8 ribu pound (sebagian besar komisinya) ke Mike Morris, agen lain yang berkedudukan di Monaco.

Marotta dan Morris punya kedekatan hubungan finansial dengan Elite agency milik Jason. Elite bahkan mengijinkan Morris untuk menggunakan kantor mereka di Manchester, membayar tagihan hand phone Morris dan mempunyai penasihat keuangan dan hukum yang sama.

Marrota yang dihubungi media minggu lalu ia menolak mengenal Morris, Elite atau pun Jason. Tetapi kemudian berubah pikiran dan mengaku punya hubungan kemitraan dengan Morris agency dan Elite. Kepada surat kabar edisi Minggu itu ia menyatakan, ‘’Semua pemain saya ada di Eropa; Mike Morris dan Elite Sport mendapatkan prioritas. Saya tahu Elite Sport; Elite Sport adalah teman saya. Saya punya hubungan dengan mereka.’’ Tetapi ia tetap menolak terlibat dengan transfer Tim Howard.

Juru bicara United menyatakan bahwa ia tidak tahu menahu dengan hubungan ketiga agen tersebut. Ia juga menyatakan bahwa klub Juara Liga Inggris itu tidak mengetahui keterlibatan Morris atau Elite dalam transfer Tim Howard.

Salah satu Direktur United menyatakan,’’ Hubungan ini tidak diketahui oleh klub. Ini akan menimbulkan berbagai pertanyaan. Dalam deal yang saya tahu, tidak satu pihak pun (Marrota, Morris dan Elite) datang bersama atau memperlihatkan mereka saling berhubungan. Benar bahwa Marrota terlibat dalam deal itu, tetapi dua yang lain kami tidak tahu.’’

Dan pada hari Jumat, Jason membantah perusahaannya punya persetujuan dengan Marotta dan ketrelibatan Elite dengan transfer Tim Howard. ‘’Tidak ada persetujuan kemitraan antara perusahaan kami dan Marrota. Kita tidak terlibat dengan transfer Tim Howard,’’katanya.

Sepertinya, meskipun biasanya target yang diincar United akan selalu mereka dapatkan, namun juga selalu menimbulkan kontroversi atau masalah.***


Figur yang Menjadi Sorotan:

Tim Howard

Pembelian penjaga gawang asal Amerika Serikat yang tidak dikenal di Inggris oleh Manchester United dari awal memang telah menimbulkan perhatian media. Berita yang diangkap saat itu adalah seorang pemain yang menderita sejenis penyakit syaraf (debiliatating neurological disorder) bergabung dengan klub paling terkenal di Inggris.

Tim Howard menderita apa yang disebut dengan Tourette’s Syndrome, yaitu penyakit yang bisa menimbulkan kejang-kejang dan kemarahan dengan mengeluarkan makian dan kata-kata kotor yang tidak terkontrol.

Namun pada kenyataannya, Tim Howard tidak menampakkan tanda-tanda penyakit itu pada penampilannya. Tetapi, perhatian media dan publik adalah ia punya potensi akan bermasalah dengan wasit (berupa kemarahan) selama pertandingan. Tidak ada sama sekali perhatian akan sisi bisnis dari transfernya saat itu.


Jason Ferguson

Empat tahun lalu, Jason Ferguson adalah produser program siaran langsung Premier League di Sky Sport, televisi kabel Inggris pemegang hak siar Liga Inggris. Kemudian ia berganti karier dalam bisnis agensi olahraga yang menghasilkan sukses.

Sekarang ia berusia 31 tahun, tinggal bersama istrinya di sebuah rumah seharga 600 ribu pound di Crewe, Cheshire Inggris Tengah. Mengendarai Jeep Cherokee seharga 30 ribu pound dan salah satu direktur utama di Elite Sports Group.

Menurut media Inggris, salah satu kunci suksesnya, disamping tentu saja posisinya sebagai anak dari manajer Manchester United, adalah hubungannya dengan Morris’s World Football Firm.
Secara tertulis mereka tidak punya hubungan, tidak pula saling memegang jabatan di masing-masing perusahaan mereka. Tetapi, dokumen yang ditemukan The Sunday Times memperlihatkan dekatnya hubungan diantara dua agen sepakbola tersebut.

Morris sering berada dikantor Elite di Manchester, yang juga membayar tagihan hand phone-nya. Sekretaris Perusahaan Elite, Stephen Tatlock, seorang akuntan di Manchester, adalah juga Penasihat keuangan Morris’s dan sering pergi ke Monaco (kantor pusat Morris’s) untuk urusan bisnis perusahannya.

‘’Direktur Elite dan Mike Morris tidak akan mengambil keputusan tanpa mendikusikannya bersama,’’kata sumber dekat Elite. ‘’Deal mereka dilakukan bersama, mereka juga saling bertemu setiap saat. Mike Morris selalu duduk di kursi Elite tetapi tidak ada perjanjian tertulis diantara mereka’’.

Hubungan antara Jason Ferguson dan Morris pertama diketahui setelah transfer 15 juta pounds Jaap Stam, pemain United asal Belanda ke Lazio di tahun 2001. Deal ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Elite dibentuk. Transfer yang direstui Sir Alex Ferguson itu bahkan hampir komplet sebelum Stam tahu bahwa dirinya dijual.

United membantah adanya link khusus mereka dengan Elite dan Morris's. Kenyataannya, Jason Ferguson tidak hanya menegosiasikan kontrak baru ayahnya di United tetapi juga mewakili figur penting di Old Trafford yang lain seperti Ryan Giggs, salah satu pemain top United.

Bukti lain, Morris dan Francais Martin, Direktur Elite ,beberapa waktu lalu juga ikut dengan rombongan United dalam pre season tour ke Amerika. Martin adalah figur kunci di Elite, perusahaan yang dibangunnya bersama Jason Ferguson dan David Gardner, mantan pemain muda United dan sahabat dekat David Beckham. Martin juga teman dekat Morris dan satu-satunya agen dari Elite yang terdaftar di FIFA.

Awal tahun lalu, Sunderland mencurigai Jason Ferguson dan Morris untuk membujuk David Bellion dan berusaha memboyongnya ke Old Trafford. Morris adalah agen David Bellion. Menurut dokumen yang ditemukan The Sunday Times, Morris mendapatkan 359 ribu pound dari United untuk mendapakan pemain muda asal Prancis itu.

Dalam transfer Tim Howard, United menyewa Gama Sport, agen asal Swiss milik Gaetanno Marotta, nama yang tidak terkenal di antara klub-klub elit sepakbola Eropa. The Sunday Times menemukan bukti pembayaran dari perusahaan Marrotta sebesar 138,8 ribu pound yang tertulis dalam bahasa Prancis sebagai ’’komisi atas pembelian Tim Howard oleh Manchester United FC’’.***


Friday, January 02, 2004

Strategi Jangka Panjang Dominasi Manchester United
(Jawa Pos, Sabtu 3 Januari 2004)

Nurani Susilo, London

Posisi teratas diawal tahun 2004 dan kandidat kuat untuk merebut juara Liga kesembilan kali dalam 12 musim, adalah bukti kuatnya posisi Manchester United di Liga Inggris. Kabar buruk bagi klub lain, kini Manchester United tengah mengkonsolidasi timnya dengan kontrak-kontrak baru tidak lama lagi sebagai pendukung strategi mempertahankan dominasi mereka.

Mungkin, yang paling signifikan adalah kontrak baru bagi manajer Sir Alex Ferguson yang akan membuat pria asal Skotlandia itu berada di Old Trafford dua atau tiga musim lagi. Dan seperti ketika pertama kali datang ke United dari Aberdeen 17 tahun lalu, Ferguson juga akan memulai kembali regenerasi tim yang tujuan utamanya meraih sukses kedua di Liga Champion, setelah sukses di tahun 1999.

Proses ini akan diperkuat dengan komitmen Ruud van Nistelrooy untuk tetap di United yang mungkin akan menjadi tahun-tahun terbaik kariernya. Pemain asal Belanda ini masih punya 2,5 tahun tersisa di kontraknya. Tetapi United paham bahwa sudah saatnya Van Nistelrooy bergabung dengan pemain dengan gaji tertinggi.

Di United, tidak ada pemain lain yang akan melebihi GBP 90 ribu per minggu yang diperoleh kapten Roy Keane. Namun, dengan 96 gol dalam 124 penampilan akan menempatkan pendapatan baru pemain yang berusia 26 tahun itu tidak akan jauh dibawah Keane.

‘’Pembicaraan berjalan sangat baik dan saya positif dengan hasil yang akan dicapai,’’kata Van Nistelrooy kepada MUTV. ‘’Saya tidak melihat adanya masalah karena itu negosiasi akan segera rampung. The Manajer menreti apa yang saya raskan dengan klub,. Saya ingin tetap disini untuk waktu yang lama, karena itu saya sangat gembira segala sesuatunya berjalan dengan baik,’’paparnya.

Cedera menimpa Van Nistelrooy akan membuat United pincang, itulah mengapa Ferguson tengah berburu striker pengganti seperti Mark Viduka (Leeds) dan Louis Saha (Fulham). Ia tidak akan membiarkan timnya tanpa cadangan diparuh kedua musim ini. Tetapi juga manajer United bersiap untuk membeli pemain lain untuk mendukung rencana jangka panjangnya.

Liam Miller, pemain tengah Celtic diberitakan The Times akan segera hijrah ke Old Trafford Januari ini atau sebelum musim baru dimulai . Miller disiapkan sebagai pengganti Roy Keane jika suatu saat tiba waktunya United kehilangan pemain asal Irlandia itu.

Selain itu Kleberson (24) dan Eric Djemba Djemba (22) juga tengah dalam proses menjadi pemain tengah yang matang. Ferguson bahkan juga mengincar Arjen Robben (PSV Eindhoven) pemain muda berbakat disektor kiri tengah dan Vincent Kompan (Anderlecht) , pemain belakang berusia 17 tahun asal Belgia.

‘’Kita tengah membangun tim baru,’’kata Ferguson mantap seperti dikuti media-media Inggris. Pekerjaan yang tidak gampang karena dilakukan bersamaan dengan mempertahankan standar tinggi United yang telah ada selama lebih dari satu dekade.

Setelah pengalaman pahit gagal mendapatkan Ronaldinho dan Harry Kewell musim transfer lalu. Tetapi sukses dengan Tom Howard dan Cristiano Ronaldo (17), yang masuk dalam strategi jangka panjangnya. Januari ini Ferguson punya dana yang cukup untuk membuat kejutan ketika pintu transfer kembali di buka.***
Roberto Mancini Kandidat Kuat Arsitek Tottenham Hotspur
Hasil Rekomendasi Eriksson Saat Makan Siang
(Jawa Pos, Jumat, 02 Jan 2004)

Jebloknya performa Tottenham Spurs hingga paro musim Premier League Inggris mencuatkan spekulasi baru. Pelatih sementara David Pleat dikabarkan bakal segera kehilangan kursinya.

NURANI SUSILO, London

Allenatore SS Lazio Roberto Mancini tiba-tiba menjadi perbincangan komunitas sepak bola Inggris. Terutama suporter dan keluarga besar klub Tottenham Hotspur. Ini terkait rumor bahwa Mancini bakal menjadi arsitek baru di klub dari London Utara itu.

Kabar ini berawal ketika Chairman Tottenham Daniel Levy bertemu arsitek Timnas Inggris Sven Goran Eriksson di Hotel Doncaster, November lalu. Acara makan siang itu diisi dengan pembicaraan mengenai metode pelatih dan kandidat untuk mengisi kekosongan posisi manajer Spurs sejak ditinggalkan Glenn Hoddle. Namun, kemudian diyakini bahwa nama Mancini-lah yang didiskusikan hari itu.

Rumor semakin berhembus kencang munyusul kabar krisis finansial yang menerjang Lazio. Mancini, yang adalah mantan pemain kunci dan kemudian menjadi asisten pelatih bagi Eriksson di Sampdoria dan Lazio, dikabarkan sangat frustasi dengan kondisi tersebut. Selain itu, hubungannya dengan sejumlah pemain seperti Simone Inzaghi dan Dejan Stankovich juga memburuk dalam beberapa bulan terakhir.

"Kita telah mempelajari sebuah proyek bersama, tetapi itu tidak kunjung dimulai," kata Mancini beberapa waktu lalu berbicara tentang Tottenham, seperti dikutip Guardian. "Saya masih di Lazio hanya karena ikatan emosional saya dengan klub ini. Semua pihak terus berbicara, tetapi mereka tidak tahu apa-apa. Saya harap sesuatunya akan segera jelas karena para pemain membutuhkan kejujuran," tambahnya.

Namun begitu, Mancini sebagai salah satu pemegang saham dan juga direktur di Lazio, tampaknya, akan kesulitan untuk memutus kontraknya dipertengahan musim, kendati dia bisa dipastikan tidak akan lagi menjadi pelatih di klub itu musim depan. Kejelasan bakal terungkap setelah 17 Januari nanti ketika para petinggi Lazio mengadakan pertemuan.

Pada musim pertamanya di Lazio sebagai pelatih penuh, Mancio - sapaan akrab Mancini -langsung menggebrak membawa timnya lolos ke Liga Champion musim ini. Sayang, Lazio akhirnya di posisi terbawah putaran grup dan tempat di Piala UEFA pun tidak mereka dapatkan. Pelatih berusia 39 tahun ini juga sempat dihubungkan dengan posisi di Inter Milan. Tapi, sukses Alberto Zaccheroni (allenatore baru Inter) mementahkan kemungkinan itu.

Itulah sebabnya, Mancini terus mengadakan kontak dengan teman dekatnya, mantan arsitek Chelsea Gianluca Vialli yang dikabarkan telah memberikan gambaran mengenai Liga Inggris dan apa yang akan ia dapatkan di White Hart Lane (markas Tottenham). Mancini juga pernah bermain sebentar di Inggris untuk Leicester di bawah besutan Peter Taylor pada 2001.

Nah, bila Mancio jadi ke Spurs, Daniel Levy dikabarkan bakal tetap mempertahankan David Pleat pada posisinya sebagai direktur sepak bola klub tersebut. Pemikiran itu juga yang turut berkonstribusi hingga muncul nama Mancini yang disebutkan Pleat cocok untuk "continental style management", manajemen gaya Eropa Daratan. Manajemen gaya Eropa yang diharapkan petinggi Tottenham itu sekaligus juga memperkecil peluang kandidat lain seperti Martin O’Neill (Celtic), Graeme Souness (Blackburn), dan Alan Curbishley (Chalton).

Sementara itu, usai pertandingan melawan Chalton yang berakhir dengan kekalahan Spurs 0-1, Pleat berkata," Saya mengerti bahwa saya akan tetap menjadi caretaker sampai akhir musim, itu yang diindikasikan oleh para direktur. Tetapi, tidak berarti situasi tidak akan berubah". Dan, kekalahan beruntun empat kali yang melemparkan Tottenham ke posisi ke-18 membuat semuanya kemungkinan bisa terjadi. Mancio pun bisa datang lebih cepat.